Menembus Bukit dan Belantara menuju Satrad 226 Buraen di Kupang

Berjarak sekitar 40 km ke arah timur dari Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tidak mudah mencapai lokasi Satuan Radar (Satrad) 226 Buraen. Situs radar yang berada di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut ini, memang lokasi yang ideal.

Menurut KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto saat melakukan kunjungan kerja ke Lanud El Tari, Kupang, Selasa (18/7), di koordinat yang sama pula pada masa Perang Pasifik, tentara Jepang mendirikan situs radar untuk mengamankan pulau Timor yang strategis.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto saat mengunjungi Satrad 226 Buraen. Foto: beny adrian

Hanya saja karena kondisi jalan yang sempit, menanjak dan berlubang-lubang, butuh kesabaran untuk bisa mencapai Buraen. Berkali-kali pengemudi mobil Elf milik Lanud El Tari yang mylesat.com tumpangi, harus menepi karena berpapasan dengan kendaraan lain. Kecepatan mobil pun harus dijaga karena banyak tikungan dan lubang menganga menunggu di depan jika tidak awas.

Setelah berkendaran dua jam lebih, akhirnya rombongan pun tiba di Buraen. Udara dingin langsung menyergap begitu keluar dari kendaraan, mengejar rombongan KSAU yang sedang menerima jajar kehormatan.

Situs radar yang strategis ini dijaga oleh 10 personel Paskhas. Menurut Danwing 2 Paskhas Kolonel Pas Ari Ismanto, aplusan pasukan jaga dilakukan per tiga bulan sekali.

Keberadaan Satrad 226 di Buraen berawal dari memanasnya situasi pasca lepasnya Timtim dari Indonesia tahun 1999. Ketegangan tidak hanya terjadi di darat, tapi juga di udara wilayah kedaulatan NKRI.

Ruang udara yang tidak terjaga oleh radar, seolah-olah menjadi ruang bebas tak bertuan. Penerbangan gelap pun berkali-kali terjadi, tanpa mampu dideteksi oleh Kohanudnas.

Melihat situasi yang tidak kondusif ini, oleh Mabes TNI kala itu, diperintahkan untuk menggeser penggelaran Satuan Radar dari semula di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur ke Buraen, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kondisi di perbatasan semakin rawan.

Menghadapi kondisi tersebut dan berdasarkan Instruksi Panglima TNI tentang gelar Radar di Lanud Eltari, maka pada 5 Juni 1999 dilaksanakan penggeseran radar Lanud Iswahyudi ke Lanud Eltari guna mendukung operasi maupun latihan yang dilaksanakan Kohanudnas maupun TNI.

Satuan radar yang digeser adalah Satrad 251 Madiun.

Sebelumnya Satrad ini berada di bawah jajaran Kosekhanudnas IV dengan nama Satrad 241 Buraen. Karena secara geografis Satrad ini lebih dekat dengan Kosekhanudnas II Makassar, maka Satrad 241 Buraen dialihkodalkan ke Kosekhanudnas II Makassar pada 28 Juni 2013. Kemudian berganti nama menjadi Satrad 226 Buraen.

Pelda Khairul, anggota Satrad 226 Buraen. Foto: beny adrian

Pengalihan dilakukan agar kemampuan deteksi dan ground control, kemampuan alat komunikasi radio pada semua jenis frekuensi Satrad akan lebih optimal dalam pelaksanaan operasi hanud.

Sejak di Madiun, Satrad 226 ini mengoperasionalkan radar Thomson TRS 2215 R buatan Thomson, Perancis. Radar yang mempunyai cakupan sekitar 220 Nm ini mulai digunakan TNI AU sejak tahun 1982.

Radar ini adalah tipe mobil, sehingga ruang kendalinya berada di sebuah kontainer beroda. Radar ini memiliki kemampuan Early Warning (peringatan dini) dan Ground Control Interception (penuntun buru sergap).

Menurut Pelda Khairul yang ditemui di ruang kendali, konsol-konsol di ruang kendali mobil itu setidaknya sudah dua kali di-upgrade. “Sebelumnya masih analog, sekarang sudah digital,” ujarnya sambil terus mengamati pergerakan pesawat di layar dan sesekali mencatat.

Khairul yang baru ditempatkan di Buraen setelah pernah dinas di Satrad Ranai dan Ngliyep, menjalani profesinya dengan penuh dedikasi. Ia harus rela meninggalkan keluarganya di Jombang, Jawa Timur, demi pengabdian kepada bangsa.

Menurut Khairul, suka dukanya orang radar itu karena jauh dari keluarga. Resminya cuti mereka terima setahun sekali, atau izin cuti jika ada keperluan penting. “Tapi kalau ada uang ya bisa pulang 3 kali setahun,” akunya sambil tertawa.

Bekerja dalam kondisi jauh keluarga tentu membutuhkan pengorbanan yang besar. Menurut Khairul, situasi ini tidak masalah jika personel masih bujangan atau baru menikah. Seperti dulu habis nikah, Khairul sempat memboyong istri ke Ranai.

“Penerbangan gelap biasanya dari unscheduled, jadi tidak selamanya pesawat militer. Jika penerbangan rutin tidak mungkin tanpa identitas seperti airline,” jelas Khairul.

Dengan kehadiran Satrad 226 di Buraen, ekonomi warga sekitar ikut terbantu. “Karena kami belanja sayur-sayuran ke warga sekitar,” jelasnya lagi.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: