Museum Sasmitaloka Jenderal Soedirman Berbenah, Panglima TNI Apresiasi Kerja Tim Revitalisasi

0

Setelah enam bulan lebih satu hari, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kembali mengunjungi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman, Kamis (20/9/2018).

Museum yang berada di Jalan Bintaran Wetan No. 3, Yogyakarta itu memang sudah terlihat berbeda dibanding enam bulan yang lalu.

Terakhir kali Panglima TNI menyambangi Museum ini pada Senin sore (19/3/2018), usai melaksanakan serangkian kegiatan di Akademi Militer Magelang dan SMA Taruna Nusantara.

Dalam kunjungan terdahulu, Hadi memang meminta jajarannya untuk memperhatikan Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ketika itu pula Marsekal Hadi memerintahkan untuk merenovasi dan memperbaiki bagian bangunan yang mulai rusak.

Tidak hanya itu, Hadi juga meminta untuk membuat suasana di dalam Museum lebih interaktif dengan menampilkan informasi secara digital. “Supaya anak-anak millenial mau datang ke sini melihat warisan sejarah, jadi harus lebih informatif,” ujar Hadi.

“Ini bangunan bersejarah, yang menentukan awalnya NKRI itu dari sini,” ujar Marsekal Hadi lagi.

Kunjungan Panglima TNI ke Museum Sasmitaloka dilaksanakan usai ziarah ke Makam Panglima Besar Jenderal Soedirman. Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916, dan meninggal di Magelang pada 29 Januari 1950.

Dirut Pindad memperlihatkan visual tiga dimensi revitalisasi Museum kepada Panglima TNI. Foto: beny adrian/ mylesat.om

Bagi TNI, jelas Hadi, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki peran penting sebagai situs pelestari nilai-nilai kejuangan. Tak heran setiap Taruna Akademi TNI yang akan melaksanakan napak tilas rute perjuangan Jenderal Soedirman, wajib mengunjungi Museum ini.

Kunjungan itu dimaksudkan agar para Taruna mengetahui perjuangan gerilya Panglima Soedirman selama 3 bulan 28 hari di wilayah Yogyakarta.

Karena kunjungan Panglima TNI siang itu untuk mengecek proyek revitalisasi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, Marsekal Hadi pun langsung menerima penjelasan dari Kepala Dinas Sejarah TNI AD Brigjen TNI Djashar Djamil.

Bangunan Museum Sasmitaloka ini didirikan pada 1890. Awalnya digunakan sebagai rumah bendahara Kadipaten Yogyakarta.

Namun pada 1942, penggunaan bangunan beralih menjadi rumah dinas Kalapas Wirogunan. Kemudian dari 1945 sampai 1948 dijadikan rumah dinas Panglima Tentara Keamanan Rakyat yaitu Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Namun ketika Soedirman harus melaksanakan gerilya pada 1948, istri dan anak-anaknya dititipkan di Keraton Yogyakarta. Karena itu, bangunan ini menjadi kosong. Ketika Belanda menduduki Yogya, bangunan ini sempat dimanfaatkan sebagai markas intelijen Belanda.

Sebelum memulai gerilya, Soedirman terlebih dahulu pergi ke rumah dinasnya ini untuk mengumpulkan dokumen penting, lalu membakarnya agar tidak jatuh ke tangan Belanda.

Di tahun 1949, lagi-lagi Belanda menguasai bangunan ini dan dijadikan markas KMKB (Komando Militer Kota Besar) Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dipakai sebagai asrama prajurit Resimen Infanteri 13 hingga tahun 1968.

“Pada tahun 1968 bangunan ini digunakan sebagai Museum Pusat TNI Angkatan Darat, kemudian tahun 1982 diresmikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan statusnya okupasi dan status bangunan ini adalah bangunan Cagar Budaya Tingkat Nasional,” beber Kadisjarahad.

Barulah sejak Museum Pusat TNI AD dipindahkan ke Jalan Sudirman pada 1982, bangunan ini difungsikan sebagai Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman berdiri di atas lahan seluas 1.360 m2. Bangunannya sendiri memiliki luas 1.255 m2. Sejak 2010, Museum ini resmi sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional.

Di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman tersimpan 596 koleksi pribadi Jenderal Soedirman yang ditempatkan di 13 ruang pamer.

Sesuai perintah Panglima TNI, revitalisasi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman  dilaksanakan dalam dua tahap.

Tahap 1 yang dilaksanakan PT Pindad meliputi perbaikan sisi bangunan. Seperti saat dikunjungi Panglima TNI, di bagian depan sudah dibangun taman. Nantinya di sini akan dibangun taman air, yang filosofinya diambil dari kebiasaan Jenderal Soedirman yang selalu mengambil air wudhu.

Menurut Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose, saat ini sedang berlangsung perbaikan fisik bangunan. Setelah itu masuk ke Tahap 2 yaitu melengkapi koleksi Jenderal Soedirman dan membuat profil Jenderal Soedirman yang sifatnya diorama sehingga bisa berinteraksi dengan pengunjung.

Di sejumlah ruangan nantinya akan dipasang media interaktif dengan konten berbasis teks, gambar bergerak, animasi, video, dan audio. Sehingga pengunjung bisa lebih mudah memperoleh informasi terkait Jenderal Soedirman.

Begitu juga dengan benda-benda pribadi Jenderal Soedirman, semuanya akan ditutup kaca guna menghindari dari kerusakan akibat dipegang.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply