Ini Arahan Panglima TNI kepada Penerbad, Orang Boleh Tahu Jumlah Pesawat Kita, Tapi…

Panjang lebar paparan disampaikan Letkol Cpn Cahyo Permono selaku Komandan Skadron 11/Serbu terkait program pengadaan AH-64E Apache kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Materi slide yang padat dan teknis, dijelaskan secara informatif di hadapan Panglima TNI, KSAD Jenderal TNI Mulyono, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan pejabat lainnya di Mako Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Sabtu (6/10/2018).

Di antaranya, Letkol Cahyo menyampaikan bahwa saat ini masih beberapa penerbang melaksanakan pendidikan di Amerika Serikat. “Semua heli dalam kondisi siap, bagus Panglima,” jelas Cahyo.

Panglima TNI dan rombongan tiba di Mako Lanumad Ahmad Yani. Ffoto: beny adrian/ mylesat..com

Kepada Panglima TNI, Letkol Cahyo menjelaskan bahwa saat ini masih ada delapan penerbang yang tengah merampungkan pendidikan di AS. Seperti diketahui, pada batch pertama Puspenerbad telah mengirimkan 10 penerbang untuk menjalani pendidikan di AS.

Tak lupa Letkol Cahyo memaparkan bahwa dukungan logistik Apache sangat baik, sehingga menjamin kesiapan heli hingga beberapa tahun ke depan.

Usai mendengar pemaparan ini, Marsekal Hadi lalu memberikan sejumlah arahan terkait kesiapan dan memaksimalkan pengoperasian AH-64E Apache.

“Silakan diatur untuk kru yang akan mengawakinya, tentu yang terbaik, karena rakyat melihat bahwa kita memiliki alutsista canggih dan untuk itu harus bisa memperlihatkan kemampuan terbaiknya,” ujar Hadi.

Terkait kesiapan heli, Marsekal Hadi meminta agar betul-betul menghitung kesiapan delapan Apache ini sesuai jumlah penerbang yang ada. Komposisi untuk setiap heli Apache adalah 1,5 kru.

“Khususnya untuk pemeliharaan Apache, harus benar-benar dilihat secara rutin, kan ada service bulletin setiap tahun dari pabrik,” ungkap Panglima TNI.

AH-64E Apache adalah heli serang tercanggih yang dioperasikan Puspenerbad. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Seperti halnya pesawat tempur dari Rusia yang didesain beroperasi di iklim dingin, Apache pun demikian. Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi Puspenerbad untuk mengoperasikan Apache di iklim tropis Indonesia.

Panglima TNI tidak lupa menegaskan bahwa seperti helikopter Penerbad lainnya, Apache juga harus bisa melaksanakan operasi di seluruh wilayah Indonesia.

“Orang boleh tahu jumlah pesawat kita, tapi orang tidak boleh tahu kemampuan kita, sehingga pembinaan ke dalam harus terus ditingkatkan terutama soal airmanship,” urai Panglima TNI terkait filosofi operasional.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: