Xi’an Y-20 Kunpeng, Upaya China Tandingi Il-76 dan C-17 Globemaster III

0

Apa yang tidak bisa dibuat oleh China? Pernyataan sederhana namun terbukti. Termasuk pesawat jet bermesin empat Xi’an Y-20, yang merupakan pesawat angkut berukuran besar pertama buatan China.

Y-20 disebut China setanding dengan Ilyushin Il-76 dan Boeing C-17 Globemaster III. Benarkah?

Adalah tentara China (PLAAF) yang awalnya membeli 14 angkut pesawat Il-76MD dari Rusia pada 1990. Pesawat dibeli untuk menyediakan kemampuan angkut strategis.

Namun upaya untuk membeli tambahan pesawat mengalami masalah pada 2006. Persisnya saat kesepakatan untuk membeli 34 Il-76MD dan empat pesawat pengisian bahan bakar di udara Il-78M dari dan Uzbek, gagal total.

Sebagai hasilnya, China mendekati Antonov Aeronautical Scientific-Technical Complex (Antonov ASTC) untuk meminta bantuan mengembangkan pesawat angkut militer berukuran besar.

Antonov ASTC meneken kesepakatan kerja sama tahun 2000 dengan Aviation Industry Corporation of China II (AVIC II, sekarang AVIC).

Bunyi kesepakatannya adalah melakukan upgrade terhadap pesawat angkut China.

Awalnya Antonov ASTC menawarkan pesawat propfan An-70, namun oleh China ditolak. Alasannya, An-70 hanya mampu mengangkut 47 ton kargo, sementara tank tempur utama (MBT) China yaitu ZTZ99 memiliki bobot 48 ton.

Jika ditambahkan tanki bahan bakar cadangan dan lapis baja penguat, bobotnya membengkak jadi 50 ton. Selain itu PLAAF tidak suka dengan jangkauan terbangnya yang hanya 1.350 km dengan beban maksimum, plus mesin D-27 yang tidak bisa diandalkan.

Pihak China lantas meminta pesawat angkut baru yang ditenagai mesin baru yang sedang diuji Rusia yaitu D-30KP-2 dan digunakan oleh Il-76MD.

Industri penerbangan China saat itu sebenarnya sudah dalam proses rekayasa teknik mesin WS-18. Namun singkat kata, Antonov ASTC setuju untuk mengakomodasi permintaan China.

Lantas disiapkan kelompok kerja VTL (Heavy Transport Aircraft) pada awal 2007 untuk mulai mengembangkan pesawat angkut menggunakan basis desain An-77, yang pada dasarnya An-70 bermesin jet.

An-77 awalnya menggunakan empat mesin CFM56-5A16 bypass turbofans, yang coba ditiru China di bawah proyek WS-20. Bagaimanapun, kemudian diganti dengan empat mesin D-30KP-2 turbofan.

Airframe An-77 diperpanjang dua meter untuk menambah volume kabin. Berat lepas landas juga ditingkatkan dari 132 ton menjadi 187 ton, dan muatan maksimum naik dari 47 ton menjadi 50 ton.

Desain pesawat baru ini kemudian diberi kode Y-XX, berjalan selama tiga tahun. Pesawat inilah yang kemudian diberi nama resmi Y-20. Tak lama kemudian, Y-20 menerima dua jukukan, yaitu Kunpeng dan Chubby Girl.

Kunpeng adalah burung dalam mitos China yang mampu terbang ratusan mil.

Seiring waktu berjalan, pada 2010 semakin jelas bahwa desain awal dari An-77 ini terbukti tidak mampu mengakomodir kebutuhan PLAAF, terutama dengan mulai beroperasinya MBT ZTZ99A2 seberat 58 ton.

Hasilnya, Antonov ASTC mengubah sama sekali desain dengan basis berbeda yaitu An-170. Pesawat ini dikembangkan pada akhir 1980 hingga awal 1990 untuk memenuhi permintaan AU Rusia untuk menggantikan Il-76.

An-170 jelas lebih besar dan lebih berat dari An-70. An-170 memiliki berat lepas landas 230 ton dan muatan maksimum 60 ton.

Dengan cepat tawaran ini diterima militer China. Terbang perdana Xi’an Y-20 dilaksanakan pada Januari 2013. Dua contoh produksi pertama, Y-20A, dikirim ke PLAAF pada Juli 2016.

Y-20 dan proyek lainnya seperti pembom strategis Xi’an H-6K, masih mempertahankan produksi mesin D-30KP berusia 30 tahun. China pertama kali menandatangani kontrak dengan Rosoboronexport pada April 2009 untuk pengiriman 55 mesin D-30KP-2 dalam lima batch pada 2012.

Ini diikuti pesanan lebih besar untuk 184 mesin D-30KM-2 baru pada akhir 2011, yang dikirim lebih dari empat tahun.

Secara desain Y-20 menerapkan model sayap tinggi (high-wing), empat mesin, ekor vertikal model T yang serupa dengan Boeing C-17 Globemaster III meski secara ukuran lebih kecil.

Muatan maksimal Y-20 disebutkan sekitar 60-65 ton dan berat maksimum lepas landas (MTOW) mencapai 220 ton, masih di bawah C-17 yang mencapai 265.350 kg.

Roda pendarat utama terdiri dari dua bagian dengan masing-masing enam roda, yang memungkinkannya beroperasi di landasan tidak beraspal.

Fuselage Y-20 lebih pendek namun lebih besar dari Il-76MD, yang membuatnya bisa membawa peralatan berat seperti MBT, ranpur, artileri berat, dan rudal.

Y-20 diperkirakan sudah mengaplikasikan teknologi navigasi yang digunakan di pesawat komersial. Seperti glass cockpit dengan HUD (head-up displays).

Y-20 kemungkinan juga dilengkapi fitur electronic warfare and countermeasures (EW/ECM) yang menggunakan jammer dan flare untuk bela diri.

Y-20 menggunakan empat mesin turbofan D-30KP-2, yang masing-masing memiliki daya 118 kN (12,000 kgf).

China yang mengembangkan mesin ini menjadi WS-18, kemungkinan di masa depan akan menggunakannya untuk Y-20A.

Selain itu China juga mengembangkan mesin lebih kuat yaitu WS-20, dengan daya dorong 157 kN (16,000 kgf). Mesin ini sudah terlihat diuji menggunakan prototipe Y-20A.

Setidaknya dua pesawat Y-20 Kunpeng terlihat di Pangkalan Udara Qionglai sejak Juli 2016. Setahun kemudian jumlahnya menjadi tiga pesawat yang digunakan PLAAF.

Kemudian sebuah satelit komersial menangkap lima Xi’an Y-20 terlihat di Pangkalan Udara Qionglai di dekat Chengdu.

Meski harus membuktikan ketangguhannya di masa depan, khususnya terhadap rivalnya Il-76 dan C-17, namun China sudah melampaui tahap kritis pengembangan pesawat.

Waktu akan membuktikan kehebatan pesawat ini. Y-20 akan ditempa pengalaman operasi, yang pada gilirannya akan membuat desainya semakin sempurna dan andal.

Spesifikasi Y-20

  • Tipe: pesawat angkut
  • Terbang perdana: 26 Januari 2013
  • Diperkenalkan: 6 Juli 2016
  • Operator: PLA Air Force
  • Kru: 3-4
  • Panjang: 49 m
  • Rentang sayap: 50 m
  • Permukaan sayap: 310 m2
  • Tinggi: 15 m
  • Berat kosong: 100 ton
  • Muatan maksimum: 60-65 ton
  • Kecepatan maksimum: 750-800 km/jam
  • Tinggi terbang: 13.000 m
  • Jangkauan: 4.400 km
  • In-flight refuelling: Tidak ada

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply