18 April 2021, Seluruh Personel Lanud Leo Wattimena Peringati Hari Wafatnya Sang Legenda TNI AU

0

MYLESAT.COM – Marsda (Anumerta) Leo Wattimena adalah salah satu tokoh besar dan melegenda dalam sejarah TNI AU. Kebesaran namanya diabadikan sebagai nama Lanud Leo Wattimena di Morotai, Maluku Utara.

Baca Juga:

Penerbang pesawat P-51 Mustang ini meninggal karena sakit pada 18 April 1976.

Sebagai bentuk penghargaan kepada pahlawan dan sesepuh TNI AU, Komandan Lanud Leo Wattimena Kolonel Pnb Erick Rofiq Nurdin, M.Han memimpin peringatan hari meninggalnya Marsda (Anumerta) Leo Wattimena pada 18 April 2021 di Lanud Leo Wattimena Pulau Morotai.

Upacara dihadiri seluruh personel Lanud Leo Wattimena. Turut hadir keluarga besar Wattimena yaitu Estefanus Wattimena, Nico Wattimena, dan Izac Orlando Wattimena.

Dalam kegiatan ini dilaksanakan doa bersama untuk Marsda TNI (Anumerta) Leo Wattimena dilanjutkan pemberian tali asih kepada marga Wattimena sebagai rasa terima kasih atas segala jasa dan pengorbanan beliau untuk bangsa dan negara Indonesia.

Marsda (Anumerta) Leo Wattimena adalah salah satu penerbang terbaik Angkatan Udara karena memiliki banyak prestasi dimulai sejak pendidikan penerbang di Trans Ocean Airlines Oakland Airport (Taloa) Amerika Serikat menjadi kadet terbaik.

Komodor Leo Wattimena menjadi Wakil Mayjen Soeharto saat memimpin Operasi Djajawijaya merebut Irian Barat. Foto: Komando Mandala

Saat konfrontasi dengan Belanda untuk merebut Irian Barat, Komodor Leo Watitmena menjadi jenderal Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di Irian Barat (Papua).

Karena bakat terbangnya yang luar biasa, Leo yang biasa dipanggil Lex, mendapat banyak julukan seperti “G maniac” yang diberikan penerbang India kepada beliau.

Selama berkarir sebagai prajurit Angkatan Udara, Leo tergolong perwira yang selalu mengutamakan hak-hak prajurit yang bertugas di medan perang.

Salah satu peristiwa yang menarik adalah saat Operasi Trikora.

Pada suatu ketika makanan jatahnya dibuang. Tindakan ini dilakukan Leo karena melihat prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat dengan risiko tinggi, bahkan belum tentu kembali dengan selamat, cuma diberi lauk tempe. Sedangkan para jenderal yang hanya bertugas di belakang meja makan dengan daging ayam.

Marsda (Anumerta) Leo Wattimena mengakhiri pengabdiannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Italia.

Beliau mendapat beberapa penghargaan atas pengabdiannya seperti Bintang/Tanda Jasa berupa Medali Sewindu, Gerakan Operasi Militer III, IV, V, VI, VII, Bintang Sakti dan Satyalencana Wira Dharma.

Pada akhirnya Marsda (Anumerta) Leo Wattimena menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada tanggal 18 April 1976.

Sampai saat ini namanya diabadikan menjadi Lanud Leo Wattimena yang bertempat di Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara, gerbang Pasifik Indonesia.

Share.

About Author

Leave A Reply