Kisah Haru Tim Ekspedisi NKRI 2017 Temukan Kampung Terpencil di Merauke

Ternyata masih ada wilayah dan kelompok masyarakat yang hidup di dalamnya, belum terjamah peradaban dan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti dikutip channel-indonesia.com dengan judul “Kisah Letkol Ade Masuk ke Suku Digi yang Ditemukan Tahun 2016 di Papua” (11 November 2017), sungguh menyentuh. Bahwa masih ada saudara sebangsa setanah air yang belum tersentuh dan sadar hidup di wilayaah NKRI.

Kelompok warga ini namanya Suku Digi Manu Digibin yang menetap di belantara Kabupaten Pegunungan Bintang, Merauke, Papua. Suku Digi Manu Digibin ditemukan oleh Batalion 700 Raider pada tahun 2016 saat melaksanakan  patroli patok perbatasan di sekitaran Pegunungan Bintang.

Saat Pemerintah melaksanakan Ekspedisi NKRI Koridor Papua Bagian Selatan 2017, secara tidak sengaja suku ini ditemukan oleh Danton Ekspedisi, yaitu Letnan Kurdi.

Laporan ini diteruskannya kepada Kabagpamops Ekspedisi NKRI 2017 Letkol Inf Ade Chandra Kurniawan. Dalam laporannya Kurdi menyampaikan bahwa telah ditemukan satu kampung di pinggiran perbatasan NKRI dan PNG (Papua Nuigini) yang masuk wilayah Indonesia. Warga kampung ini tidak bisa Bahasa Indonesia.

Saat menerima laporan, perwira Baret Merah ini tengah berada di Jakarta. Namun ia menanggapinya dengan serius  dan mengatakan akan segera menindaklanjuti dengan satuan Ekspedisi di bawah komandonya untuk meluncur ke Kampung Digi.

”Tahun 2017 ini saya targetkan kepada Tim Jelajah Ekspedisi, harus bisa masuk ke Kampung Digi, dan akhirnya kita bisa masuk,” tegasnya.

Satu tim kecil dikirim untuk masuk ke Kampung Digi. Tim ini kemudian menginformasikan bahwa mereka berhasil berinteraksi dengan warga kampung dan disambut dengan baik.

Tim Ekspedisi NKRI mengajarkan cara memasang bendera. Foto: Via channel-indonesia.com

Tim kecil ini berkekuatan 10 anggota Tim jelajah dari Ekspedisi NKRI 2017 Subkorwil 4/ Mindiptana yang dikomandani Lettu Inf Andre Algafar Saputra dari Batalyon 14 Grup 1 Kopassus.

Lettu Andre membawa pasukan beranggotakan Serda Nurma, Serda Andre, Praka Sahid, Praka Heru, Praka Deny, Pratu Khalista, Prada Arif, Prada Yakobus, dan Prada Ardy.

Tim kecil ini menempuh perjalanan beberapa hari dengan melewati hutan dan jalan terjal serta licin untuk bisa tiba di Kampung Digi.

Kampung terpencil ini berada di lembah perbatasan antara NKRI dengan PNG, tepatnya di wilayah perbatasan patok MM 72.

“Saya perintahkan mereka untuk membuat landasan heliped, karena saya akan datang ke sana,” kata Ade.

Setelah persiapan matang dan helipad dinyatakan siap, helikopter Bell-412EP HA-5178 milik Penerbangan TNI AD (Penerbad) pun siap membawa tim.

Saat itu HA-5178 diawaki oleh Kapten Cpn Ahmad M (penerbang I), Letda Cpn Maidiar (penerbang II), Ltd Cpn Tugino (technical inspector), Serka Wahyudi (mekanik), Sertu Sastra Ginting (mekanik), Serda Wahyudianto (mekanik), dan Kopda Kartono (avionic).

Pada kunjungan pertama, rombongan Letkol Ade batal mendarat karena cuaca di sekitar Kampung Digi berubah ekstrem. Kampung Digi memang berada di puncak lereng dengan kiri kanannya tebing.

“Jadi kalau heli mau masuk ke Kampung Digi harus menyusuri celah tebing sungai, setelah masuk celah tebing anggota memberi isyarat dengan pistol suar, barulah kita mengarah ke titik itu,” tuturnya.

Pada saat datang, dirinya tidak banyak persiapan. Karena helipad yang dibuat kurang rata, membuat heli berada dalam posisi miring. Lama-lama heli semakin miring sehingga tim tidak bisa turun. “Saya sampaikan kepada tim bahwa lima hari lagi saya akan datang dan rapikan semuanya.”

Namun sebelum meninggalkan Kampung Digi, sejumlah logistik berupa 13 karung beras dan barang-barang kebutuhan pokok diturunkan dari heli.

Pada saatnya yang disepakati yaitu lima hari kemudian, rombongan Letkol Ade kembali mendatangi Kampung Digi. Seperti biasa di sepanjang perjalanan heli harus menerjang cuaca berkabut. Syukurlah cuaca berubah cerah saat mereka tiba di Kampung Digi.

Karena memang sudah ditunggu, kedatangan tim disambut secara adat dan tarian khas Suku Digi. Kepala Suku bernama Maru Digibin menerima tim dengan memberikan noken, sagu, dan uang PNG.

Dibantu juru bahasa, Letkol Adek Chandra Kurniawan menjelaskan kepada warga Kampung Digi bahwa mereka saat ini telah tinggal di wilayah Pemerintahan Republik Indonesia.

Untuk itu Ade meminta warga mengibarkan Bendera Merah Putih yang diserahkannya kepada kepala suku.

”Saya berikan bendera Merah Putih dan dikibarkan di tengah kampung, karena wilayah yang anda duduki sekarang adalah wilayah Pemerintahan Indonesia,” ujar Ade di hadapan puluhan warga Kampung Suku Digi, yang langsung disambut tepuk tangan dan senyuman lugu warga Digi.

Kepala Suku Digi sangat berterimakasih atas kedatangan Tim Jelajah Ekspedisi di bawah Komando Letkol Ade. Selama seminggu di sana, tim tinggal dan menyatu dengan warga Digi.

Rombongan Tim Jelajah inilah yang pertama kali mendatangi lokasi pemukiman Suku Digi, Merauke, Papua. Sebelumnya tidak pernah ada orang dari luar Kampung Digi yang mendatangi mereka, baik dari Pemerintah Daerah setempat maupun warga kampung tetangga.

Hal ini dikarenakan sulitnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai Kampung Digi.

Dalam seminggu pengabdiannya, Tim memberikan pelayanan kepada masyarakat Digi dengan memberikan pelayanan kesehatan, penyuluhan kebangsaan Indonesia, dan memberikan sumbangan logistik kepada warga yang berjumlah 50 Kepala Keluarga.

Walaupun hanya sewindu, hadirnya anggota tim Jelajah NKRI di tengah-tengah mereka, membuat warga sangat terharu karena merasa diperhatikan sebagai saudara setanah air Indonesia.

Dijelaskan mantan Dansatis D Pamtas Papua Tahun 2007-2008 ini, semula susah membedakan antara penduduk Warga Negara Indonesia (WNI) dan warga Papua Nuigini. Pasalnya tanah yang mereka duduki berada di dua wilayah yang berdampingan, yaitu wilayah PNG dan Indonesia.

Dijelaskan Letkol Ade, sekitar tahun 2009 atau 2010, Suku ini eksodus ke daerah Digi yang masuk wilayah Indonesia. Meski sudah menetap di sana, mereka merasa masih tinggal di wilayah PNG.

Perasaan itu wajar, karena dalam kehidupan sehari-hari, Suku ini berinteraksi dengan warga PNG. Mereka juga menggunakan mata uang PNG yaitu Kina.

Lettu Inf Andre menerima tanda mata dari kepala suku saat perpisahan. Foto: Via channel-indonesia.com

Bukan itu saja, warga Kampung Digi juga menggunakan bahasa PNG. Kampung Digi ini sejajar dengan daerah Aktodimining, Tabobil yang merupakan lokasi tambang emas PNG.

Saat akhirnya harus berpisah dengan tim Ekspedisi NKRI 2017, Kepala Suku Digi, Manu Digibin memberikan cinderamata berupa mata uang PNG senilai 100 Kina, noken dan sejumlah panganan kepada Letkol Inf Adek Chandra Kurniawan.

Tanda mata serupa kemudian juga diberikan kepala suku kepada tim pimpinan Lettu Andre sebagai tanda diterimanya tim oleh warga Suku Digi.

Warga Kampung Digi melepas Tim Ekspedisi NKRI dengan tatapan haru. Semoga kedatangan Tim ini membuat mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari Bangsa Indonesia.

Perhatian Pemerintah Pusat khususnya Pemerintah Daerah dibutuhkan untuk semakin membuka Kampung Digi dari keterisolasiannya.

 

Teks: beny adrian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s