Menikmati Indahnya Indonesia dan Uniknya Operasional Helikopter TNI di Ujung Negeri

Helikopter memiliki keunikan tersendiri dibanding pesawat bersayap tetap. Jika pesawat (fix wing) harus terbang dari satu bandara ke bandara lainnya, tidak demikian helikopter.

Karena menggunakan rotor dan untuk itu disebut rotary wing, helikopter bisa mendarat dimanapun tempat yang diinginkan.

Tentu saja sejauh ada lapangan terbuka dan permukaan tanahnya cukup kuat untuk menahan beban heli, pilot tinggal bawa helinya nemplok.

Bahkan kita sering melihat dalam operasi militer, heli bisa mendarat hanya dengan menempelkan sebelah skid-nya.

Demikian pula dengan CH-47 Chinook, cukup dengan menaruh pantatnya di tebing perbukitan, ramp door tinggal dibuka untuk menaikkan atau menurunkan muatan.

Keunikan helikopter itulah yang menjadikan kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ke sejumlah wilayah di tanah air, jadi dimungkinkan.

Begitu diketahui di lokasi yang akan dikunjungi tidak tersedia lapangan terbang, helikopter menjadi jawaban satu-satunya.

Karena seorang Panglima TNI harus mengunjungi prajuritnya yang berjumlah lebih dari 500.000 dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Berkat aerial screw yang dikreasikan oleh Leonardo da Vinci ini, Marsekal Hadi bisa tiba di tempat-tempat yang sulit dikunjungi.

This slideshow requires JavaScript.

Mulai dari Asmat di Papua hingga Sebatik di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mulai dari Pulau Sekatung di Natuna hingga Entikong dan Aruk di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat.

Kunjungan Marsekal Hadi Tjahjanto ke sejumlah wilayah menggunakan helikopter ini, persis taktik lompatan kodok Jenderal Douglas McArthur saat memburu balatentara Jepang dari Pulau Solomon di Pasifik hingga Okinawa.

Lihat saja saat kunjungan Panglima TNI di wilayah Natuna. Setidaknya lima kali helikopter yang membawa rombongan harus melakukan take off dan landing.

Setelah meninjau pos pengamanan perbatasan di Pulau Sekatung, Panglima TNI terbang ke Tanjung Datuk untuk melihat markas Baterai Artileri Medan dan Satuan Radar 212 Tanjung Datuk.

Kemudian kembali terbang sekitar 20 menit dan mendarat untuk meninjau Batalyon Komposit TNI AD di Sepempang. Terakhir sebelum kembali mendarat di Lanud Raden Sadjaj di Natuna, Panglima TNI meninjau fasilitas pelabuhan TNI AL dan beaching kapal pendarat di Selat Lampa.

Begitu pula ketika Marsekal Hadi  meninjau pos pengamanan perbatasan di Entikong, Kalbar, heli-heli TNI kembali memainkan peran strategisnya untuk menjangkau pelosok Indonesia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong dan PLBN Aruk.

Ketika Panglima TNI meresmikan Pencanangan Bakti Sosial TNI KB Kesehatan Tingkat Nasional 2018 di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Selasa (1/5/2018), secara tidak sengaja mylesat.com menegur awak helikopter Mi-17 milik TNI AD.

“Kayaknya bapak yang kemarin di Entikong, ya,” tegur mylesat.com kepada bintara itu. “Ya pak, sejak dari Natuna sampai sekarang, masih tugas terus,” ujarnya senyum.

Bisa jadi helikopter Mi-17 dan kru yang sama pula yang membawa rombongan Panglima TNI ke Sebatik. Pengabdian yang luar biasa dari prajurit TNI.

Satu hal yang paling menyenangkan terbang dengan helikopter adalah, bisa lebih leluasa menikmati indahnya alam yang dilewati. Juga karena karakteristiknya, heli bisa mendarat dimanapun.

Lapangan sepakbola menjadi landing zone paling aman. Helikopter EC725 Caracal asal Skadron Udara 17 TNI AU yang membawa Panglima TNI, pun dengan mudah mendarat di pinggir pantai di Natuna.

Termasuk jalan raya di belantara Kalimantan Barat, disulap jadi landing zone helikopter.

Kalau sudah begini, warga sekitar berduyun-duyun mendatangi titik pendaratan sambil mengarahkan telepon pintarnya masing-masing. Kami hanya bisa memandangi dari dalam heli saat warga berlarian menghindari terpaan angin kencang atau pasir yang beterbangan saat heli akan mendarat atau lepas landas.

Geli juga melihatnya. Seperti saat Caracal, Mi-17, dan NBell-412 lepas landas secara bergantian di Lapangan Karias Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara, warga dan anggota polisi yang berjaga, berlarian menghindar.

Pemandangan serupa juga terlihat saat heli-heli lepas landas dari Stadion Maulana Yusuf di Serang, Banten (12/4/2018).

Juga saat NBell-412 Penerbad yang mylesat.com tumpangi hendak lepas landas dari Satuan Radar 221 Ngliyep, Malang, Jawa Timur.

Beberapa anak-anak baik laki-laki dan perempuan, terlihat berusaha berpegangan erat di pagar pembatas sambil tetap mengarahkan handphone-nya ke heli. Hanya bisa tertawa melihat antusias mereka.

Helikopter yang terbang rendah dengan kecepatan tidak terlalu kencang, memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat-lihat alam sekitar sejauh mata memandang. Jika terbang di atas laut, birunya laut menyejukkan hati, seakan-akan memanggil untuk diselami.

Begitu juga langit, terlihat bersih dan bebas dari polusi. Benar-benar biru, sesuatu yang lagi-lagi mahal untuk didapatkan di Jakarta.

Tak heran banyak turis mancanegara terkesima melihat alam Indonesia, yang kata mereka bak surga di dunia.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: