40 Jet Tempur F-15SG Jaga Singapura, Radarnya AESA Pula

Masih bicara soal radar AESA, tak bisa disangkal kalau pesawat tempur yang dilengkapi radar ini memiliki daya gentar (deterrent) yang lebih tinggi ketimbang jet tempur sekelas yang masih mengandalkan radar pindai mekanis konvensional.

Nyatanya, Singapura, salah satu negeri jiran Indonesia yang letaknya sangat dekat, sudah dilengkapi sejumlah besar pesawat tempur dengan radar AESA. Tepatnya, yang dimiliki AU Singapura adalah penempur berat F-15SG Advanced Strike Eagle yang berakar langsung dari penempur multi peran andalan AU AS F-15E Strike Eagle yang sudah malang melintang di berbagai palagan sejak Perang Teluk 1991 hingga sekarang.

Jika dirunut lebih jauh, F-15E merupakan pesawat tempur multiperan yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari F-15 Eagle yang legendaris.

Jet tempur itu hingga kini memegang rekor belum pernah kalah dalam ratusan duel dengan pesawat tempur lawan. Sebagian besar skor diraih Israel lewat varian awal Eagle.

F-15 Eagle merupakan pesawat tempur kelas berat (heavy fighter) yang terbang perdana pada Juli 1972. Penempur bermesin ganda yang merupakan hasil dari program F-X Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS) ini sesungguhnya sejak awal didesain berkemampuan multiperan, walau ada penekanan khusus pada kapabilitas keunggulan udara (air superiority).

Seiring perjalanan waktu, AU AS mengoperasikannya sebagai pesawat tempur sergap dan keunggulan udara, sementara kemampuan serang darat (memang terbatas – hanya daylight strike)  tidak pernah digunakan.

Itulah sebabnya tak banyak yang tahu kalau F-15 Eagle memiliki kemampuan serang darat kendati terbatas dan hanya efektif kala cuaca cerah atau siang hari (daylight-only strike capability).

Semua varian F-15 generasi-generasi awal (F-15A/B dan F-15C/D) memiliki kemampuan melakukan pemboman dengan bom tak berpemandu macam Mk.82/83/84 dan menembakkan rudal udara ke darat AGM-65 Maverick.

Bahkan lebih sedikit lagi yang mengetahui kalau Eagle generasi perdana memiliki kemampuan menjatuhkan bom nuklir B61, seperti halnya F-16.

Belakangan Eagle terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai pengganti pembom tempur F-111 Aardvark. Demonstrator F-15E yang merupakan modifikasi dari F-15B yang berkursi ganda terbang perdana pada Agustus 1981.

Untuk catatan, F-15A/C merupakan varian berkursi tunggal, sementara F-15B/D/E berkursi ganda (tandem seater).

Konfigurasi dua awak pada F-15E dipilih pertimbangan bahwa untuk misi-misi beresiko tinggi seperti serangan jarak jauh ke belakang garis pertahanan lawan, keberadaan awak tambahan membantu menjaga kewaspadaan situasional tetap tinggi.

AU Singapura resmi meminang F-15E Strike Eagle dalam wujud yang ditingkatkan kapabilitasnya (melebihi milik AU AS) pada Desember 2005 untuk menggantikan A-4SU Super Skyhawk.

Dalam kompetisi pengganti armada A-4SU itu, F-15E bersaing ketat dengan Rafale buatan Dassault, Perancis. Para personel AU Singapura konon amat terkesan pada otomatisasi dan manajemen kokpit yang diterapkan Rafale.

Namun akhirnya Rafale mengaku kalah dari Advanced Strike Eagle. Salah satu penyebab utama adalah kedekatan Singapura dengan AS yang menyebabkan negeri mungil itu sudah banyak menimbun amunisi dan rudal buatan AS.

Singapura batal mempertimbangkan Rafale dalam penilaian final karena AS keberatan berbagi proses sertifikasi integrasi berbagai rudal dan amunisi berpemandu buatannya yang sudah banyak distok Singapura.

Sekedar catatan, karena selama ini (dan hingga kini) Rafale eksklusif menggunakan senjata buatan Perancis atau Eropa, setiap senjata buatan luar harus menjalani proses uji komprehensif sebelum dinyatakan cleared sebagai senjata usungan standar.

Proses sertifikasi dan uji teknis ini mutlak dilakukan kendati sistem interkoneksi senjata Perancis juga masih sesuai dengan standar NATO.

Pesanan Advanced Strike Eagle yang diberi kode desainasi F-15SG untuk AU Singapura itu mulanya berjumlah 20 unit (12 pesanan pasti dan 8 opsi). Setelah opsi 8 unit juga resmi dipesan, negeri itu masih memesan 4 unit tambahan, menjadikan AU Singapura memesan 24 unit F-15SG.

Kabar cukup menghebohkan – setidaknya di kalangan industri militer dan pemerhati pertahanan – muncul sekitar tahun 2015 lalu yang mengabarkan bahwa Boeing telah menjual sedikitnya 8 unit tambahan F-15SG.

Yang lebih dahsyat, laporan keuangan akhir tahun Boeing juga menyiratkan ada 8 unit lagi yang juga diserahterimakan pada “undisclosed existing customer”. Israel sempat diduga sebagai pembelinya, namun banyak pengamat cenderung menduga AU Singapura-lah yang membeli 16 unit tambahan tersebut.

Ini karena laporan Boeing mencantumkan mesin yang dipasang pada jet-jet tempur itu adalah General Electric F110-GE-129, sama dengan mesin yang dipakai F-15SG Singapura (F-15I Israel memakai mesin F100-PW-229).

Memang hingga kini tak bisa dikonfirmasikan secara resmi, apakah benar AU Singapura kini telah mengoperasikan 40 unit F-15SG.

Selain memang info resminya tak dibuka oleh pemerintah AS, pengamatan langsung pun amat sulit karena sebagian F-15SG “dititipkan” semi permanen di 366th Fighter Wing di Mountain Home AFB, Idaho, AS, berdampingan dengan sejumlah F-15E Strike Eagle AU AS.

Satu hal yang sudah selayaknya jadi catatan penting buat Indonesia, khususnya TNI AU, adalah radar F-15SG yang sudah bertipe AESA (active electronically-scanned array), dalam wujud APG-63(V)3.

Radar ini selain berjangkauan jauh, juga digadang sulit diacak secara elektronik (jamming) mengingat kemampuannya berpindah frekuensi secara lincah.

Selain radar supercanggih, F-15SG juga dibekali Joint Helmet Mounted Cueing System (JHMCS) yang dipakai kedua awaknya (pilot dan WSO/weapons systems officer) dan memampukan F-15SG menembakkan rudal high-off-boresight AIM-9X Sidewinder secara optimal.

Dengan JHMCS dan AIM-9X, awak F-15SG bisa menembak  pesawat tempur lawan yang posisinya berada di belakang, cukup dengan tolehan kepala dan kemudian kuncian oleh pembidik yang menyatu dengan display pada helm awaknya itu.

Masih belum cukup, F-15SG juga dilengkapi sensor pasif IRSTS (infra red search and tracking system) “Tiger Eyes” serta dilengkapi pod Sniper-XR Advanced Targeting Pod terbaru.

Pertanyaan menggelitik: untuk menghadapi siapa puluhan jet tempur canggih tersebut?

 

Teks: antonius kk

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: