MYLESAT.COM – Pulang ke kotamu, Ada setangkup haru dalam rindu …. Nikmati bersama suasana Jogya ….
Lirik pembuka lagu “Yogyakarta” yang dilantunkan Katon Bagaskara ini seolah mewakili perasaan segenap insan TNI Angkatan Udara. Setelah sekian dekade, bisa jadi sekitar 70 tahun, TNI AU akan kembali memperingati hari jadinya dalam sebuah upacara militer di tanah kelahirannya.
Yogyakarta memang spesial bagi TNI AU. Seperti halnya setiap kali mendengar nama Kitty Hawk di Carolina Utara, pikiran kita menembus ruang dan waktu ke masa kelahiran tonggak dunia penerbangan yang dipelopori Wright Bersaudara.
Keduanya berhasil menerbangkan Wright Flyer pada 7 Desember 1903. Sebuah lompatan sangat besar yang membuat dunia modern menikmati begitu banyak kemudahan dari teknologi penerbangan.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo mendampingi Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa di Komisi I DPR-RI. Foto: Dispenau
Pun Yogyakarta. Di sini lah sejarah TNI AU diukir dan dipelihara sejak hari pertama. Sehingga bagi TNI AU, Yogyakarta dimaknai tidak sekadar sebuah kota yang di dalamnya terdapat pangkalan udara, satuan operasional dan pendidikan, namun adalah sebuah tanah kelahiran.
Sekolah Penerbang TNI AU lahir di kota pelajar ini. Airshow pertama kali digelar di Yogyakarta dengan menerbangkan pesawat Cureng. Penerjunan pertama dari pesawat Cureng, juga dilakukan di kota gudeg ini oleh HM Soejono.
Dari kota perjuangan ini pula serangan udara pertama AURI dilaksanakan pada 29 Juli 1947, dan menjadi pelajaran penting bagi generasi muda TNI AU hingga hari ini. Di Yogya juga para petinggi AURI berkantor untuk pertama kalinya. Pun di Yogyakarta pula center of excellence TNI AU yaitu Akademi Angkatan Udara (AAU), berdiri megah.
“Yogyakarta adalah kota penting dan bersejarah bagi TNI AU, karena di kota ini TNI AU lahir,” ungkap KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo saat meresmikan Tugu Pal Putih Karbol “Krullebol” AAU pada Kamis, 3 Februari 2022.
Akhirnya, Yogyakarta menjadi pilihan tanpa pengganti ketika TNI AU merencanakan peringatan HUT TNI AU ke-76 yang jatuh pada Sabtu, 9 April 2022. Apalagi saat ini, Lanud Halim Perdanakusuma masih dalam tahap revitalisasi sehingga tidak mungkin untuk digunakan.
Seiring menurunnya kasus virus Omicron dan tumbuhnya herd community, Panglima TNI pun memberikan izin kepada TNI AU untuk menggelar upacara militer. Tentu saja dengan catatan mematuhi protokol kesehatan dan membatasi undangan.
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo saat dihubungi mylesat.com membenarkan bahwa peringatan tahun ini akan dipusatkan di Yogyakarta.
“Awalnya saya pertimbangkan di sini (Mabesau), namun kan hanya bisa dalam skala kecil, sedangkan kita ada kerinduan untuk melaksanakan upacara militer yang terhenti dua tahun terakhir. Kebetulan sekali kasus Covid sudah menurun,” tutur Marsekal Fadjar.
Mengutip penjelasan Koordinator PPKM Jawa-Bali, Luhut Pandjaitan, saat ini sudah tidak terdapat lagi kabupaten/kota yang berada di level 4. Sebanyak 93% kabupaten/kota di Jawa dan Bali sudah berada pada level 1 dan 2.
Kondisi ini tentu memberikan penguatan dan kepercayaan kepada TNI AU untuk melaksanakan HUT tahun ini secara terbuka.
“Karena situasi membaik dan sudah ada izin untuk acara, saya mengajukan pelaksanaannya di Yogya,” ungkap KSAU. “Upacarannya tidak terlalu besar dan meriah, tapi cukup untuk membangkitkan semangat kejuangan,” kata Fadjar.
Terkait aturan yang diberlakukan, KSAU mengatakan bahwa HUT TNI AU ke-76 yang akan berlangsung di lapangan upacara Akademi Angkatan Udara ini hanya dihadiri oleh sejumlah undangan.
“Undangan dibatasi hanya bintang dua ke atas,” tegasnya.
Untuk memeriahkan upacara, akan ditampilkan terbang lintas (flypast) dua flight pesawat tempur T-50i Golden Eagle dan F-16 Fighting Falcon dari Lanud Iswahjudi, Magetan.
Sedangkan dari Lanud Adisutjipto sendiri yang menjadi markas pendidikan penerbang TNI AU, akan diterbangkan pesawat latih Grob G 120TP dan KT-1B Wong Bee.
“HUT tahun ini kembali ke tanah kelahiran, sekaligus untuk menggugah generasi muda TNI AU yang saat ini tengah menjalani pendidikan di AAU dan Sekolah Penerbang, bisa merasakan hari ulang tahun yang sarat nilai-nilai perjuangan,” beber Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.
F-15EX dan WSO
HUT TNI AU ke-76 tentu selayaknya dimaknai sebagai titik tolak menuju modernisasi TNI AU yang tiada henti. Seperti kita ketahui, Kementerian Pertahanan telah menetapkan sejumlah alutsista baru yang akan memperkuat TNI AU dalam beberapa tahun ke depan.

Naval Flight Officer (NFO) adalah istilah yang dipakai US Navy. Foto: US Navy
Pembelian dua pesawat angkut Airbus A400M Atlas, lima pesawat angkut Lockheed Martin C-130J Super Hercules, enam jet tempur Dassault Rafale serta kemungkinan besar menerima beberapa jet tempur Boeing F-15EX Eagle II, adalah lompatan yang tidak kecil. TNI AU harus mempersiapkan diri dari sekarang juga.
Katakanlah pembelian F-15 diteken Pemerintah, maka untuk pertama kalinya TNI AU akan mempunyai satu spesialisasi baru di pesawat yang disebut WSO atau Weapon Systems Officer atau Perwira Sistem Senjata.
WSO (lazim dilafalkan wizzo) adalah sesuatu yang sudah lumrah di sejumlah angkatan udara dunia. Wizzo adalah seorang perwira penerbangan yang terlibat langsung dalam semua operasi udara dan sistem senjata di pesawatnya.
Di Angkatan Laut Amerika Serikat, mereka bertanggung jawab untuk menjaga sistem senjata pesawat tempur. Di Angkatan Udara AS dan Korps Marinir, WSO mengacu pada kru yang duduk di kursi belakang pesawat F-15E Strike Eagle dan F/A-18D Hornet.
Sementara di pembom B-1B Lancer, ada dua Perwira Sistem Senjata yang duduk di belakang pilot dan kopilot. Mereka disebut Offensive Systems Officer (OSO) dan Defensive Systems Officer (DSO).
Dalam pembom serang F-111 Aardvark yang sudah pensiun dari Angkatan Udara AS dan Angkatan Udara Australia, dan EF -111A Raven airborne jammer yang hanya diterbangkan AU AS, WSO duduk langsung di sebelah kanan pilot. Begitu juga pembom serang Su-34 Fullback, WSO duduk berdampingan dengan pilot.
Dalam melaksanakan tugasnya, WSO terintegrasi dengan penerbangan yang secara kolektif mencapai dan mempertahankan efisiensi kru, kesadaran situasional, dan efektivitas misi.
Untuk diketahui, seorang WSO di AU AS seperti di pesawat tempur F-15E, tidak hanya piawai menjatuhkan bom dan rudal. Akan tetapi mereka juga memiliki kualifikasi “pilot”.
Dalam keadaan darurat, WSO dituntut bisa menerbangkan pesawat meskipun hal ini biasanya dilakukan selama misi non-taktis. Misalnya kembali ke pangkalan. Ketika ditunjuk sebagai komandan misi, WSO bertanggung jawab atas semua fase misi yang ditugaskan.
Soal WSO ini sempat didiskusikan KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dalam kunjungannya ke Canberra, Australia minggu lalu. Setidaknya topik ini dibicarakan Fadjar dengan Panglima USPACAF dan juga KSAU Australia.
Negara tetangga Singapura yang mengoperasikan 40 F-15SG, tentu punya pengalaman lebih dulu dari Indonesia. “Saya minta share pengalaman mereka dalam mendidik dan melatih WSO,” ujar Marsekal Fadjar.
Jika jumlah F-15EX TNI AU cukup signifikan, pada saatnya tentu Kodiklatau harus memikirkan untuk membentuk sekolah khusus WSO di Lanud Adistutjipto, Yogyakarta.
Tentu masih banyak isu lain yang bisa didiskusikan, termasuk bagaimana saat ini TNI AU menyiapkan calon penerbang dan teknisi A-400M, C-130J, dan Rafale. Keingintahuan publik juga sangat tinggi, yaitu di mana ketiga pesawat terbaru ini akan ditempatkan.
Dirgahayu TNI AU ke-76, Swa Bhuana Paksa.