MYLESAT.COM – Puncak Cartenz di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, tidak hanya meninggalkan kenangan bagi para pendaki yang pernah menaklukkannya, namun juga bagi Satbravo 90 Korpasgat. Tahun 2005, satu tim kecil Satbravo 90 dipimpin Lettu Pas Jumongga Sitinjak berhasil melaksanakan misi pengangkatan kerangka warga Australia dari kecelakaan pesawat tahun 1945.
Kisah heroik ini dicatat di dalam buku “35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara” yang terbit November 2025 atas prakarsa Komandan Satbravo 90 (saat itu) Kolonel Pas Ruly Arifian. Alur kejadian ini bermula dari 80 tahun silam.
Baca Juga:
Sebuah pesawat C-47B Dakota A65-61 VH-CUT yang dioperasikan Skadron 38 Angkatan Udara Australia (RAAF) untuk evakuasi medis, berangkat dari Biak menuju Australia pada 18 September 1945. Pesawat berisi 29 prajurit Angkatan Darat yang terdiri dari 5-6 awak, 1-2 perawat, 3 penumpang RAAF, dan 18 pasien militer terluka dari Morotai.
Baru 15 menit setelah lepas landas, pesawat yang diterbangkan WOFF Arthur Jack Hunter dan WOFF Albert Clifford Hughes ini tidak pernah lagi menjawab panggilan radio dari menara ATC. Kontak terakhir pukul 11.15. Operasi pencarian berujung gagal.
Pada 19 April 1967, secara tidak sengaja penerbangan misi MAF yang diterbangkan Jerry Reeder melihat reruntuhan bertanda VH CUT antara Bandara Sentani dan Bandara Konono. Pilot menduga reruntuhan pesawat Belanda. Lokasi dicatat pada koordinat 035830S dan 1370343E pada ketinggian 15.500 kaki.

Reruntuhan pesawat HV-CUT. pacificwrecks.com
Laporan ini disikapi pemerintah Australia dengan melakukan pencarian dua kali. Pertama, Desember 1970, Tropic Snow Recovery Operation berhasil menemukan 80 pon tulang (12 kerangka manusia) dan diterbangkan ke Port Moresby untuk diperiksa dan dimakamkan dengan upacara militer.
Puluhan tahun kemudian tepatnya Agustus 1999, operasi pencarian kembali dilaksanakan dengan nama Cartenz Operation. Tim menghasilkan sembilan kantong plastik kerangka manusia dan dibawa ke Port Moresby. Pada 1 Maret 2000, tim forensik Australia mengumumkan bahwa tulang-tulang yang telah dikumpulkan mewakili 22 orang, namun baru 11 orang yang berhasil diidentifikasi.
Dakota Recovery
Karena itu disiapkan operasi lanjutan yang diberi nama Dakota Recovery pada 2001, namun belum mendapat izin karena alasan keamanan. Tahun 2004, rencana kembali diajukan ke Mabes TNI dan dibahas secara detail pada Airman to Airman Talks TNI AU-RAAF pada Juli 2004 di Bali.
Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa pelaksana lapangan dari TNI AU untuk misi recovery ini adalah Detasemen Bravo 90 Korpaskhas dengan komandan tim ditunjuk Lettu Pas Jumongga Sitinjak, alumni AAU 2000.
Sebagai Dantim, Lettu Pas Sitinjak memilih empat anggotnya yaitu adalah Sertu Suwarsono, Serda Arifin, Praka Sugeng, dan Prada Anang Marjoko. Sedangkan dari pihak Australia yang diwakilil oleh personel RAAF, terdiri dari WGCDR Rowley Tompsett sebagai Dantim, FLTLT Gregory Williams, SGT Garry Smith, CPL Craig Eager, dan LAC Daniel Pendergast.
Seperti ceritakan Marsda TNI Novlamirsyah yang saat itu menjabat Dandenbravo, anggotanya melaksanakan latihan di sekitar Jawa Barat seperti Gunung Parang di Purwakarta. Mereka berlatih menaklukkan bebatuan dalam rute perjalanan, termasuk melatihkan survival dengan bertahan-bermalam di sela-sela batu gunung.
Dakota Recovery dibagi menjadi dua tahap operasi. Tahap I (perencanaan) dilaksanakan pada 23 September hingga 1 Oktober 2004; Tahap II pada 4-28 Februari 2005 yang sempat ditunda dengan alasan keamanan dari PT Freeport. Setelah kondisi kondusif, kembali dilaksanakan pada 23 Mei hinggga 5 Juni 2005. Persiapan dan rencana misi dimatangkan antara pihak RAAF melalui Atase Udara Australia di Jakarta, GPCAPT Tony Jones, dan Komandan Korpaskhas.
Tim Korpasgat berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia pada 23 Mei 2005 dan tiba di Bandara Moseskilangin, Timika pagi harinya. Turut menjemput Komandan Lanud Timika Mayor Pnb Yoyok dan Atud Australia Kolonel Tony Jones. Sore harinya, menyusul tiga personel RAAF melengkapi dua rekan mereka yang sudah tiba sejak 20 Mei 2005. Menggunakan tiga mobil Land Cruiser rombongan menuju Tembaga Pura. Esok harinya mendapat briefing dari PT Freeport tentang prosedur keselamatan.
Baru pada 26 Mei, helikopter berhasil lepas landas setelah beberapa kali ditunda karena alasan cuaca. Sorti pertama pukul 06.00, membawa WGCDR Rawlcy Williams dan Lettu Pas Sitinjak. Sorti kedua, ketiga, dan keempat masing-masing membawa dua orang serta sorti terakhir membawa dukungan logistik.
Sore harinya diterima laporan dari crash site bahwa hampir semua tim yang baru naik mengalami altitude sickness. Perjuangan hari itu membuahkan hasil dengan ditemukannya empat kerangka manusia dan beberapa dog tag (kalung pengenal).
Siang, 27 Mei, posko menerima laporan dari lokasi telah temukan di bawah kokpit berupa satu kerangka, satu pistol sinyal, satu senjata laras panjang dan beberapa amunisi. Sore harinya ditemukan lagi satu kerangka dan beberapa tulang serta perkakas lain berupa jam tangan, dompet, uang logam, alat cukur, alat rias, parang/pisau, matches, cincin, dan kalung emas.
Keesokan harinya, heliopter Bell-212 yang diterbangkan Capt. Bambang, lepas landas menuju lokasi. Dalam 25 menit kemudian heli kembali membawa WGCDR Rowiey Tompsett dan Lettu Sitinjak. Sampai hari itu operasi pencarian berjalan sesuai rencana. Hingga 29 Mei, tim masih menemukan satu kerangka lagi pada jarak sekitar 200 meter dari reruntuhan pesawat serta beberapa tulang dan satu kalung pengenal.
Pada 30 Mei, rencana menurunkan seluruh tim ke posko tertunda karena cuaca. Baru pukul 09.00 berhasil dilaksanakan dan heli kembali membawa dua personel, selanjutnya pada sorti ketiga membawa 6 anggota tim yang terdiri dari tiga RAAF dan tiga TNI AU. Heli mendarat di Tembagapura untuk beristirahat selama satu hari sebelum kembali ke lokasi untuk melaksanakan clean up.
Pembersihan masih dilakukan pada esok hari. Sebelum meninggalkan crash site pada hari terakhir, tim gabungan menancapkan sebuah plakat di lokasi sebagai penanda untuk generasi mendatang.
Operasi Dakota Recovery berhasil dengan baik. Ditemukan tujuh kerangka dengan dua teridentifikasi pasti dan lima lainnya kemungkinan teridentifikasi sehingga sampai saat itu telah ditemukan 29 kerangka manusia, mewakili seluruh penumpang pesawat sesuai daftar manifest saat itu.
Dari arsip yang disimpan Satbravo, satu hal penting adalah ditemukannya Letnan Alun Morris Jones yang merupakan penumpang ke-29 namun tidak terdaftar di manifest asli. Seluruh kerangka yang telah ditemukan dimakamkan di Bomana War Cemetery di Port Moresby.
Misi ini sangat berkesan bagi kelima personel Satbravo 90 Korpasgat, karena mungkin tidak akan terulang. Mereka telah memetik pengalaman dari sebuah medan operasi yang belum pernah dilaksanakan, bekerja sama dengan RAAF Australia dalam satu misi yang sama.
Sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan misi, pemerintah Australia mengundang anggota Denbravo yang terlibat misi ke Sydney.