Semua Tahu Tim Jaguar Polresta Depok, Tapi Ini Profil Lengkapnya

Tim Jaguar Polresta Depok bersama tim gabungan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Timur, berhasil menangkap pelaku pembacok ahli IT Hermansyah di Tol Jagorawi KM 6, Jakarta Timur, Rabu  (12/7) dini hari.

Kedua pelaku atas nama Laurens Paliyama (31) dan Edwin Hitipeuw (37), disergap tim gabungan di Jl Raya Sawangan, Kota Depok. Keberhasilan ini semakin menambah panjang daftar sukses tim khusus besutan Polresta Depok ini.

Namun di balik kesuksesan ini, tidak banyak yang tahu identitas Tim Jaguar yang dikenal sepat, responsif, insiatif, dedikatif namun penuh cinta dan humanis.

Kepala Tim Jaguar Iptu Winam Agus yang sangat berwibawa, mampu membawa tim yang diperkuat personel Polri yang penuh dedikasi hingga saat ini. Karena dalam banyak contoh, tidak mudah membina tim khusus seperti Jaguar hingga mampu bertahan.

Tidak hanya penuh dedikasi dan mencintai pekerjaanya, para anggota Tim Jaguar juga terlihat sangat modern dan update. Tidak hanya dari senjata yang dibawa senapan Steyr AUG dan SS1 Sabhara V2, tapi juga dari penampilan mereka secara fashion.

Sangat mudah dikenali tampilan mereka yang menggunakan sepatu boot taktis dari merk-merk terkenal seperti Lowa, Oakley, Salomon, Under Armor atau 5.11. Tactical pants ditambah pistol di pinggang, sudah pasti jadi sandang harian mereka.

Sebagai kelengkapan, setiap anggota mempunyai set bag yang berisi rompi antipeluru, gloves, balaclava, helm taktis model MICH, kacamata hitam, dan sebagainya.

Gara-gara begal

Anda masih ingat aksi pembegalan yang marak di wilayah Depok pada 2014 hingga 2015? Pun balapan liar malam di kawasan Jalan Juanda, tawuran antar warga, kenakalan anak di bawah umur, pencurian kendaraan bermotor, peredaran minuman keras dan narkoba, dan banyak lagi bentuk potensi kriminalitas yang berkembang di tahun itu.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Depok, Babai Suhaimi di awal 2015 sampai mengatakan Depok dalam status darurat begal! Saat itu Jalan Juanda dan fly over UI (Universitas Indonesia) menjadi daerah merah.

Penegasan situasi di Depok kala itu dipertegas oleh Karo Ops Polda Metro Jaya (2015) Kombes Pol Daniel Pasaribu. Ia menambahkan, dari 13 wilayah hukum Polda Metro Jaya, kejahatan di Depok meningkat dari posisi ke-6 menjadi ke-4.

Menyikapi kondisi gangguan keamanan yang tidak terkendali itu, Polresta Depok tidak tinggal diam. Berbagai upaya penegakan hukum dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.

Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Depok (saat itu), Kompol Tri Yulianto sampai memerintahkan jajarannya mendalami kasus serta mengintensifkan patroli malam. Namun belum cukup, buktinya kasus begal dan kriminalitas lainnya tidak surut.

Sampai suatu hari saat olahraga bersama di Polres, Ipda Winam Agus, seorang Perwira Urusan Latihan (Paurlat) dan pelatih bela diri Polres Depok menyampaikan kepada Kompol Tri kegelisahannya.

“Ndan, kita harus bentuk tim khusus seperti Jakarta Barat,” ujarnya urun saran.

“Kamu yang komandannya,” tantang Tri.

“Ooo…. siap,” jawab Winam tanpa ragu. Kompol Tri lalu mengatakan bahwa besok pagi saat apel, ia akan umumkan segera dibentuknya tim khusus (timsus) dan Pak Winam sebagai komandan akan memilih sendiri anggotanya dari Satker (satuan kerja) yang lain.

Kenapa Jakarta Barat yang dijadikan rujukan. Sebelumnya Polres Jakarta Barat sudah membentuk Tim Pemburu Preman untuk memberantas premanisme yang di wilayah hukumnya. Kisah sukses Tim Jakbar inilah yang dijadikan benchmark oleh Winam untuk meyakinkan pimpinannya.

Ternyata tidak mudah bagi Winam menyiapkan timsus yang dimintanya. Jangankan membentuk, mencari anggotanya saja seperti mencari kutu di jerami. Boleh dikata tidak ada Satker di lingkungan Polres Depok yang merelakan anggotanya direkrut. Maklum, mereka pun kekurangan anggota.

Winam nyaris nyerah, sampai suatu hari ia ditagih oleh Kompol Tri yang menanyakan kesiapan timsus yang diinginkan Winam. “Saya sudah hampir putus asa, dan saya anggap tidak dilanjutkan, ternyata beliau masih ingat dan bilang saya ingkar janji.

Akhirnya saya bilang ke komandan Satker, bahwa harus boleh saya ambil anggotanya,” tutur Winam. Dengan pendekatan yang baik dan sekali lagi atas seizin Kapolres, akhirnya para komandan Satker merelakan anggotanya dipilih.

Saat pembentukan disampaikan, bahwa timsus dibentuk bukan untuk memburu pembegal. Tapi yang lebih penting adalah membentuk tim dedikasi yang bisa hadir di lokasi rawan guna menciptakan rasa aman.

Tim harus mampu meningkatkan intensitas patroli malam di lokasi rawan agar tidak terjadi pembegalan. “Jadi kami itu patrol man, polisi yang berpatroli di lokasi rawan,” ucap Iptu Winam mengenang masa pembentukan awal.

Dengan amanah dari Kapolres, Winam berhasil memilih 25 anggota polisi komposit baik dari Sabhara, Reserse, dan Intel yang bertugas di Polres Depok. Anggota ini ia seleksi sendiri. Beberapa dari calon sudah ia kenal dengan baik, dan Winam memang butuh anggota tim yang ia percayai.

Setidaknya selama dua bulan tim bentukan ini ia gojlok sendiri. Mulai dari jogging, speed march, cross country, dan kesamaptaan lainnya.

Sejak dini ditegaskannya bahwa timsus ini membutuhkan relawan yang mampu bekerja melebihi tuntutan, melebihi tugas pokoknya sebagai anggota polisi. Tim membutuhkan seseorang yang memiliki totalitas dalam mengabdi kepada masyarakat.

Bagaimana tidak. Jika siang hari mereka bertugas sebagai polisi di Satker masing-masing, maka malam hari harus berpatroli sebagai Jaguar dari pukul 23.00 hingga 05.00 pagi.

Tidak semua anggota polisi sanggup angkat jari untuk menjawab panggilan sukarela seperti ini. “Kami ini kumpulan orang-orang addicted,” ujar Bripka Vino Purbo Yudharta, mengistilahkan totalitas mereka sebagai anggota Jaguar.

Selain kebugaran yang baik, Winam juga sengaja mengincar anggota yang memiliki tampilan bagus dan menarik (good looking).

“Saya inginkan anggota berwajah oke, badan oke, dan semua serba oke. Saya tidak melihat kedepannya akan menjadi terkenal, hanya saya pikir dengan wajah oke dan humanis mereka akan bisa diterima masyarakat,” ungkap Winam polos.

Setelah mulai terbentuk dan memiliki anggota, lalu apa nama timsus ini? Perwira bertubuh tinggi dan atletis ini terinspirasi dari saudaranya yang anggota Batalion 6 Marinir TNI AL, yang salah satu kompinya adalah Kompi Jaguar Yudha.

Winam pun tertarik dengan nama Jaguar, yang sepertinya pas jika disematkan sebagai nama tim khusus Polresta Depok. Agar lebih bermakna dan tidak sekadar nama, oleh Kompol Tri Yulianto, Jaguar dijadikan akronim dari Penjaga Gangguan Anti Kerusuhan.

Resminya 18 Oktober 2014 dijadikan sebagai hari lahir Tim Jaguar, ditandai dengan pembentukan oleh Kapolresta Depok Kombes Dwiyono sebuah tim kecil dengan tugas khusus untuk antisipasi kejahatan jalanan, tawuran, dan balapan liar di wilayah hukum Polresta Depok.

Saat dibentuk dengan kekuatan 25 orang, Tim Jaguar dipercayakan kepada Ipda Winam Agus dengan Wakil Aiptu Iwan Nugraha.

1 2Next page

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: