Gegana Brimob: Awalnya Pasukan Khusus Anti Pembajakan Pesawat Udara

Tidak banyak yang tahu bahwa sejatinya Gegana di tubuh Korps Brimob Polri justru berasal dari Detasemen Gegana Polda Metro Jaya.

Ceritanya, ide untuk membentuk satuan penanganan teror dan penjinak bom di tubuh kepolisian Indonesia muncul saat terjadinya pembajakan pesawat di Australia tahun 1974.

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah Kepolisian (Kadapol) Metro Jaya Skep/29/XI/1974, Gegana dibentuk sebagai kompi satuan dan hanya melakoni tugas sebagai pasukan khusus Anti Pembajakan Pesawat Udara (ATBARA).

Setelah terbentuk, fungsi Gegana di wilayah Metro Jaya ditambah untuk menanggulangi penculikan terhadap karyawan kedutaan besar negara lain dan warga negara asing, serta penyanderaan di wilayah Ibu kota.

Meski sudah dibentuk 1974, namun Departemen Pertahanan dan Keamanan baru mengakui keberadaan kompi satuan ini tahun 1976.

Detasemen Gegana Brimob Polda Metro Jaya. Foto: julius rendy

Di masa Kapolri Jenderal Polisi Anton Soedjarwo, kompi Gegana dikembangkan menjadi detasemen dan berada langsung di bawah komando Pusbrimob (saat ini Korps Brimob) hingga sekarang.

Calon anggota Gegana masa itu diambil dari mantan anggota Pelopor yang telah lolos seleksi. Pasukan Anti Pembajakan Pesawat Udara ini mengikuti pendidikan lanjutan selama 4 bulan di Kelapa Dua, Depok, Ciputat, dan Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Kecuali unit Jihandak, mengikuti pendidikan di Pusdikif Zeni di Cimahi, Jawa Barat.

Setelah selesai mengikuti pendidikan maka anggota tersebut ditempatkan di Markas Komando Petamburan III dengan kekuatan 4 Subden.

Nama Gegana berasal dari kata Gheghono yang merupakan bahasa Sansekerta, berarti awang-awang, sesuai dengan tugas utamanya pada saat itu sebagai pasukan Anti Pembajakan Pesawat Udara (ATBARA).

Pada saat acara peresmian Satuan Gegana, dipamerkan juga pakaian khusus pasukan Gegana berwarna hitam. Acara peresmian dihadiri oleh Komandan Pasukan Khusus Anti Teror Jerman. Naasnya, saat dilakukan peragaan, dua anggota Gegana kehilangan tangannya akibat ledakan bom.

Awal mulanya lambang Gegana bukanlah burung walet namun “kilat “ yang merupakan lambang Ranger. Namun saat Jenderal Anton Soedjarwo menjabat sebagai Kapolri, lambang Gegana diubah menjadi Walet Hitam yang melambangkan sifat fisik dan mental anggota Gegana yang kuat dan kukuh dalam menghadapi hujan panas tanpa kenal lelah dalam pelaksanaan tugas dilapangan.

Gegana memiliki moto Setia, Tabah, Waspada.

 

Teks: remigius septian/ beny adrian

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: