Satgas FPU 9 Polri, Duta Indonesia demi Perdamaian Dunia

Menjalankan tugas nun jauhnya ribuan kilometer dari tanah air, dan sesuai standar core task FPU (Formed Police Unit) yang digariskan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Sejatinya tugas polisi, mereka hadir untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum (Public Order Management), melindungi personel dan fasilitas PBB (Protect UN personnel and facilities), melindungi warga sipil (Protect Civilian) serta mendukung kegiatan operasi kepolisian.

Sejak tiba di Darfur, Sudan pada 21 Januari 2017, Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 sudah langsung dihadapkan kepada tugas sesuai mandat dari PBB. Satgas ini diberangkatkan pada Jumat (20/1/2017) dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menggunakan pesawat carteran khusus PBB yang khusus menerbangkan kontingen perdamaian dari berbagai negara.

Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 berkekuatan 140 personel Polri dipimpin oleh AKBP Ahmad Arif Sopiyan, SIK yang sebelumnya menjabat Komandan Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Kalsel.

Jabatan Wakil Kepala Satgas dipercayakan kepada Kompol Arthur Sameaputty, SIK yang sebelumnya menjabat Wakil Komandan Detasemen C Resimen I Gegana Korps Brimob Polri. Dari total 140 personel yang ditugaskan, 29 orang adalah perwira dan 131 bintara.

Pemerintah Indonesia pertama kali mengirim satgas FPU ke misi pemeliharaan perdamaian PBB-Uni Afrika di Darfur, Sudan pada 15 Oktober 2008. Program ini dilegalisasi dengan MoU antara Indonesia dengan PBB.

Dalam MoU disebutkan Pemerintah Indonesia mengirimkan FPU dan menunjuk Polri untuk menyiapkan 140 personel terbaiknya dalam penugasan selama satu tahun. Jadi total 1.260 personel Polri sudah dan sedang melaksanakan tugas sebagai FPU di Darfur.

AKBP Ahmad Arif Sopiyan membina hubungan baik dengan warga lokal. Foto: Satgas Garbha II FPU 9

Kekuatan ini dibagi ke dalam dua bagian,yaitu Pendukung dan Pasukan Taktis. Pasukan Taktis membawahi empat peleton, yang setiap peletonnya terdiri dari tiga regu dengan jumlah 24 personel per peleton. Semuanya berasal dari Brimob Polri.

Sementara Pendukung yang anggotanya berasal dari berbagai fungsi di Polri, bertugas mendukung kelancaran operasional, administrasi personel dan logistik. Peleton dan regu bertugas melakukan tugas lapangan sesuai core task FPU.

Sesuai mandat

FPU Indonesia adalah satuan tugas Polri yang secara administratif pembinaan berada di bawah Biro Misi Internasional Divisi Hubungan Internasional Polri dalam melaksanakan peran memelihara perdamaian dunia dan tugas kemanusiaan. Namun secara operasional berkedudukan di bawah misi gabungan Uni Afrika– PBB di Darfur (AU-UN Hybrid Mission In Darfur/ UNAMID).

Satgas FPU Indonesia mempunyai tugas dan wewenang sesuai mandat UNAMID Police dan UNAMID FPU Duties, yang merupakan penjabaran dari UNSCR 1769 Tahun 2007.

Tugas itu adalah memelihara keamanan dan ketertiban umum (Public Order Management), melindungi personel dan fasilitas PBB (Protect UN personnel and facilities), melindungi warga sipil (Protect Civilian) serta mendukung kegiatan operasi kepolisian.

Guna mendukung tugas tersebut, Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 dilengkapi sejumlah peralatan dan persenjataan.

Untuk senjata, anggota dilengkapi senapan standar perorangan SS2 V5 kaliber 5,56mm dan pistol Glock 17 khusus untuk perwira yang menduduki jabatan taktis. Khusus dalam gerakan taktis, setiap regu dilengkapi senapan sniper dan senapan mesin ringan kaliber 7,62mm.

Tidak hanya senjata api, Polri pun sesuai mandat PBB, melengkapi Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 dengan sejumlah perlengkapan. Baik untuk alasan mempermudah tugas maupun untuk keselamatan anggota.

Daftarnya mulai dari tactical goggles, helm Kevlar level III A dengan kain penutup biru berlogo UN dan patch bendera merah putih, UV protective eyewear, radio, elbow pad, tactical gloves, dan rompi coklat Kevlar level IV. Masih ada camel bag, medic kit, magazine pouches, handcuff, pistol, knee pad dan sepatu boot standar gurun.

Perlengkapan lain meliputi peralatan lengkap PHH (pasukan huru hara), amunisi, peralatan observasidan tracking. Untuk yang terakhir menggunakan GPS 76 CSX handheld Garmin, binocular, alat pandang malam model 1 dan 2 lensa, mounting teropong helm.

Perlengkapan khusus lain adalah emergency kit lengkap yang dibawa para medis taktis. Adapun medic badge dikenakan di bahu kiri para medis yang bertugas. Setiap orang juga dibekali masker untuk melindungi pernapasan dari debu pasir.

Seperti satgas FPU terdahulu, wilayah tanggung jawab FPU 9 adalah area yang dinamakan Zone Warden (Zone C). Tidak ada perbedaan dengan wilayah penugasan FPU terdahulu. Di Zone Warden terdapat 11 check point yang menjadi tanggung jawab masing-masing pengampu check point tersebut.

Zone Warden merupakan kawasan terpusat tempat tinggal staf PBB yang bekerja di Supercamp UNAMID. Di samping personel dan staf UNAMID, di daerah tersebut juga bermukim warga lokal yang wajib dilindungi jika terjadi tindak kriminal dan serangan dari pelaku kriminal.

Zone Warden memiliki luas sekitar 6,2Kmatau seukuran satu kelurahan di Jakarta.

Di wilayah ini terdapat dua jalur utama yang harus diamankan. Yaitu Main Road dan Kutum Road. Pada jalur Main Road terdapat 5 check point yang harus dijaga dan diobservasi pada saat melaksanakan patroli. Sementara di Kutum Road terdapat 6 check point.

Di Zone Warden inilah Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 bertanggung jawab melakukan perkuatan (strong point) di setiap Sub Zone/ Block khususnya pada saat jam sibuk dan jam rawan. Yaitu saat staf PBB dan warga sipil berangkat kerja, makan siang, dan pulang kerja.

Di luar jam tersebut, peleton mengamankan Zone Warden dan check point dengan patroli di seputaran blok yang menjadi tanggung jawabnya. “Patroli dipimpin oleh komandan peleton dan komandan regu masing-masing, yang sebagian besar berpangkat perwira,” jelas AKBP Ahmad Arif Sopiyan.

Tugas lain yang menjadi tanggung jawab Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 adalah menangani huru-hara saat demonstrasi, baik di Super Camp maupun di Zone Warden.

Termasuk melakukan pengawalan terhadap pejabat senior dan staf UNAMID serta delegasi Indonesia dan negara lain sesuai permintaan dari UNAMID.

Seperti halnya di tanah air, penggunaan senjata api diatur ketat. Penggunaannya haruslah sesuai petunjuk penggunaan kekuatan yang dikeluarkan oleh PBB. Setiap personel harus memahami penggunaan kekuatan sesuai prinsip PLAN (Proportionality, Legality, Accountability, Necessity).

Dalam keadaan genting semisal terjadi kontak senjata, core task FPU adalah melindungi dan menolong staf PBB dan warga sipil yang terlibat atau menjadi korban.

“Yang harus dihubungi jika terjadi kontak di lapangan adalah pusat pengendalian check point yaitu JSOC (Joint Security Operation Center), yang merupakan tempat pusat operasi dan keamanan gabungan,” ujar AKBP Ahmad Arif.

Langkah kedua yang harus dilakukan anggota di lapangan, adalah menghubungi Kepala Satuan Tugas baik secara langsung ataupun melalui duty officer padafront desk. Informasi ini akan diteruskan oleh JSOC ke check point terdekat lokasi kontak agar bisa segera melakukan bantuan perkuatan.

Sementara Kasatgas akan menyiapkan tim siaga QRT (Quick response team) yang akan melakukan bantuan perkuatan penuh dan sebelumnya berkoordinasi dengan Police Commisioner melalui FPU Coordinator dan Sector North Police Commander dalam setiap pergerakan pasukan.

Anggota FPU 9 berlatih untuk menjaga skill dan stamina. Foto: Satgas Garbha II FPU 9,

Tentu tidak mudah membagi kekuatan yang hanya berjumlah 140 orang agar selalu dalam kondisi fit. Karena itu jajaran pimpinan Satgas Garbha II FPU Indonesia 9 membagi kekuatan di lapangan secara dinamis.

Dijelaskan Arif, setiap peleton dan regu setiap harinya tidak hanya bertugas di suatu lokasi. Misalkan Peleton Alpha hari ini patroli di Main Road selama 12 jam, maka besoknya dirotasi ke Kutum Road, kemudian standby pengawalan dan seterusnya.

Setiap hari juga mereka dijadwalkan melaksanakan latihan taktis untuk memelihara kemampuan agar tetap prima dan siap dalam kondisi apapun. “Latihan yang dijadwalkan sesuai standar PBB yang semuanya kami dapatkan dari pelatihan di CoESPU, Italia,” kata Arif.

CoESPU(Center of Excellence for Stability Police Units) merupakan tempat pelatihan terpusat sesuai standar PBB. Pelatihan taktis yang dijadwalkan terdiri dari pelatihan self defense, tactical progression (CQB), public order management (anti riot), basic police, patrol, dan convoy escort. Semua instruktur langsung dikendalikan oleh para komandan peleton di bawah koordinasi Kasiops.

Selain mengakali dengan rotasi penugasan, setiap hari juga dilakukan olahraga baik secara mandiri ataupun bersama – sama oleh personel yang siaga di sore harinya. Tersedia lapangan badminton, tenis meja, voli, futsal, dan ruangan gym. “Biasanya ngundang staf-staf UN,” aku Arif.

Tentu aspek spiritual tidak ditinggalkan. Saat waktu shalat datang bagi yang muslim, seluruh personel diwajibkan meninggalkan pekerjaannya dan melaksakan ibadah bersama-sama, begitu pula untuk kegiatan agama lain seperti personel yang beragama nasrani dan hindu disiapkan fasilitas Gereja dan Pura untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai waktunya masig-masing.

Sebulan sekali setiap Jumat malam (libur), komandan kontingen juga mengadakan acara kumpul bersama yang kita namakan “Together We’ll be Strong”. Biasanya dalam acara tersebut selain makan bersama juga diadakan hiburan – hiburan kecil seperti bernyanyi, games, traditional dance, dan kegiatan lainnya yang sifatnya menghibur.

Para Duta Polri

Satgas Garuda Bhayangkara II FPU Indonesia 9 dipimpin AKBP Ahmad Arif Sopiyan terdiri dari 100 personel pasukan taktis dan 40 personel pendukung. Kontingen ini hasil rekrutmen dari seluruh Polda dan Satuan Kerja Mabes Polri. Sebanyak 52 orang berasal dari polisi dinas umum dan 88 orang dari jajaran Korps Brimob. Mereka berasal dari berbagai polda di Indonesia.

Setelah lulus, mereka mendapat latihan pra operasi selama enam bulan dari Juli 2016 sampai Januari 2017. Meliput kemampuan bahasa, teknis kepolisian, kemampuan spesifik sesuai perannya dalam satgas, dan latihan penampilan seni budaya Indonesia.

Khusus kelompok komando mulai dari komandan regu hingga Dansatgas, mengikuti pelatihan TOT Command Staff FPU di CoESPU selama satu bulan.

Untuk mewujudkan personel dan satuan tugas yang Profesional, Modern, dan Terpercaya (Prometer), Satgas Garuda Bhayangkara II FPU Indonesia 9 telah menanamkan 3 (tiga) landasan utama dalam diri setiap anggotanya yaitu Honour (kehormatan), Honesty (kejujuran) dan Loyalty (kesetiaan).

“Kami jauh-jauh datang dari Indonesia ke Darfur dalam misi UNAMID, semata mata hanya untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik secara profesional, modern dan terpercaya, dengan penuh kehormatan, kejujuran dan loyalitas dalam setiap pelaksanaan tugas sebagai Formed Police Unit sampai akhir misi, insya allah,” ujar AKBP Ahmad Arif Sopiyan di depan Police Commisioner dan seluruh jajaran pimpinan UNAMID Police yang menyambut mereka di Darfur.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: