MYLESAT.COM – Jika kita punya masa lalu yang indah, selalu menyenangkan untuk dikenang. Namun bukan untuk menjadikan kita terlena. Begitu pula mengenang kebesaran AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) periode 1960-an. Saat itu AURI menjadi angkatan udara paling kuat di belahan Bumi selatan.
Salah satu armada pesawat tempur yang memperkuat AURI (sekarang TNI AU) saat itu adalah Mikoyan-Gurevich MiG-17.
Dikutip wikiwand.com, Pemerintah Indonesia dilaporkan membeli 49 MiG-17 varian tempur dasar dari Cekoslowakia pada awal 1959. Selain itu juga membeli varian MiG-17PF dari Polandia.
MiG-17PF adalah varian dengan kemampuan terbang malam hari karena dilengkapi radar.
MiG-17 yang oleh NATO diberi nama Fresco, juga diproduksi oleh China sebagai Shenyang J-5 dan Polandia sebagai PZL-Mielec Lim-6.
Jet tempur mungil ini berkemampuan high-subsonic, awalnya diproduksi Uni Soviet dari tahun 1952 dan kemudian dioperasikan banyak negara termasuk Indonesia.
Lebih dari 6.000 MiG-17 diproduksi Soviet dan lebih dari 2.000 oleh Polandia dan China.
Umumnya varian MiG-17 Fresco tidak bisa membawa rudal udara ke udara. Namun hebatnya, pesawat ini justru berhasil merontokkan banyak musuhnya dengan menggunakan kanon.
Menurut literatur yang ada, Indonesia bisa membeli kedua varian MiG-17 ini atas bantuan pemerintahan Mesir dibawah Presiden Gamal Abdul Nasir.
MiG-17PF (Fresco D) adalah varian all-weather yang dilengkapi radar Izumrud 5, kanon NR-23 3 x 23mm dan mesin VK-1F. Izumrud RP-5 adalah airborne target detection and tracking radar yang cukup kuat pada eranya.
Oleh pihat Barat, keberadaan pesawat ini terlihat untuk pertama kali di medan tempur pada tahun 1958 di atas Selat Taiwan. MiG-17 menjadi ancaman serius bagi jet tempur Amerika Serikat selama Perang Vietnam.
Khusus varian MiG-17P dilengkapi radar Izumrud-1 (RP-1). Sedangkan MiG-17PF yang awalnya menggunakan radar RP-1, kemudian diganti Izumrud-5 (RP5).
Radar juga dipasang di varian MiG-17PM yang menjadi satu-satunya varian yang mampu menggotong 4 rudal udara ke udara K-5. Sementara varian lainnya tidak dilengkapi radar.
Polandia menerima izin lisensi produksi pada 1955. MiG-17F Fresco-C diproduksi oleh pabrikan WSK-Mielec yag memberikan kode Lim-5. Pesawat Lim-5 pertama dibuat pada 28 November 1956 hingga mencapai 477 unit.
Menurut skytamer.com, Polandia juga memproduksi Lim-5R dalam jumlah yang tidak diketahui. Lim-5R adalah varian intai (reconnaissance) yang dilengkapi kamera AFA-39.
Pada 1959-1960, sebanyak 129 MiG-17PF Fresco-D interseptor diproduksi sebagai Lim-5P. Selain itu, Polandia juga beberapa varian lainnya yaitu memproduksi Lim-6bis, Lim-6M dan Lim-6R, dan Lim-6MR.
Sementara China memperoleh lisensi di Shenyang pada 1957 yang diawali perakitan MiG-17F Fresco-C setahun sebelumnya. Versi China dikenal dengan nama Shenyang J-5 dan F-5 untuk ekspor.
Di antara pesawat tersisa yang masih dimiliki TNI AU adalah Lim-5P/MiG-17PF registrasi F-1182. Pesawat ini awalnya disimpan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pada tahun 2018, pesawat ini dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.
Menurut data yang ada, TNI AU mengoperasikan beberapa jenis MiG-17. Yaitu MiG-17F, MiG-17PF, PZL-Mielec Lim-5, PZL-Mielec Lim-5F, PZL-Mielec Lim-6bis, dan Shenyang J-5.
Pesawat tempur Lim-5P atau MiG-17PF ini merupakan satu dari total 31 pesawat yang direstorasi besar-besaran oleh TNI AU selama dua tahun (2017-2019).
Proyek raksasa atas perintah KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan dilanjutkan penggantinya Marsekal TNI Yuyu Sutisna ini, dilaksanakan oleh Marsda TNI Dento Priyono.