Future Vertical Lift: Intip Program Heli Masa Depan US Army (bagian 2 dari 3 tulisan)

Bell V-280 Valor

Bell yang berkolaborasi dengan Boeing dalam reka cipta tiltrotor V-22 Osprey, kali ini pilih melenggang sendiri dalam FVL-Medium. Sosok model statis skala 1: 1 berlabel V-280 Valor muncul perdana di muka publik dalam ajang Army Aviation Association of America Annual Professional Forum and Exposition atau Quad-A pada April 2013.

Desain airframe V-280 digadang sangat modular sehingga heli angkut multimisi pengganti UH-60 Blackhawk itu dapat diderivasi menjadi sosok heli serang.

Tidakkah Bell kapok dan berkaca pada pengalaman V-22 Osprey bersama Boeing?

Tiltrotor itu dihujani badai kritik lantaran harganya sangat mahal dan saat pengembangannya didera berbagai kendala dan bahkan beberapa kecelakaan. Bahkan hingga kini – saat Osprey sudah operasional dan dikirim dalam misi tempur – masih tak sedikit yang mempertanyakan tingkat keamanan dan keselamatan terbangnya.

Namun Bell menegaskan, justru berbekal pengalaman membuat Osprey mereka bisa menghindari fitur-fitur yang sulit secara teknis seperti yang ada pada Osprey.

Sebut saja mekanisme perputaran posisi mesin (tilt engine) dari posisi horizontal ke vertikal serta mekanisme pelipatan sayap (wing folding). Yang disebut terakhir merupakan tuntutan Marine Corps agar Osprey tak makan tempat di dek kapal yang luasnya terbatas.

Pada Valor, yang diputar (kala lepas landas dan mendarat) bukan total mesin berikut rotornya, melainkan hanya bagian baling-baling atau rotor berikut drive system saja, sementara mesin utama terpasang tetap (fixed). Karena FVL lebih diperuntukkan bagi US Army (tak menutup kemungkinan dikembangkan untuk matra lain), maka mekanisme wing folding bukanlah suatu keharusan, sehingga fitur tersebut tak disematkan pada Valor.

V-280 Valor diklaim memiliki kecepatan, jangkauan dan kelincahan jauh melebihi heli-heli US Army saat ini. Bodinya sebanyak mungkin terbuat dari komposit. Bagian sayap  mengadopsi teknologi terkini bertajuk Large Cell Carbon Core Technology yang memungkinkan sayap dibuat utuh tanpa sambungan.

Luas kabin lebih lega ketimbang Blackhawk, dengan pintu geser sekitar 1,8 m. Ekor  berkonfigurasi V-tail membuat Valor amat lincah kala dalam moda jelajah (aircraft mode) namun sambil tetap terjaga kestabilannya dalam moda apung (hover).

Berkat struktur bodi yang modular, Valor bisa dibuat dalam beberapa ukuran yaitu light (pengganti Kiowa), medium (pengganti Blackhawk) dan heavy (pengganti Chinook). Mission system yang bersifat open architecture dipadukan dengan kelincahan serta kecepatan yang tinggi memungkinkan Valor diproyeksikan pula sebagai pengganti heli serang AH-64 Apache.

Dalam visi Bell, kabin varian angkut bisa disulap menjadi ruang penyimpanan senjata (weapons bay) seperti pada penempur/pembom siluman. Sementara di bagian bawah hidung dan belakang bodi dapat dipasangi kubah kanon otomatis, yang bahkan didesain pula bersifat siluman yaitu dapat ditarik atau dimasukkan ke dalam bodi saat tidak digunakan alias retractable pod.

Bicara soal kans Bell dalam program FVL, masih cukup waktu baik untuk pembuktian maupun menunggu hasilnya. Bell dalam hal ini bersaing ketat dengan konsorsium Boeing – Lockheed Martin.

Namun berkompetisi dengan dua nama besar itu sama sekali tak menggentarkan kalbu para desainer dan enjinir Bell, yang meyakini bahwa Valor merupakan desain yang amat menjanjikan.

 

Teks: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: