50 Persen dari Nilai Pengadaan Su-35 Akan Dilakukan Lewat Imbal Beli Komoditas Ekspor

Terang sudah rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 Flanker oleh Pemerintah Indonesia. Sebelumnya diberitakan bahwa Indonesia akan membeli Su-35 untuk menggantikan pesawat F-5E/F Tiger II yang sudah habis masa pakainya.

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pun berkali-kali ditanya wartawan dalam berbagai kesempatan, perihal pembelian Su-35. “TNI AU akan mendapatkan pesawat Sukhoi Su-35 untuk menggantikan pesawat F-5, kita akan beli 11 pesawat, namun prosesnya ada di Kemhan,” tegas KSAU beberapa waktu lalu.

Baca Pembelian Su-35 TNI AU Akan Diteken Tahun Ini

Nah, pembelian itulah yang kemudian ditegaskan Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu. Menhan menegaskan bahwa pembelian Sukhoi Su-35 senilai 1,14 miliar dolar AS telah disepakati antara Pemerintah Indonesia dan Rusia dengan imbal beli potensi ekspor senilai 50 persen dari nilai tersebut.

Pemerintah Indonesia memang ingin membeli Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 sebagai alutsista yang dioperasikan TNI AU.

Baca 40 Jet Tempur F-15SG Jaga Singapura, Radarnya AESA Pula

Terkait imbal beli itu tercantum dalam Undang-undang  No.16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Pada pasal 43 ayat 5 (e) dinyatakan: Setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang, kandungan lokal, dan offset minimal 85 persen, di mana kandungan lokal dan atau ofset paling rendah 35 persen.

“Ini pertama kali UU itu dilaksanakan dan ini betul-betul kerja sama G to G yang akan kita awasi. Offset dan lain-lain sudah beres. Kita bantu ekspor yang ada nilai tambahnya,” kata Ryamizard dalam jumpa wartawan di Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Menteri Perdagangan Enggartriasto Lukita mengatakan, Menteri Pertahanan sudah menetapkan pembelian Su-35 dan ada sejumlah persentase tertentu untuk imbal dagang setelah dipotong offset dan transfer teknologi. “Political will-nya keras,” ujarnya.

Menurut Enggar, “Indonesia akan mendapatkan nilai ekspor 570 juta dolar AS, 50 persen dari nilai pengadaan Su-35 itu. Sementara 35 persennya dalam bentuk offset.”

Baca Kenali Gripen E Lebih Dekat, Penempur Tercanggih SAAB Swedia

Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 10 Agustus 2017 sewaktu Mendag memimpin Misi Dagang ke Rusia. Kedua negara sepakat menunjuk  Rostec dari Rusia dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dari Indonesia sebagai pelaksana teknis imbal beli tersebut.

Tentang komoditas yang akan diekspor, kata Enggar, masih menunggu pembahasan dari Rostec. “Dalam bulan ini dan bulan depan (September) tim Rusia akan datang,” ucapnya.

Enggar pun menjelaskan, yang akan diekspor tidak hanya satu komoditas. “Awalnya mereka ingin hanya karet, tapi kami ingin komoditas yang punya nilai tambah. Kami juga seperti Rusia, kami jual yang punya added value juga, terutama yang tidak dimiliki Rusia.”

Dalam kesepakatan tersebut, Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor. Komoditas itu, antara lain karet olahan, CPO, mesin, kopi, kakao, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik, resin, kertas, rempah-rempah serta produk industri pertahanan dari Pindad dan PT Dirgantara Indonesia.

Rostec juga diberi keleluasaan memilih calon eksportir, baik BUMN maupun swasta agar mendapatkan produk yang berdaya saing tinggi.

“Nanti akan secara terinci dibahas dan dianalisis. Karena ini yang pertama kali, kita akan sikapi langkah-langkah yang sifatnya kebijakan. Kami akan pantau terus dan dilaporkan kepada Menhan supaya prosesnya cepat dan baik,” ungkap Enggar.

Di samping itu, nilainya tak harus terpaku pada nilai tersebut. Pelabuhan ekspor juga tak terbatas di Rusia, tapi sampai Eurasia.

Baca Wajib Baca, Inilah Kehebatan F-16 Block 70 Tercanggih yang Akan Dibuat di India

“Kami tak keberatan sejauh memberi tambahan dari sisi perdagangan kita. Nilainya pun bisa lebih dari 570 juta (dollar AS),” tutur Enggar.

Menurut Enggar, pemilihan alutsista dari Rusia itu tepat. “Masa Rusia tak beli produk kita? Mereka market potensial dengan kemampuan ekonomi yang meningkat. Pembelian Su-35 itu bukan saja untuk pertahanan dan keamanan, tapi juga kapitalisasi.”

Pelaksanaan imbal beli itu akan seirama dengan penerimaan pesawat tempur Sukhoi Su-35, yang delivery-nya dua tahun ke depan.

“Kita negara kedua setelah Rusia yang gunakan Su-35. Kita beli yang lengkap, termasuk untuk membangun perawatannya atau MRO di sini agar ada transfer teknologi. Kita bisa beli 13 Su-35, tapi dengan ada imbal dagang, beli 8-11 pesawat sudah cukup,” ungkap Ryamizard.

Menhan juga akan mengundang Rostec untuk mendapatkan kejelasan secara langsung. “Kami ingin undang mereka biar jelas. Tak ada kongkalikong,” tegas Ryamizard.

 

Teks: reni rohmawati

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: