AS Keluarkan NOTAM Ancaman Sinar Laser di Wilayah Djibouti

Pejabat militer Amerika Serikat memperingatkan para penerbang atas aktivitas laser yang tidak dikenal di Djibouti, sebuah negara Afrika Timur di Teluk Aden.

“Ada banyak sorotan laser yang di antaranya berkekuatan tinggi di sekitar N1135.70 E04303.14. Tingkatkan kewaspadaan jika transit di dekat wilayah ini,” bunyi NOTAM dari militer AS.

Koordinat ini diketahui berada di laut, 750 meter dari pangkalan militer baru China di Djibouti.

NOTAM dikeluarkan di situs FAA (Federal Aviation Administration) pada 14 April lalu dan berakhir pada 14 Juni.

Sejumlah sumber intelijen melaporkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) dicurigai mengoperasikan senjata penguat daya tinggi di pangkalan atau di kapal lepas pantai.

Sinar laser sangat membahayakan penerbangan, karena sorotannya yang kuat bisa membutakan pilot sesaat. Menurut FAA, ancaman sinar laser yang bisa dibeli bebas itu bisa membahayakan pesawat yang terbang di bawah 11.000 kaki.

Dianggap mainan, sinar laser portabel sangat membahayakan penerbangan. Foto: express.co.uk

Pada tahun 2015, Airbus berkolaborasi dengan perusahaan rekayasa optik Lamda Guard dari Kanada untuk mengembangkan film transparan.

Kaca film ini bisa dipasang di jendela kokpit untuk melindungi pilot dari sinar laser yang menyilaukan. Film yang dikembangkan ini memiliki kemampuan memblokir cahaya laser hijau 532 nanometer yaitu jenis yang paling umum digunakan dalam insiden pesawat.

Saat Perang Dingin, penerbang Angkatan Laut AS seringkali mendapat serangan laser dari kapal AL Soviet dan kapal ikan mata-mata (spy trawlers).

Serangan sinar laser terhadap penerbangan juga pernah terjadi di Indonesia, dan telah mendapat pengawasan keras dari aparat kepolisian.

Di banyak negara termasuk AS sendiri, penggunaan sinar laser yang sembarangan telah menjadi kewaspadaan nasional.

Otoritas penerbngan Inggris CAA (Civil Aviation Authority) mencatat pada tahun 2015, hampir 4.000 serangan laser terjadi terhadap penerbangan dan helikopter di bandara Inggris selama tiga tahun.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: