Australia-AS Uji Rudal Hipersonik, Hanya Butuh 40 Menit Mencapai Korea Utara

Setidaknya satu dekade terakhir, di Amerika Serikat getol dibicarakan dan diteliti pengembangan wahana terbang dengan kecepatan di atas Mach 5. Baik dalam bentuk pesawat maupun sistem persenjataan.

Maka berkolaborasi dengan Australia, AS melaksanakan uji rudal gabungan awal bulan ini. Rudal hipersonik ini mampu melesat lebih kencang dari 6.000 mil per jam. Sebuah kecepatan yang luar biasa. Pengujian wahana yang diberi nama HiFiRE ini memberikan jalan dalam pengembangan senjata hipersonik yang mampu menembak target dengan waktu reaksi yang cepat (minimum of reaction time).

Pengujian seperti diberitakan pertama kali oleh Flightglobal, dilaksanakan oleh Australia’s Defence Science and Technology Group dan U.S. Air Force Research Lab di Woomera Test Range di Australia. Menurut laporan ini, pengujian melibatkan wahana scramjet HiFiRE .

Program HiFiRE dijalankan sejak 2009, ketika pengujian pertama yang melibatkan scramjet dilakukan.

Mesin scramjet membakar kombinasi antara bahan bakar dan oksigen dari atmosfer di ruang bakar. Seperti sepupunya ramjet, scramjet menghisap udara namun perbedaannya adalah scramjet menurunkan udara ke kecepatan subsonik, yang memungkinkan efisiensi mesin dan kecepatan hipersonik lebih besar.

Tidak seperti rudal konvensional dan pesawat, wahana yang dilengkapi scramjet memerlukan kendaraan pembawa, seperti roket Orion, untuk mendorongnya ke kecepatan tinggi di mana scramjet dapat mengambil alih.

Senjata yang menggunakan mesin scramjet memiliki kecepatan sangat tinggi, dan jarak jangkau jauh. Rudal hipersonik yang diluncurkan dari Hawaii mampu mencapai Korea Utara dalam waktu 40 menit, sementara pembom B-2 Spirit untuk mencapai lokasi yang sama membutuhkan waktu hampir 9 jam.

Upaya Australia dan Amerika mengembangkan HiFiRE, bersamaan dengan apa yang dilakukan Rusia dan China yang juga mengembangkan rudal hipersonik.

Seperti HiFiRE, DF-ZF milik China mampu mencapai kecepatan antara Mach 5 sampai Mach 10 dan telah diuji tujuh kali. Terakhir diuji April 2016.

Sementara Yu-17 milik Rusia bersamaan dengan rudal balistik antarbenua RS-18, mampu terbang pada kecepatan Mach 10 dan diuji Oktober 2016.

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: