Agar Mendapat Perhatian Serius, Panglima TNI Ajak Ketua DPR-RI Tinjau Pos Pamtas di Pulau Sekatung

“Kalian harus bangga karena terpilih untuk ditugaskan di Pulau Terdepan, karena tidak semua prajurit TNI terpilih atau berkesempatan melaksanakan operasi di Pulau Terdepan. Ini akan jadi pengalaman kalian sepanjang hidup,” ujar Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Hal yang sama juga diucapkan oleh Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo. “Kalian adalah prajurit yang luar biasa, karena tidak semua prajurit ditugaskan di Pulau Terluar kalau tidak berprestasi dan memiliki dedikasi yang luar biasa,” ucapnya.

Ungkapan bangga itu dilontarkan Panglima TNI serta Ketua DPR-RI dan Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang yang diajak Panglima TNI mengunjungi Pulau Sekatung yang merupakan salah satu pulau terdepan di wilayah Indonesia, Senin (23/4/2018).

Pulau Sekatung berada di ujung paling utara dari gugusan pulau di wilayah Kabupaten Natuna.

Panglima TNI memberikan pengarahan kepada prajurit TNI. Foto: beny adrian/mylesat.com

Pulau Sekatung berada di sebelah utara Pulau Laut dan dipisahkan oleh Selat Setakong dengan lebar sekitar 40 meter. Pulau seluas 1,65 meter persegi ini berbatasan langsung dengan Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Pulau Sekatung memiliki iklim tropis basah dengan suhu udara berkisar 23-32 derajat Celsius. Iklim di pulau ini dipengaruhi oleh perubahan arah angin, yaitu Angin Muson Timur (Mei-September) dan Angin Muson Barat (November-Maret). April dan Oktober merupakan masa transisi antara kedua angin tersebut.

Musim kemarau biasanya terjadi pada Maret hingga Mei, ketika angin bertiup dari arah utara.

Sedangkan musim hujan terjadi pada September hingga Februari, saat angin bertiup dari arah timur dan selatan. Curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 2000 mm dengan kelembaban udara sekitar 85%.

Di Pulau inilah TNI mendirikan Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas). Secara bergantian setiap sembilan bulan sekali, TNI menempatkan prajuritnya di Pos ini.

Mereka berjumlah 20 orang, yang masing-masing terdiri dari 10 prajurit Brigif 2 Marinir dan Batalyon Infanteri Raider Khusus 134/Tuah Sakti. Pos Pamtas ini dipimpin oleh Serka Marinir Wanto.

“Kapan kalian kembali,” tanya Panglima TNI menyapa para prajurit.

Rupanya saat itu adalah minggu-minggu terakhir sebelum Tim ini ditarik dan kemudian diganti oleh tim yang baru. Kepada Marsekal Hadi, para prajurit yang sudah berkeluarga mengaku hanya membawa ikan asin sebagai oleh-oleh untuk keluarga. Karena memang hanya hasil laut yang bisa dijadikan buah tangan dari Sekatung.

Tidak hanya prajurit, warga Sekatung pun antusias mendengarkan pengarahan Panglima TNI. Dalam kesempatan itu, Panglima TNI langsung meminta para Asistennya untuk menindaklanjuti masukan prajurit. Foto: beny adrian/mylesat.com

Sebagai prajurit yang bertugas di Pulau Terdepan, mereka berhak menerima tunjangan Pulau Terdepan yang jumlahnya mencapai 150 persen.

Dalam peninjauannya, Panglima TNI memang lebih banyak menanyakan soal kesejahteraan dan pemenuhan sandang-pangan bagi prajurit.

Namun dengan kondisi yang serba keterbatasan di Sekatung, tidak terhindarkan para prajurit TNI ini pun harus menghadapi kenyataan yang ada.

Mereka harus pintar-pintar membangun hubungan baik dengan masyarakat, agar bisa mendapatkan, katakanlah sayuran. Selain itu, diakui para prajurit, mereka juga menanam pohon cabai dan tanaman lainnya untuk keperluan pangan. Termasuk memelihara ayam.

Usai memberikan arahan dan tanya jawab dengan prajurit TNI-Polri dan warga Pulau Sekatung, Panglima TNI meninjau bangunan Pos Pamtas.

Saat ditinjau Hadi, kondisi bangunan sudah sangat layak. Bahkan Serka Wanto mengaku sudah nyaman dan bagus. “Kami sudah nyaman dan bagus, sehingga untuk menghadapi cuaca ekstrem kami sudah terlindungi,” ungkapnya dengan suara lantang kepada Panglima TNI.

Begitupun dengan Kaporlap, mendapat dukungan dari Kodam yang terdiri dari perlengkapan PDL, helm, logistik dan lain-lain.

Sementara untuk melaksanakan patroli perairan, Tim Pamtas menggunakan dua perahu karet motor tempel 40 PK dan perahu pompong bermesin diesel.

Tak cukup bertanya, Hadi pun mengecek ruang tidur prajurit. Lemari pakaian dibuka dan diperiksa isinya. Begitu juga dengan kamar mandi yang meski bersih, sedikit agak bau.

Serka Marinir Wanto, Komandan Pos Pamtas Pulau Sekatung. “Nama kamu pendek sekali,” celetuk Panglima TNI. Foto: beny adrian/mylesat.com

Bisa jadi aroma tidak sedap di kamar mandi ini dikarenakan sulitnya mendapatkan air bersih di Sekatung.

Lagi-lagi Serka Wanto buka suara, dengan mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan air bersih sangat sulit karena hanya mengandalkan air hujan.

“Kami kalau mau mandi harus tunggu air hujan, sedangkan air bersih untuk minum dan masak kami beli di Pulau Laut,” akunya.

Wanto juga tidak lupa melaporkan kurangya obat-obatan di Pos Pamtas. Begitu juga dengan perangkat komunikasi, masih terbatas.

Namun saat persoalan komunikasi ini disampaikan, Asisten Komunikasi dan Elektronik Panglima TNI, Marsda TNI Bonar Hutagaol langsung menyela. “Siap, besok sudah bisa Panglima,” ujarnya.

Memang di Sekatung komunikasi masih persoalan utama. Hal yang sama dikeluhkan warga Sekatung kepada Panglima TNI, yang berharap bisa memperluas jaringan dan kualitas sinyal. Karena di Pulau Laut yang persis di depan mata Sekatung, menggunakan telepon selular bukanlah persoalan.

Letak Pulau Sekatung yang langsung menghadap Laut China Selatan.

Masih banyaknya infrastruktur yang belum siap di Sekatung, juga disampaikan Camat Pulau Laut, Sudirman. Seperti masalah listrik, sudah ada kemajuan dalam dua bulan terakhir dengan tersedianya listrik meski hanya malam hari saja. “Kami ingin listrik 24 jam,” katanya mewakili warga.

Sudirman juga menyuarakan keinginan warga memiliki jalan lingkar di sepanjang pesisir Sekatung.

Hebatnya, tidak hanya menyuarakan warganya, Sudirman juga menyampaikan keprihatinannya melihat kondisi prajurit TNI di Pos Pamtas.

“TNI di sini fasilitasnya sangat terbatas dan kami prihatin dengan kondisi kawan-kawan ini. Mau komunikasi susah, transportasi terbatas, kalau ada kapal asing tidak bisa dikejar,” ujarnya yang langsung diacungi jempol oleh Panglima TNI atas perhatiannya kepada prajurit.

Atas semua masukan dan harapan warga ini, Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo berjanji akan memanggil menteri terkait. “DPR akan meminta Komisi I memanggil Menkominfo untuk memperhatikan jaringan di sini. Lalu minta Komisi V memanggil menteri PU untuk mewujudkan jalan lingkar di Pulau Sekatung, juga Komisi 6 memanggil Dirut PLN agar bisa listrik 24 jam,” ungkapnya.

Panglima TNI memeriksa lemari pakaian prajurit. Foto: beny adrian/mylesat.com

Kepada anggota TNI dan Polri, Bambang juga menyampaikan akan berjuang meningkatkan gaji dan tunjangan prajurit. “Kami tahu gaji dan tunjangan prajurit itu rendah sekali, tidak seimbang dengan tugas dan beban. Kepada penduduk di sini, tolong bantu prajurit kita, mereka di sini menjaga kedaulatan NKRI,” ajak Bambang.

Tak lupa Bambang menyakinkan para prajurit, bahwa Panglima TNI pasti akan memberikan apresiasi kepada dalam bentuk pendidikan dan kenaikkan pangkat.

“Saya titip anak-anak saya di sini, mereka ditugaskan oleh negara untuk menjaga pulau terdepan NKRI. Saya yakin dengan situasi wilayah seperti ini, keakraban pasti terjaga. Apabila ada keperluan menyangkut kemampuan TNI dan Polri di sini, jangan segan-segan meminta bantuan. Kalau ada prajurit yang menyakiti hati rakyat, jangan segan untuk melaporkan karena ada pimpinannya,” ujar Panglima TNI kepada warga yang berkumpul di bawah pohon.

Diakhir kunjungannya di Pulau Sekatung, Panglima TNI tidak lupa memberikan bingkisan berupa peralatan olahraga dan dana Kodal untuk prajurit.

 

Tek: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: