Bangga Melihat Kemampuan Penerbang, KSAU: Semoga Bisa Kembali Kirim Mereka ke FWIC

0

MYLESAT.COM – Memasuki hari keenam atau sehari sebelum selesainya Mission Oriented Training (MOT) dan Ground Forward Air Control (GFAC) di Lanud Iswahjudi, Madiun, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo kembali meninjau pelaksanaan latihan, Senin (26/10).

Total 35 pesawat mengikuti sesi latihan pada hari tersebut. Pesawat tempur Su-27/30 Flanker, F-16 Fighting Falcon, T-50i Golden Eagle, Hawk 109/209, EMB-314 Super Tucano, C-130 Hercules, dan helikopter NAS-332 Super Puma terlibat dalam latihan.

Baca juga:

KSAU mengikuti jalannya latihan dari stasiun radar GCI (Ground Controlled Interception) Lanud Iswahjudi. Dari ruang kendali ini jalannya latihan dikendalikan oleh operator GCI yang merupakan personel TNI AU.

Patch resmi yang digunakan selama MOT-GFAC 2020. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sebelumnya Marsekal Fadjar mengikuti MC Brief secara virtual melalui Cloud-X di gedung VIP Lanud Iswahjudi. Dari situ KSAU  dan rombongan menuju radar approach Lanud Iswahjudi untuk menyaksikan Large Force Employment (LFE) siang hari di Console GCI yang diawaki Fighter Controller dan operator GCI.

LFE merupakan Air Combat Mission yang melibatkan pesawat dalam jumlah besar dan melaksanakan beberapa peran.

Mulai OCA (Offensive Counter Air), Strike, CAS (Close Air Support), ALI (Air Land Integration) untuk Special Force Insertion dan CSAR (Combat Search and Rescue).

Proses penyergapan sasaran di udara tidak dilaksanakan sendiri oleh pesawat tempur atau penyergap. Disinilah dibutuhkan penuntunan radar intersepsi di darat yang tadi disebut GCI.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo ikuti jalannya latihan di Console GCI. Foto: beny adrian/ mylesat.com

GCI adalah taktik pertahanan udara di mana satu atau lebih stasiun radar atau stasiun pengamatan lainnya dihubungkan ke pusat komunikasi komando yang memandu pesawat interseptor ke target udara.

Seiring perkembangan teknologi elektronika dan aviasi, GCI tidak lagi sepenuhnya digelar di darat. Dunia mulai mengenal komando perang terbang dengan diperkenalkannya pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C atau AWACS).

AEW&C cenderung lebih unggul karena mengudara dan dapat melihat ke bawah dalam spektrum yang luas. Sebaliknya GCI sering kali terkendala alam seperti pegunungan yang mengganggu pancaran sinyalnya yang ditembakkan secara LoS (Line of Sight).

Hanya saja mengoperasikan pesawat seperti AEW&C sangatlah mahal. Di teater, pesawat ini juga membutuhkan pesawat lain yang didedikasikan untuk melindunginya. Tahun lalu, TNI AU pernah melontarkan wacana untuk pengadaan pesawat berkemampuan AEW&C.

Membuka lembaran sejarah, teknologi AWACS pertama kali diperkenalkan oleh Inggris. Setelah mengembangkan Chain Home (sistem deteksi radar peringatan dini berbasis darat) pada 1930-an, Inggris mengembangkan satu set radar yang dapat dibawa ke pesawat untuk apa yang mereka sebut Air Controlled Interception.

Mayor Pnb Bambang Aulia Yudhistira mengendalikan pertempuran di Console GCI. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Tujuannya adalah untuk menutupi jalur pendekatan Barat Laut di mana pesawat jarak jauh Jerman Focke-Wulf Fw 200 Condor selalu membawa ancaman.

Sebuah bomber Vickers Wellington (serial R1629) dilengkapi dengan susunan antena berputar (rotating antenna array). Radar lain yang melengkapi Wellington dengan instalasi berbeda, digunakan untuk mengarahkan Bristol Beaufighters menuju pesawat Heinkel He 111 milik Jerman, yang merupakan bom terbang V-1.

Kembali ke soal GCI, guna dapat memastikan sasaran di udara itulah maka dibutuhkan deteksi visual dari pesawat pencegat. Dalam kasus pelanggaran wilayah udara, interceptor bertugas melaksanakan penggiringan, pengusiran, pemaksaan mendarat (force down) atau penghancuran.

Radar mampu mendeteksi kehadiran pesawat atau benda-benda udara asing ke sebuah wilayah udara dari jarak jauh. Semakin canggih radar yang digunakan, semakin tinggi pula kemampuan deteksinya.

Karena itu, saat melihat operator GCI Lanud Iswahjudi beraksi mengendalikan manuver 35 pesawat pada saat bersamaan, bukanlah kompetensi yang sederhana. Dibutuhkan tahapan pendidikan dan kursus yang lama untuk menjadikan mereka piawai sebagai operator GCI.

Suasana di Console GCI yang mengendalikan latihan MOT. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Bisa Anda bayangkan tingginya tensi yang harus mereka hadapi dalam sebuah operasi militer sebesar Desert Storm tahun 1990.

Pada hari Senin kemarin, materi latihan yang dilaksanakan adalah Strike/DT pada siang hari. Sedangkan hari terakhir, Selasa (27/10), semua penerbang melaksanakan OCA Extraction. Pada dua hari terakhir ini, di setiap harinya melibatkan 35 pesawat dari berbagai jenis.

Saat mylesat.com ikut menyaksikan pergerakan pesawat dari Console GCI, terlihat jelas pergerakan dan manuver pesawat tempur TNI AU di selatan Pulau Jawa. Setiap pesawat hanya ditandai dengan squawk number dan callsign yang harus dikenali operator GCI.

Operator GCI bertugas memberikan perintah kepada pesawat teman jika di area tersebut ditemukan Lasa (Laporan Sasaran) mencurigakan. Operator akan memberikan sejumlah data kepada penerbang tentang posisi, arah (heading), ketinggian, kecepatan, dan jika diketahui jenis pesawat yang mengancam.

Sesekali di antara mereka berteriak, kill, kill, misalkan Vampire 1 kill.

Selama satu minggu pelaksanaan MOT dan GFAC, banyak pelajaran bisa dipetik oleh setiap penerbang. Namun secara umum latihan ini ingin mengejar lima sasaran.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Mayor Pnb Bambang Aulia Yudhistira. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Yaitu kemampuan melaksanakan taktik BVR, peningkatan awareness dan reaksi terhadap ancaman BVR, kemampuan koordinasi antara GFAC/ AFAC dengan penerbang untuk target-target dinamis, memahami berbagai konsiderasi pada misi force protection, dan memahami mekanisme mission planning process.

Sedangkan materi latihan terdiri dari CoG Academics, Mission Planning Academics, Air to Ground Planning Consideration, Threat Reaction, Combat SAR, Air Task Order (ATO), Communication and Brevity, Training Rules, dan ACMI Debrief.

Selain mengelar kekuatan pesawat udara, dalam latihan ini juga diuji kemampuan penerbang menghadapi ancaman point defence. Untuk itu turut digelar sejumlah sistem pertahanan udara jarak pendek (Shorad) yang dioperasikan Denmatra 1 dan 2 Paskhas.

KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo mengaku surprise saat mengikuti langsung jalannya latihan, di antara suara-suara berisik operator radar yang tengah mengendalikan pesawat. Jika ingin membayangkan, persis seperti orang main game online.

Menurut KSAU, skill penerbang memang menjadi perhatian utamanya selama masa kepemimpinannya. Seorang penerbang tempur harus menguasai sejumlah materi pertempuran udara. Karena itu Fadjar mengatakan sangat berharap bisa kembali melaksanakan FWIC (Fighter Weapon Instructor Courcse) yang dibutuhkan penerbang tempur.

Sejumlah penerbang TNI AU pernah mengikuti FWIC di Amerika Serikat tidak lama setelah pembelian pesawat F-5E/F Tiger II.

FWIC adalah sekolah khusus untuk tingkat lanjut bagi penerbang tempur Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), semacam Top Gun di Angkatan Laut AS.

Mayor Tek Juliar yang mengendalikan pertempuran di GCI. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pada pendidikan ini dipelajari teori dan praktik pertempuran udara secara detail. Setiap siswa harus mampu menguasai manajemen pertempuran udara. Penerbang yang pernah mengikuti FWIC adalah Zeky Ambadar, Suprihadi, Djoko Suyanto, dan Eris Herriyanto.

“Saya bangga melihat kemampuan kalian, terus tingkatkan,” ujar Fadjar. Berkali-kali juga disampaikan Fadjar kepada para penerbang yang lebih senior, untuk mewariskan ilmu perang udara yang mereka miliki kepada yuniornya.

“FWIC itu mahal sekali, kita ingin tapi dana terbatas, mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa kembali mengirim penerbang untuk FWIC,” ungkap Fadjar.

Share.

About Author

Leave A Reply