Begini Ceritanya: Tidak Sampai 24 Jam, TNI Sudah Berangkatkan Satgas Kesehatan KLB ke Asmat

0

Ini adalah hari ketujuh Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, Papua, memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terkena campak, difteri dan gizi buruk.

Sejumlah kalangan kesehatan di Jakarta seperti dikutip Kepala Rumah Sakit TNI AU Dr. Esnawan Antariksa Kolonel Dr. Mukti Berlian Sp.PD, mengacungkan jempol atas aksi tanggap darurat yang begitu cepat dari TNI atas KLB di Asmat.

Baca: KLB di Asmat, TNI Gerak Cepat Kirim 53 Personel Satgas Kesehatan

“Siapa lagi yang mau dan bisa seperti ini, bergerak cepat dan siap kemanapun selain dokter dari TNI,” ujar Dr Adityawardana Sp.PD, KGH, Finasim dari Ilmu Penyakit Dalam Universitas Airlangga kepada Kolonel Mukti.

Karena itu, Adityawardana berharap para dokter dari lingkungan TNI diberi kesempatan lebih banyak untuk mengambil pendidikan spesialisasi agar sewaktu-waktu ke medan operasi bisa menyelesaikan tugas dengan lebih baik.

Sampai diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma pada Senin (15/1/2018) menggunakan pesawat C-130 Hercules A-1326 TNI AU, terungkap fakta bahwa tidak sampai 24 jam waktu yang dibutuhkan TNI untuk memberangkatkan 53 personel Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) Asmat.

Mari kita runut lagi ke belakang. Berdasarkan informasi yang mylesat.com peroleh, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto baru menerima perintah dari Presiden Joko Widodo untuk mengirim satgas kesehatan TNI ke Asmat pada Minggu (14/1/2018) sore.

Dokter dari TNI memeriksa pasien yang mengalami gizi buruk. Foto: Puspen TNI

Setarikan napas kemudian, Panglima TNI langsung menelepon Kepala Pusat Kesehatan TNI Mayjen Dr. Ben Yura Rimba, MARS untuk menyiapkan tim dan segala bentuk logistik yang dibutuhkan.

Di antara perintah Kapuskes TNI adalah, setiap matra darat, laut, dan udara harus menyiapkan masing-masing 10 dokter. Sehingga total 30 dokter dan hampir 20 perawat berhasil disiapkan dan diberangkatkan. Tim yang lain juga langsung bergerak kilat untuk menyiapkan segala bentuk logistik yang dibutuhkan.

Baca: Tiba di Timika, 53 Anggota Tim Satgas Kesehatan TNI Segera Sisir Wilayah Asmat

Mulai dari segala bentuk alat-alat kesehatan, obat-obatan, vaksin, makanan siap saji dan sebagainya dikumpulkan sejak sore itu juga dan setelah terkumpul langsung diangkut dengan truk ke Lanud Halim.

Seperti legenda Candi Sewu yang melibatkan Putri Rara Jonggrang dan Bandung Bondowoso, keajaiban semalam itupun terwujud begitu matahari pagi mulai menyingsing. Personel dan seabrek logistik kesehatan, sudah siap

Maka senin pagi itu, Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen TNI Lodewyk Pusung pun sudah melepas Satgas Kesehatan TNI ini ke Asmat di Papua.

“Hari ini, Satgas Kesehatan TNI KLB Asmat diberangkatkan oleh Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen TNI Lodewyk Pusung menggunakan pesawat Hercules A-1326 dari Lanud Lanud Halim Perdanakusuma,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI M. Sabrar Fadhilah di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin siangnya.

Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 17-18 Januari 2018 saja, sudah sekitar 2.027 warga Asmat mendapatkan pelayanan kesehatan dari Satgas TNI yang bekerjasama dengan Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan Pemda.

Ternyata kondisi di lapangan bergerak sangat cepat. Tim Satgas Kesehatan TNI KLB menemukan bahwa bencana wabah penyakit yang sama terjadi juga di kabupaten lainnya.

Baca: Terus Mengalir, Hercules Angkut Bantuan Tiba di Timaka

Karena itu, Satgas segera mengirim tujuh dokter spesialis yaitu spesialis anak, penyakit dalam, penyakit kulit, dan obsgyn  untuk mengobati campak, difteri, dan gizi buruk ke pedalaman Kampung Pedam Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang. Tim bergerak pada Minggu (21/1/2018).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun langsung memerintahkan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit, untuk mengambil langkah secepat mungkin.

Informasi sementara yang diterima mylesat.com, sudah 27 masyarakat terdiri dari empat dewasa dan 23 balita di Kampung Pedam Distrik Okbibab terserang difteri dan gizi buruk.

Sebelumnya, 20 Januari 2018, tim pendahulu dari Korem 172/VWY berjumlah 12 orang dipimpin Sertu Leo Kantu serta dua dokter RSUD Kabupaten Pegunungan Bintang, empat perawat dan dua ahli gizi, berangkat menuju Distrik Okbibab menggunakan pesawat Pilatus.

“Tim pendahulu sudah bergerak ke Distrik Okbibab, namun karena jarak, cuaca, medan dan juga sinyal, komunikasi tidak bisa lancar,” ucap Kapuspen TNI.

Mayjen Fadhilah mengakui, medan yang sulit menjadi kendala utama Satgas untuk mencapai pelosok Asmat dan Kampung Pedam Distrik Okbibab. Helikopter, pesawat kecil, dilanjutkan berjalan kaki, menjadi tantangan tidak ringan bagi Satgas.

“Medannya sangat sulit, jarak tempuh dari Oksibil (ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang) ke Distrik Okbibab menggunakan pesawat Pilatus sekitar 25 menit, sedangkan jarak tempuh dari Distrik Okbibab ke Kampung Pedam dengan jalan kaki ditempuh sekitar satu hari,” jelas Fadhilah menuturkan beratnya tugas yang diemban Satgas Kesehatan TNI.

Belum ada kepastian sampai kapan Satgas ini akan bertugas di Kabupaten Asmat.

Kita doakan semoga Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa bisa menjalankan tugas mulianya dengan lancar dan aman demi masa depan anak-anak bangsa.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply