Baling-Baling Besar Jadi Masalah, Marinir AS Ingin Osprey Dibekali Senjata Bawah

Marinir dan Angkatan Udara AS masih menginginkan tersedianya senjata di bagian bawah badan (belly-mounted gun) pesawat hibrid V-22 Osprey.

Osprey saat ini memang sudah dilengkapi senjata. Namun penempatannya di pintu belakang, menjadikannya hanya bisa menembak sasaran di belakang.

Desain Osprey membuatnya tidak mungkin dipasangi senjata samping (side-mounted). Sehingga militer AS tetap menginginkan senjata yang bisa ditarik-ulur di bagian bawah badan pesawat.

V-22 Osprey adalah pesawat angkut tiltrotor yang menggabungkan teknologi helikopter dan pesawat.

Tidak seperti heli, Osprey memiliki masalah utama untuk urusan senjata.

Marinir AS menembakkan senapan mesin M240 di MV-22B Osprey saat terbang di atas Irak. Foto: USMC

Tidaklah mudah bagi Osprey membawa senjata eksternal. Ini dikarenakan desain tiltrotor yang menempatkan dua mesin dengan baling-baling besar di kedua sisi badan pesawat. Hal ini mengakibatkan senapan mesin tidak aman dioperasikan dari kedua sisi pesawat.

Karena itu menjadi solusi menambahkan senapan di bawah badan Osprey, yang membuatnya bisa menembak sasaran di depan dan di belakang.

Untuk keamanan penerbangan, senjata bisa dikeluarmasukan secara elektronis sebelum V-22 Osprey menyentuh landasan.

Pada awal 2010, Marinir AS pernah memasang BAE Systems’ Defense Weapon System (DWS) di sejumlah Osprey. Namun kemudian dilepas setelah Marinir menemukan sejumlah kerusakan di bagian badan pesawat.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: