Sejarah

Akal-akalan Leo Wattimena Tipu Belanda Agar Hercules Bisa Mendarat di Merauke

Tanggal 22 November 1962, gelombang terakhir tentara Belanda meninggalkan New Guinea Barat. Setelah itu wilayah Merauke dan sekitarnya otomatis diduduki oleh prajurit ABRI.

Inilah akhir dari konfrontasi Indonesia dengan Belanda dalam Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat.

Setelah pasukan Belanda beranjak pergi, pasukan Indonesia mulai memasuki Kota Merauke dengan tetap dalam pantauan pasukan PBB. Untuk menjaga netralitas PBB, pada 30 Agustus, Pakistan setuju menugaskan 1.000 tentaranya sebagai Pasukan Keamanan PBB.

Tiba di Irian Barat, seperti ditulis di buku “52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat” (2014), tentara Pakistan kagum melihat senjata G3 yang dibawa PGT (Pasukan Gerak Tjepat, sekarang Paskhas).

Sambil geleng-geleng kepala, terdengar ucapan, this is a gun made ​​in NATO, top gun. Seorang anggota PGT dari Solo lalu membalas dalam bahasa Jawa sambil becanda. “Le sini das mu tak tabok karo bedil iki.”

Oleh prajurit Pakistan setiap anggota PGT yang ditemui dipanggil Abdullah dan menyapa dengan assalamualaikum. Disebutkan hampir setiap hari tentara PBB meledakkan ranjau laut di pelabuhan Merauke yang ditanam marinir Belanda di sekitar pelabuhan.

Di Merauke, pasukan membuka sekitar setengah hektar lahan untuk dijadikan taman makam pahlawan. Semua jenazah baik dari PGT, RPKAD, dan Raider 530, dikubur di sini.

“Tak lama setelah di Merauke, kami dijemput Pak Leo (Leo Wattimena) dengan Hercules,” tutur PU II Martin Luther yang anggota PGT.

Dikisahkan di buku ini, Hercules yang ditumpangi Leo awalnya tidak diizinkan mendarat oleh operator ATC bernama Dominggus yang kebetulan orang Ambon.

Menurutnya landasan tidak cukup untuk didarati Hercules. Lalu Leo bilang, bahan bakarnya sudah menipis jadi harus segera mendarat. Begitu Hercules mendarat, pihak Belanda memeriksa tangki bahan bakar pesawat yang ternyata masih banyak.

Penjelasan berbeda dikutip di buku Perjuangan AURI Dalam Trikora (1996). Di buku ini dijelaskan, kedatangan Leo Wattimena di Merauke dicatat sebagai jenderal Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di bumi Irian Barat.

Cover buku “52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat”. Foto: beny adrian/mylesat.com

Ada dua Hercules yang diterbangkan saat itu. Yaitu T-1305 yang diterbangkan Letkol Slamet dan kopilot Mayor Udara Hamsana dari Laha dengan tujuan Kaimana, Manokwari, dan Merauke.

Hercules kedua dari Letfuan, diterbangkan Letkol Soesanto dengan sasaran Fak-Fak, Teminabuan, dan Sorong. Misi yang diemban kedua pesawat ini menyebarkan pamphlet pemberitahuan bahwa telah terjadi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda.

Cerita ini bermula dari ide yang muncul dadakan setelah misi selesai, terutama di pesawat yang ditumpangi Leo yaitu T-1305. Bagaimana kalau mendarat di Merauke, mumpung sudah di depan mata?

Selain Leo, di pesawat ini juga ikut perwira penghubung dari UNTEA Mayor Koruku dari Nigeria dan Kapten Lange dari Norwegia serta perwira intel AULA Mayor Heru Atmodjo.

Pilot lalu mengontak tower Merauke meminta izin mendarat dengan alasan salah satu oil system ke mesin mengalami kerusakan dan request for emergency landing. Saat berputar-putar di atas lapangan terbang Merauke, dimanfaatkan untuk memantau situasi di darat.

“T-1305, you are clear for emergency landing, runway clear, call again on final, over.” Operator tower memberikan izin pendaratan melalui radio.

Begitu mendarat, pilot meminta izin untuk berhenti di ujung landasan dengan alasan area parkir terlalu sempit. Padahal ini adalah sikap berjaga-jaga apabila terjadi situasi emerjensi, pesawat bisa segera lepas landas tanpa taxi lagi.

Untuk memberikan kesan eingine trouble, teknisi segera keluar dan membawa peralatan serta tangga. Saat pura-pura memperbaiki, datang sebuah Jeep warna putih yang dikendarai beberapa tentara bule.

Mereka memberi hormat kepada Leo dan berbicara dengannya di bawah sayap pesawat, lalu bersama-sama ke terminal.

Tak lama kemudian dari tepi landasan, rakyat berbondong-bondong mengerumuni pesawat. Terutama warga pendatang dari Jawa yang sudah menetap di Merauke, segera menghampiri kru pesawat dan berpelukan satu sama lain.

Pada 5 Desember 1962, Kompi PGT meninggalkan Merauke untuk menuju titik kumpul di Ambon dan Makassar. Sebelum kembali ke Bandung, mereka mendapat hiburan dari artis-artis yang segaja didatangkan dari Jakarta.

Esok harinya mereka diterbangkan ke Bandung dan mendarat di Lanud Husein Sastranegara menjelang magrib. Kedatangan pasukan ini disambut luapan kegembiraan bercampur kesedihan oleh Komandan PGT Wiriadinata.

Anggota PGT, Peltu (Pur) Joseph Dole Lehera masih ingat wajah duka Komandan PGT Komodor Wiriadinata yang  meneteskan air mata mengingat banyaknya anggota PGT gugur dalam operasi pembebasan Irian Barat.

 

Teks: beny adrian

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close