Sertu Christin, Satu-satunya Wara yang Jadi Ajudan Komandan Lanud

Ada yang luput dari perhatian 40 awak media Jakarta saat mengikuti Press Tour Media Dirgantara 2018 di Lanud Manuhua, Biak, Papua selama dua hari (13-14 Desember 2018).

Seorang anggota Wara (Wanita Angkatan Udara) berpangkat sersan satu (sertu), terlihat terus mendampingi Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Fajar Adriyanto, M.Tr (Han).

Ia begitu sigap untuk mengambilkan sesuatu atau berkoordinasi dengan siapapun yang berhubungan dengan komandan. Pun begitu mobil berhenti, ia langsung turun dan membukakan pintu.

Terkadang ia mengabadikan momen dengan kamera pintar atau kamera DSLR yang sesekali dibawanya. 

Wara ini terlihat sangat istimewa. Selain wajahnya yang cantik, adalah tali kur yang terselip di bahu kanannya yang membuat ia spesial. Di lingkungan TNI dan Polri, pemakai tali kur menandakan bahwa ia adalah seorang ajudan komandan. 

Jelas mylesat.com langsung surprise. Karena di lingkungan TNI AU khususnya, tidak ada Wara yang menjadi ajudan komandan. Apalagi menjadi ajudan dari komandan lanud Tipe A.

Karena penasaran, mylesat.com pun menanyakan langsung kepada Marsma Fajar. “Iya, ajudan saya, kenapa tidak Wara jadi ajudan, satu-satunya Wara yang jadi ajudan komandan lanud,” aku Fajar tersenyum.

Sertu Christina Tiara Tarumaselly. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Namanya Christina Tiara Tarumaselly dengan pangkat sertu, akrab disapa Christin. “Saya lahir dan besar di Biak, jadi sangat senang bisa dinas di sini apalagi dipercaya jadi ajudan komandan,” ujarnya tegas sambil menyeka keringatnya.

Lajang bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Biak pada 10 April 1995 dari pasangan George Tarumaselly dan Evi Kawulur. Bapaknya yang asli Ambon itu juga lahir di Biak. Sementara ibunya berasal dari Manado.

Selepas dari SMA Negeri 1 Biak tahun 2013, Christin sepertinya tahu diri sebagai anak bungsu. Jika memilih kuliah, ia sudah bisa mengukur kemampuan orang tuanya untuk membiayai. Christin adalah alumni SD Inpres Ridge II dan SMP Negeri 1, semuanya di Biak.

“Ibu-bapak kan sudah tua, kuliah butuh biaya, lalu saya coba tes polisi tapi belum buka,” ceritanya. Tidak putus asa, Christin mencari informasi pendaftaran Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat). Masih belum jodoh, ia terbentur persyaratan karena faktor usia.

“Umur saya masih 17 tahun, padahal syaratnya 17 tahun 9 bulan, mendekati 18 tahun,” kata wanita bermata coklat ini.

Pilihan ketiganya jatuh kepada Wara. Secara online, Christin mendaftar di Lanud Manuhua. Saat itu usianya sudah 17 tahun 11 bulan. Namun karena seleksi penerimaan prajurit TNI AU dilakukan secara terpusat per wilayah, ia pun harus datang langsung ke Makassar sebagai pusat seleksi wilayah Indonesia Timur.

“Lalu saya disuruh ke Makassar, ongkos sendiri he he he,” jelasnya. Menurut Christin, anak-anak Papua yang ingin menjadi anggota TNI AU sering terkendala biaya untuk datang ke Makassar.

Karena satu-satunya cewek dari Papua yang mendaftar, Christin langsung mendapat prioritas.

“Saya sendiri dari Papua dan mungkin diutamakan, karena nilai memuaskan saya lanjut tes terpusat di Solo bergabung dengan yang pria, setelah itu menjalani Pantukhir di Yogya dan terpilih masuk Wara,” beber Christin senang.

Ia pun menjalani pendidikan Wara selama lima bulan di Kaliurang, Yogyakarta. Setelah dilantik menjadi sersan dua Wara, Christin mendapat kejuruan kesehatan. Untuk itu ia harus melanjutkan pendidikan kejuruan kesehatan selama sembilan bulan dan kemudian ditempatkan di RSAU Esnawan Antariksa, Jakarta selama tiga bulan.

Tak lama di RSAU Esnawan, Christin dapat panggilan mengikuti Akademi Keperawatan yang harus dijalaninya selama tiga tahun. Tetap praktik di RSAU Esnawan sambil sekolah.

Namun karena aturan menegaskan bahwa semua lulusan Akper harus ditempatkan di luar Pulau Jawa, Christin pun tanpa ragu meminta penempatan di kampung halamannya di Biak.

Dengan pengalaman tiga tahun di RSAU Esnawan, Christin pun memulai kariernya di rumah sakit Lanud Manuhua.

Keberuntungan berpihak kepadanya sejak Kolonel Pnb Fajar Adriyanto menjadi Danlanud Manuhua pada Oktober 2017.

Setelah menjabat komandan lanud, Kolonel Fajar belum punya ajudan yang fixed. Saat itu memang ada Wara yang bisa dijadikan ajudan, namun karena Wara ini sudah menikah maka tugas ini pun gugur untuknya.

Karena anggota Lanud jumlahnya sedikit, dan jika mengambil dari satuan kerja lain tentu akan mengganggu kinerjanya, maka Christin pun jadi pilihan terakhir.

“Sespri (sekretaris pribadi alias ajudan) satu saja dari PNS, kamu naik jadi ajudan saya,” perintah Fajar kepada Christin saat itu.

Tidak kalah dari ajudan pria, Sertu Christin sigap menjalankan tugasnya sebagai ajudan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Diawal tugasnya, Christin mengaku sempat gagap karena memang tidak pernah menjadi ajudan. Namun seiring waktu,ia cepat belajar dan menyerap tugas sejati dari seorang ajudan.

Saat ditanya pengalamannya menjadi ajudan, Christin mengaku senang. Karena bisa melihat banyak tempat dan bertemu dengan berbagai kalangan termasuk orang-orang yang pernah dikenalnya.

“Komandan kan sering jalan, kalau ada acara pertemuan di daerah saya bisa ketemu teman-teman lama termasuk teman bapak saya, kamu anak si ini kan, saya jadi terkenal di sini karena memang tidak banyak Wara di Biak,” urai Christin.

“Bapak saya kayaknya ada keturunan Portu (Portugis), saya ikut bapak rambutnya keriting,” urai Christin soal sosoknya yang seperti indo sambil berlalu.

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: