Bedah Buku “Ini Jalan Jingga Saya” di Korps Sukarela PMI Kota Bandung, Yudi: KSR Itu Kebanggaan Saya Sejak SMA

0

MYLESAT.COM –Lost time is never found again,” ungkap Benjamin Franklin, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat, dikenal sebagai Bapak Pendiri Amerika (Founding Father), yang perannya sangat besar dalam lahirnya negara Amerika Serikat.

Di dalam setiap detik waktu tersimpan peluang untuk belajar, memperbaiki diri, berkarya, dan menentukan arah masa depan. Karena waktu yang hilang, kata Franklin, tak akan pernah kembali.

Waktu itulah yang dimanfaatkan Marsda TNI (Purn) Yudi Bustami dalam setiap momen yang dilaluinya dalam perjalanan hidupnya, hingga pada akhirnya menjadi sebuah akumulasi pengalaman yang menuntunnya dalam setiap langkah.

Bedah buku “Ini Jalan Jingga Saya” dihadiri oleh sekitar 65 anggota PMI, PMR, dan KSR se-Kota Bandung. Foto: KSRBandung

“Setelah gagal masuk Akabri tahun 1985, saya bertekad untuk mengulangi di tahun depannya, dan untuk mengisi waktu itu maka saya bergabung dengan KSR PMI,” ungkap Yudi Bustami di hadapan sekitar 65 tamu dan undangan yang menghadiri bedah buku “Ini Jalan Jingga Saya” yang diadakan Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung pada Minggu, 14 Desember 2024. Acara berlangsung di markas PMI Kota Bandung di Jalan Aceh No. 97.

Lalu kenapa pilihannya untuk mengisi waktu itu bergabung dengan KSR?

Dengan tegas Yudi mengatakan bahwa ia sangat menyukai aktivitas di bidang kemanusiaan. “Di SMA 4 Bandung saya mengikuti kegiatan PMR, saat itu KSR sudah menjadi kebanggaan saya dan sangat ingin bergabung dengan mereka,” tutur Yudi yang disambut tepuk tangan hadirin.

Bedah buku yang dikemas dalam program “KSR Berbincang Vol 3 Langkah Relawan, Sayap Prajurit” ini menjadi forum internal pembinaan anggota KSR Bandung yang sudah berlangsung tiga kali. “Ini acara ketiga, sebelumnya kita sudah laksanakan dua kali,” ungkap Komandan KSR PMI Kota Bandung, Heri Rukmana. A.Md., S.Tr.T., M.M.Kes.

Dalam acara bedah buku ini, Yudi Bustami menggunakan kesempatan ini untuk berbagi pengalamannya sebagai prajurit Korpasgat TNI AU.

Pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, tidak berhenti sebagai peristiwa semata. Di dalamnya tersimpan nilai, makna, dan pembelajaran yang perlahan membentuk sikap serta cara pandang seseorang. Melalui pengalaman, Yudi mengatakan bahwa ia belajar untuk memahami diri sendiri, yaitu kekuatan, keterbatasan, dan tanggung jawab yang harus diemban.

Satu sisi yang ditekankan moderator diskusi Dadang Koswara adalah, tercermin sekali sikap kemanusiaan dan kepeduliaan yang menonjol dan selalu hadir dalam momen-momen penting di kehidupan Yudi Bustami. Baik di masa kanak-kanak, remaja, saat pendidikan di Akademi Angkatan udara dan pada masa kedinasan.

Marsda TNI (Purn) Yudi Bustami bersama Ketua KSR PMI Kota Bandung (paling kiri), Wakil Ketua PMI Kota Bandung Ace Kusnadvi, Dadang Koswara, penulis, dan desainer cover buku. Foto: KSRBandung

Di dalam bukunya diungkap beberapa momen kemanusiaan yang dilakukannya. Seperti kepada teman sekolahnya, kepada rekan-rekan sesama taruna, serta kepada anggotanya di Korpasgat baik dalam masa pelatihan maupun penugasan. “Pak Yudi bahkan merelakan dirinya sebagai tameng saat mengevakuasi  anggotanya yang tertembak dalam penugasan di Ambon, itu mencerminkan sifat kemanusiaan yang sangat kuat sekali,” ungkap salah seorang peserta.

Bedah buku “Ini Jalan Jingga Saya” selain dihadiri anggota KSR PMI Kota Bandung, juga diikuti oleh Pengurus PMI Kota Bandung, Wakil Ketua PMI Kota Bandung Bidang Bencana dan Relawan Bapak Ace Kusnadvi, Kabid Pelayanan dan Bantuan Bapak Harry Hardiawan. S.Pd., MM, KSR PERTI (Perguruan Tinggi) dari UNPAD, POLBAN, UIN, STIKES Bhakti Kencana, Forpis (Forum Remaja PMI), dan PMR SMAN 21 Bandung.

KSR Bandung

Merunut sejarahnya, KSR PMI Kota Bandung merupakan embrio korps sukarela pertama di tanah air yang terbentuk pada November 17 September 1955 di Bandung. Wadah ini menjadi tempat bagi para pemuda untuk mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Yudi yang mengagumi KSR, menjadi pilihan pertamanya setelah dinyatakan gagal mengikuti seleksi Akabri tahun 1985. Yudi mengisi waktunya dengan hal-hal positif. Kebetulan sekali ada pengumuman di RRI  bahwa PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung membuka pendaftaran kepada warga masyarakat yang bersedia menjadi sukarelawan dan bergabung dalam program CSR (Corps Sukarela) PMI. Saat itu masih dinamakan CSR. 

Dengan modal kecakapan sebagai anggota PMR di SMA 4, Yudi tidak ragu untuk mendaftarkan diri di kantor PMI yang berada di Jalan Aceh, Bandung.

Bersama calon relawan lainnya, Yudi melewati tahap seleksi dan pendidikan kepalangmerahan yang dilaksanakan di Situ Lembang, Kabupaten Bandung. Karena semangat dan motivasinya yang selalu tinggi, Yudi berhasil melewati masa pendidikan CSR dengan predikat terbaik.

Hanya sedikit insiden terjadi saat materi potong kompas dalam pelajaran navigasi. Golok yang digunakannya untuk menebas ilalang yang menutupi jalan setapak, tanpa sadar mengenai tulang kering (tibia) kaki kirinya.

Marsda TNI (Purn) Yudi Bustami bersama anggota KSR usai acara bedah buku. Foto: KSRBandung

“Saat penutupan latihan saya maju ke depan untuk menerima tanda penghargaan,” jelas Yudi bangga.

Setelah dilantik, ia menerima NRI (Nomor Registrasi Induk) KSR 85.635 BRM. BRM adalah singkatan dari Badra Raksa Mala yang berarti Kabut Penyembuh Sakit yang dapat juga diartikan kabut penolong orang yang sedang mendapatkan kemalangan.

Menurut Dadang Koswara, jumlah anggota Korps Sukarela dari masa ke masa sudah lebih dari 700 orang. Namun yang aktif saat ini di Kota Bandung sekitar 50 orang.

“KSR tidak pernah hilang dari diri saya, dan saya sebagai senior siap membantu dan berbagi pengalaman serta membimbing jika adik-adik membutuhkan,” tutur Yudi Bustami.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply