Usai menyambut dan menerima arahan dari Presiden Joko Widodo yang tiba menggunakan pesawat Boeing B737-400 A-7305 di Bandara Mutiara Syekh Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018) pukul 12.45 Wita, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bergerak cepat.
Tidak ikut mendampingi Presiden Jokowi meninjau lokasi gempa di Palu, Panglima TNI didampingi Pangkostrad Letjen TNI Andika Perkasa langsung menuju Desa Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Tentu seizin Presiden, Hadi pun menuju lokasi tanpa pengawalan.

Panglima TNI langsung disambut salah seorang warga Hamra Usman yang rumahnya turut hancur saat gempa. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Hanya menggunakan tiga mobil kecil dan satu truk milik Yonif 711 yang mengangkut pasukan Marinir. “Biar gerak cepat, bawa Marinir langsung agar bisa membantu warga,” jelas Hadi.
Setibanya di Desa Petobo, Panglima TNI langsung disambut wajah-wajah muram dan putus asa warga. Sebuah “bukit kecil” menutupi jalan, yang mendadak muncul pasca permukaan tanah bergulung-gulung bak ombak di lautan menerjang Petobo.
Untuk melihat kerusakan, Panglima TNI langsung naik ke atas gundukan tanah dengan tinggi sekitar delapan meter ini. Menurut warga, gundukan mirip bukit kecil ini memanjang sekitar dua kilometer.

Marsekal Hadi memimpin langsung peninjauan ke Desa Petobo yang hancur. Foto: beny adrian/ mylesat.com
“Panggil Marinir ke sini, cepat buat jembatan kecil di situ, itu semen-semen singkirkan,” perintah Hadi kepada Asops Panglima TNI Mayjen TNI Ganip Warsito.
Karena gempa dahsyat, permukaan tanah jadi bergeser sehingga saluran air tersendat dan kemudian menggenangi akses naik ke gudukan. Di atas saluran inilah jembatan kecil dibangun sesuai perintah Marsekal Hadi.
“Dirikan tenda segera, kirim kantong mayat ke sini, saya tidak akan kembali sebelum tendanya berdiri,” tegas Hadi yang bercucuran keringat.

Presiden Jokowi memimpin rapat darurat di bagian depan terminal bandara yang mengarah ke apron. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Ketika tiba di atas gundukan, Hadi langsung disambut Hamra Usman (61), salah seorang warga yang rumahnya sudah hancur. Dengan golok terselip di pinggangnya, Hamra terlihat emosi. Di dekat situ juga ada seorang ibu muda yang terus menangis.
“Kalau bukan orang Petobo, jangan coba-coba ke sini, akan saya habisi,” urai Hamra setengah berteriak saat Panglima TNI tiba.
Kepada Panglima TNI, Hamra pun menceritakan kejadian yang dialaminya saat gempa. Begitu bumi bergoyang, ia melihat tanah bergulung-gulung seperti ombak, permukaan tanah kemudian pecah dan menganga, lalu menutup kembali.

Kondisi terminal Bandara Mutiara yang berantakan. Foto: beny adrian/ mylesat.com
“Tanahnya terus bergulung sampai berhenti di dekat rumah sakit itu,” katanya menunjuk ke arah sebuah rumah bersalin. Begitu gempa hebat itu berhenti, kampung ini pun berubah menjadi sebuah bukit kecil.
Hamra yang emosi mengaku harus waspada karena ada orang-orang tertentu yang ingin memanfaatkan situasi untuk mencuri atau menjarah. Sudah dua orang ia pergoki berusaha masuk ke dalam rumahnya yang sudah tidak berbentuk itu.
Sekitar dua jam Panglima TNI berada di Desa Petobo, sampai akhirnya satu tenda peleton didirikan di depan rumah bersalin. Bau busuk mulai tercium di mana-mana dari mayat yang tertimbun. Termasuk dari sebuah mobil Toyota Avanza yang tersungkur di dekat tiang BTS selular.
“Coba cari di sini, pasti ada mayat di sini,” ungkap Hadi sambil mencoba melihat ke dalam mobil itu.
Dari Petobo, Panglima TNI bergegas menuju Tempat Pemakanan Umum Peboyo Indah. Di TPU yang berada di atas bukit ini rencananya akan dijadikan kuburan massal bagi warga meninggal yang jumlahnya mencapai ratusan.
“Segera koordinasikan dengan pemerintah daerah, nanti kita makamkan secara massal di sini, Danrem tolong cek di mana lokasi excavator terdekat dari sini, segera bawa ke sini,” perintah Hadi lagi.
Sampai Minggu siang itu, sudah 820 prajurit TNI tiba di Kota Palu ditambah dua batalion dari Yonif 711 dan 714 Kodam XIII Merdeka. “Selasa besok akan datang tiga batalion dari Brigif 3 Kostrad sebanyak 1.200 orang. Saya dengar juga dua kompi Brimob dari Makassar,” ujar Panglima TNI.
Dijelaskan Hadi, ia meminta warga proaktif membantu TNI dalam proses pencarian korban. “Kami perlu bantuan warga untuk menentukan lokasi dimana kemungkinan banyak warga tertimbun,” kata Hadi.

Sebuah mobil Avanza tersungkur di dekat tiang BTS. Bau menyengat menebar dari dalamnya. Foto: beny adrian/ mylesat.com
“Perlu banyak alat berat dan personel di sini, mungkin bisa satu batalion kita kerahkan di sini,” ungkap Hadi lagi.
Sementara Menteri Sosial Agus Gumiwang mengatakan, pihaknya akan segera mengerahkan enam mobil dapur lapangan yang satu mobil bisa memasak 6.000 nasi bungkus sehari.
Saat memberikan arahan kepada pejabat terkait di Terminal Bandara Mutiara, Presiden Jokowi meminta optimalisasi kekuatan TNI membantu sesegera mungkin.
“Segera temukan korban dan evakuasi. Apabila banyak korban patah tulang dan tidak bisa ditangani, presiden minta dikirim ke Makassar, saya sudah siapkan Hercules,” kata Hadi menyampaikan arahan presiden.
Saat ini kondisi Bandara Mutiara Syekh Al Jufri memang seperti daerah tak bertuan. Orang bisa lalu lalang seenaknya sambil merokok di bandara dan di apron tanpa ada petugas mengatur.

Tsunami menyisakan kehancuran di sebuah desa yang lokasinya di final runway 33 Bandara Mutiara. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Sebagai contoh saat pesawat B737 kepresidenan hendak bergerak dari apron ke runway untuk kembali ke Jakarta, sebuah mobil Kijang warna putih terlihat berusaha nyelonong dari arah belakang. Tidak satupun petugas yang mengawasi.
Dari kejauhan memang terlihat seorang anggota POM TNI AU. Namun mereka pun tidak bisa meninggalkan posisinya, karena harus menjaga ratusan pengungsi di sekitar pesawat Hercules.
Namun untunglah salah seorang perwira dari Korpsri Panglima TNI bertindak cepat dengan melambaikan tangannya dan berteriak keras ke arah mobil putih untuk berhenti. Dari bawah terlihat kopilot berusaha melirik ke belakang.
Menurut Panglima TNI, sejumlah bagian di landasan mengalami kerusakan. Untuk sementara pesawat hanya bisa lepas landas dan mendarat di runway 33, karena ditemukan keretakkan di runway 15.
Sehingga dari 2.500 meter panjang landasan, hanya bisa dimanfaatkan 2.000 meter saja.

Panglima TNI bersama Mensos dan Kepala BNPB meninjau lahan yang akan dijadikan kuburan massal. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Situasi di Bandara Mutiara terus ramai dengan warga yang berdatangan. Banyak warga berusaha keluar dari Palu. Sebagian besar memang pendatang yang kebetulan sedang berada di Palu.
Sementara pesawat C-130Â Hercules dan CN295 TNI AU terus mondar-mandir. Baik untuk menurunkan pasukan dan bantuan, maupun mengevakuasi warga dari Palu. Pengungsi secara bergelombang diterbangkan pesawat Hercules dan C-295 TNI AU ke Makassar.
Cukup unik melihat petugas marshall ground alias juru parkir pesawat yang harus bolak balik memarkir setiap pesawat yang tiba. Hanya terlihat dua orang, marshall ground ini terus berpindah-pindah.
Namun karena situasi darurat, ia pun dibonceng temannya menggunakan sepeda motor yang berseliweran di apron.
Minggu sore sesaat sebelum Panglima TNI bertolak kembali ke Jakarta, mendarat sebuah helikopter Mi-17V5 milik TNI AD di Bandara Mutiara.
Teks: beny adrian