Detasemen Gegana Brimob Polda Metro Jaya: Ancaman di Ibu Kota itu Nyata!

Serangan bom di Hotel JW Marriot tahun 2003, bom mobil di kedutaan Australia tahun 2004, serangan ganda di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot pada 2009, serangan teror di pos polisi Sarinah beberapa bulan lalu, hingga penemuan bom-bom dan terduga teroris lainnya di Jakarta, menjadikan satuan Gegana Brimob Polda Metro Jaya (PMJ) tidak bisa tidak harus dalam kondisi siaga penuh.

Itu baru bicara Jakarta, padahal satuan ini harus mengamankan kawasan penyangga ibu kota juga seperti Tangerang dan Bekasi.

Dalam situasi siaga, seluruh anggota yang berstatus on duty dilarang meninggalkan asrama. Kegiatan latihan yang disebar di kawasan Senayan untuk latihan menembak dan di Cikarang untuk latihan penyerbuan, untuk sementara ditiadakan.

Anggota hanya melakoni latihan menembak kering, penanganan huru-hara, dan latihan kemampuan lainnya di dalam area markas. “Kami sedang berstatus siaga penuh, tidak ada yang bisa keluar markas,” ujar Komisaris Polisi Jerrold Kumontoy, Kepala Detasemen Gegana PMJ.

Detasemen Gegana Brimob Polda Metro Jaya. Foto: julius rendy

Sebagai catatan tambahan, di kesempatan itu Kompol Jerrold sempat berujar bahwa target teror saat ini agak bergeser. Jika awalnya kelompok-kelompok teroris menjadikan tempat berbau Amerika Serikat sebagai sasaran utama, maka saat ini target mereka justru mengarah ke pemerintah, TNI serta Polri yang dipercaya harus diperangi.

Ia mengatakan itu tak lebih satu bulan dari serangan teror di pos polisi Sarinah yang menawaskan empat orang, termasuk si eksekutor teror.

Selain teror yang menyangkutpautkan dengan agama seperti selama ini dilakukan, aksi teror yang ada di wilayah Jabodetabek saat ini juga semakin berkembang. Ingat teror bom di beberapa pusat perbelanjaan di Tangerang tahun 2015 lalu?

Itu contoh kecil bahwa individu yang tidak bergabung dengan kelompok teror manapun sekarang ini juga mampu melakukan aksi teror dengan alasan pribadi. Sebabnya, tiap orang dapat dengan mudah mendapatkan bahan peledak dan juga dengan mudahnya mendapatkan tutorial membuat sebuah bom.

Personil terbatas, wilayah luas, lahan kecil

Menurut Kompol Jerrold, itulah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi satuannya dalam menggawangi Jabotabek dengan terus berkembangnya latar belakang teror dan teroris itu sendiri. Ia menceritakan bahwa sejatinya tiap bom itu memiliki karakternya sendiri-sendiri.

Dari karakter bom itu kita bisa memperkirakan kelompok mana yang merakitnya. Masalahnya, seperti sudah disebutkan sebelumnya, tiap orang saat ini bisa dengan mudah mendapat bahan peledak beserta tutorial merakit bahan itu menjadi bom.

Sehingga, di beberapa aksi teror yang terjadi tahun lalu, asal-usul bomnya lebih sulit ditentukan.

Tantangan ini kemudian bertemu dengan segala keterbatasan yang ada, baik dari sisi jumlah personel maupun tempat berlatih. Berdasarkan Peraturan Kapolri nomor 22 tahun 2010, Detasemen Gegana PMJ ‘hanya’ boleh memiliki kekuatan sebanyak 187 personel.

Dari markas yang berlokasi di Petamburan, Jakarta Barat, mereka harus mengamankan tiga wilayah lain di luar Jakarta, yaitu Bekasi, Tangerang, dan Bogor yang notabene memiliki kondisi lalu lintas luar biasa padat.

“Kami sudah memiliki perencanaan jalur operasi saat, misalkan, ada panggilan darurat di Bekasi pada jam-jam sibuk. Target kami di bawah 30 menit personel sudah harus siap berangkat,” jelas Jerrold.

Soal markas pun tak kalah terbatasnya. Markas Gegana berada di tengah pemukiman padat penduduk, luasnya pun tak lebih dari 2.000 meter persegi. Lahan seluas itu dijejali beragam kendaraan taktis semacam Baracuda dan kendaraan operasional lainnya.

Belum lagi bangunan kantor dan tempat istirahat personel berstatus siaga. Dengan kondisi ini, tak heran jika latihan penyerbuan dan latihan tembak dilakukan di luar markas, meminjam lapangan tembak Perbakin, lapangan tembak markas Brimob Kelapa Dua, Depok, atau malah meminjam markas Detasemen D Brimob Cikarang.

Secara umum, Gegana PMJ memiliki kemampuan yang sama dengan induknya di Kelapa Dua, Depok. Mereka dilatih untuk memiliki kemampuan perang kota, pertempuran jarak dekat, penjinakan bom, penyelamatan sandera, dan penanganan anarkisme.

Saat ini bahkan kemampuan Gegana PMJ ditambahi kemampuan kimia, biologi, dan radioaktif. Sebabnya, menurut pihak Gegana, saat ini bahan peledak sudah berkembang ke penggunaan zat cair yang tidak mungkin dideteksi metal detector.

Bicara struktur organisasi, Gegana di tiap polda memiliki struktur organisasinya masing-masing disesuaikan kebutuhan di tiap polda. Untuk Detasemen Gegana PMJ sendiri saat ini organisasinya dibagi ke dalam empat sub detasemen (Subden).

Subden 1 memiliki tugas utama sebagai penjinak bom, Subden 2 sebagai antiteror, Subden 3 Patra atau Patroli Kemitraan yang berkemampuan antianarkis, dan Subden 4 memiliki kemampuan khusus di bidang SAR.

Detasemen Gegana Polda Metro Jaya yang selalu siaga. Foto: julius rendy

Di luar itu, tiap anggota Gegana juga wajib hukumnya memiliki kemampuan bela diri krav maga, karate atau tinju.

Khusus untuk mereka yang bertugas di Subden 2 dan Subden 4, seluruh personelnya harus memiliki kemampuan mobilitas udara atau Mobud.

Kemampuan ini berguna dalam pelaksanaan operasi infiltrasi udara ke sasaran yang telah ditentukan dan melakukan pencarian serta penyelamatan korban dari udara. Subden 4 yang memiliki tugas utama SAR juga harus memiliki kemampuan selam.

Kerjasama negara lain

Sebagai kesatuan yang memiliki tugas utama penanganan teror dan penjinakan bom, tentu dua kemampuan itu serta perlengkapan pendukungnya senantiasa ditingkatkan. Untuk mengembangkan kemampuan personel, Gegana PMJ telah belasan tahun menjalin kerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat.

Tiap tahunnya pihak AS memberikan dukungan pelatihan antiteror bertajuk Diplomatic Security/Office of Antiterrorism Assistance (DS/ATA) di kawasan Mega Mendung, Bogor.

Dalam program penanganan terorisme ini pemerintah AS tidak cuma memberikan pengetahuan, tapi juga hampir seluruh peralatan yang dibutuhkan dalam penanganan aksi teror.

Sebut saja robot penjinak bom CALIBER buatan Icor Technology, senapan Barrett MRAD kaliber .50, senapan serbu Stayr AUG A1 hingga teleskop Schmidt & Bender dipinjamkan untuk operasional Detasemen Gegana PMJ.

“Seluruh senjata ini hanya boleh digunakan untuk operasi antiteror, tidak boleh digunakan untuk operasi lain, apapun itu,” ujar salah satu personel Gegana.

Selain pelatihan rutin DS/ATA, seluruh personel Gegana, terutama di Subden 1 dan Subden 2 juga berkesempatan menjalani latihan langsung di AS. Mulai dari Explosive Incendiary Course (EIC), Advance Bomb Technology, dan Post Blast Investigation (PBI).

Namun, progam latihan ini tidak rutin digelar tiap tahun. Biasanya AS akan menawarkan beberapa program yang dibuka ke Mako Brimob Kelapa Dua dan dari Kelapa Dua akan mengundang beberapa personel di Gegana tingkat polda.

 

BOX

Siap dalam 30 Menit

Detasemen Gegana PMJ menargetkan seluruh pasukan yang berstatus siaga harus sudah siap berangkat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dalam waktu kurang dari 30 menit. Hal ini memaksa mereka harus benar-benar menghitung waktu dalam menyiapkan seluruh peralatannya detik per detik.

Jika kita masuk ke ruang perlengkapan Subden 2, seluruh perlengkapan tidak hanya ditata dengan rapih, tapi juga ditentukan tempatnya agar lebih efektif.

Sebagai gambaran, peralatan ditata melingkari ruangan yang hanya seluas sekitar 5X5 meter. Begitu personel masuk, rak pertama adalah rompi antipeluru, kemudian holster, pistol individu, dan seluruh kelengkapannya. Setelah itu mereka mengambil senjata primer, senapan serbu atau senapan antimateril.

Senjata sudah lengkap, giliran mengambil amunisi, kemudian helm, dan akhirnya perlengkapan individu lainnya sesuai tugas masing-masing. Misalnya alat pendobrak, gunting baja atau tameng. Seluruhnya harus terpasang dengan baik tak lebih dari lima menit.

 

Teks: remigius septian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: