Letjen (Pur) Soegito: Saya Sedih Kalau Diminta Cerita Soal Timtim, Perwira yang Tersisa Tinggal Tiga

0

MYLESAT.COM – Sudah setahun tidak bisa bertemu karena pandemi Covid-19, akhirnya saya dan Letjen (Pur) Soegito bisa kembali bersilaturahim. Saya meluncur ke rumah beliau dengan senang hati, Senin (19/1).

“Sudah lama ya nggak ketemu, yang penting jaga jarak,” ujar Pak Gito menyambut.

Baca Juga: 

Pak Gito, begitu saya biasa memanggil beliau, pun bercerita panjang lebar apa yang dialaminya setahun terakhir. Mulai dari rekan-rekannya sesama alumni AMN 61 yang terus berkurang, didera sakit tua, kesulitan dalam situasi pandemi, dan Pak Gito sendiri yang selesai menjalani operasi katarak di kedua belah matanya.

“Saya sudah bisa lihat kamu sekarang, lukisan jadi berwarna warni lagi,” ungkap purnawirawan Kopassus ini girang.

Sebentar lagi Pak Gito akan merayakan ulang tahun ke 83. Mantan Pangkostrad ini lahir sebagai anak kedelapan dari pasangan Soeleman dan Soechadinah di Yogyakarta pada 15 Februari 1938.

Pak Soeleman bekerja sebagai klerk (juru tulis) di Post Telegraf en Telefondiest (PTT).

Dalam “kesendiriannya” di usia senja, Pak Gito mengaku tidak tahu saat mylesat.com kabari bahwa Letjen (Pur) Sayidiman Suryohadiprojo meninggal pada Sabtu, 16 Januari 2021.

“Jarak saya dengan Pak Sayidiman terlalu jauh, saya masih mayor beliau sudah Wakil KSAD. Kalau dengan Pak Jusuf masih ada kenangan,” ungkap Pak Gito.

Ketika ditanya lagi tentang Operasi Seroja, Pak Gito tak langsung menjawab. Terdiam sejenak.

Letkol Inf Soegito adalah komandan Satgas Nanggala V Kopassandha. Pasukan berjumlah 263 orang ini diterjunkan di Kota Dili, Timor Portugis pada 7 Desember 1975 untuk merebut kota itu.

“Saya sedih karena perwira yang tersisa tinggal tiga, yaitu saya, Luhut (Jenderal Pur. Luhut Binsar Pandjaitan), dan Ilyas Yusuf (Mayjen Pur). Saya sedih kalau bertemu karena orang-orang dekat saya sudah wafat semua,” Pak Gito lirih.

“Saya tidak bisa melupakan orang-orang dekat saya, sudah habis semua,” tambah Pak Gito.

Di antara perwira Satgas Nanggala V saat itu adalah Mayor Inf Muji Raharjo, Mayor Inf Atang Sutresna, Mayor Inf Ilyas Yusuf, Mayor Inf Luthfi Banser, Kapten Inf Atang Sanjaya, Lettu Inf Luhut Pandjaitan, Mayor Inf Theo Syafei, dan Kapten Inf Bambang Mulyanto.

Mayor Inf Atang Sutresna sendiri gugur di hari pertama penyerbuan.

Sementara Brigjen (Pur) Bambang Mulyanto meninggal Maret 2019. Letkol (Pur) Atang Sanjaya wafat pada 5 Oktober 2020.

“Saya kira angkatan saya sudah selesai, saya juga sudah tidak mau lagi mengikuti kegiatan,” ucap Pak Gito.

Meskipun sedih untuk mengenang penerjunan di Dili, Pak Gito masih mau berbagi pengalaman dan pandangannya seputar operasi militer.

Menurutnya, operasi militer yang dilakukannya saat itu jangan terulang kembali. Terutama buruknya tahap persiapan dan koordinasi.

Hal ini pernah diungkap Soegito saat berbicara di Kopassus. “Jangan terjadi lagi apa yang kami alami di Dili tahun 1975, generasi sudah berubah, jadi harus lebih baik,” ujarnya.

Seperti dalam fase persiapan, Pak Gito mengatakan minimnya perhatian dari pimpinan. Tidak pernah meninjau latihan dan memberikan biaya.

Soal dropping zone, termasuk yang disesalinya seperti ditulis di biografinya Letjen (Pur) Soegito Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen.

“Waktu koordinasi dengan penerbang di Madiun, tujuannya Dili dan saya minta terjun dari barat ke timur bukan sebaliknya tapi penerbang tidak mau,” kata Soegito. Rute ini diambil karena para penerbang belum mengetahui situasi di medan penerjunan.

Padahal dari pelajaran yang diterimanya saat Seskoad, disebutkan bahwa operasi gabungan lintas udara dan pendaratan pantai adalah operasi yang rumit. Untuk itu harus dikoordinasikan secara cermat dan teliti oleh komando pengendali lebih tinggi.

“Sedangkan saya waktu itu diminta, tiba di Madiun koordinasikan dengan penerbang. Padahal harusnya komando atas. Saya sampai bilang ke Theo tidak mau terjun,” ungkap Pak Gito.

Berkaca dari Operasi Flamboyan, sejatinya menurut Soegito kurang berhasil. Namun keraguan itu disimpannya sendiri, tidak disampaikan kepada anggotanya.

Di dalam pesawat Hercules saat perjalanan ke Dili, suasana sungguh tidak nyaman. Pasukan tidak rileks. Dengan parasut di punggung, payung cadangan di dada plus ransel di bagian bawahnya dan senjata di samping, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain duduk di lantai pesawat dengan posisi setengah rebah.

“Di otak saya sudah nekat, kalau mati ya sudahlah. Karena sangat tersiksa di pesawat yang terbang sekitar 5 jam. Kami tegang dan tidak istirahat. Tidak tahu juga bagaimana mau kencing,” ucap Soegito di bukunya.

Dalam kondisi sangat lelah, mereka sudah pasrah atas apa yang akan terjadi, sekalipun harus mati.

Ternyata betul.

Pada penerjunan di hari H, 12 anggota Nanggala V langsung gugur. Satu orang esok harinya dan lima lainnya hilang. Dari lima yang hilang, tiga ditemukan sudah meninggal dan dua lagi ditemukan di laut, sedangkan satu orang baru ditemukan saat Soegito menjadi Panglima Operasi Keamanan Timor Timur tahun 1982.

Penemuan kerangka manusia di gua itu berhasil diidentifikasi sebagai Sutedjo. “Kemungkinan ia terluka lalu menyuntikkan morfin untuk menghilangkan rasa sakit sampai akhirnya meninggal,” kata Pak Gito dikutip dari bukunya.

Serda Sutedjo merupakan Komandan Regu 2, Peleton 2, Kompi B.

Setelah menduduki Dili, sejatinya suasana sedih menggelayuti segenap anggota Nanggala V. Sebanyak 12 orang rekan mereka gugur, dan ada yang belum ditemukan jenazahnya.

Setelah Dili berhasil dikuasai, Pangkogasgab Brigjen TNI Soeweno sudah memerintahkan Letkol Soegito untuk menduduki Aileu. Di kota ini terdapat pusat latihan militer bekas Tropaz yang oleh Portugis dinamakan Vila General Carmona.

Oleh Soegito diberangkatkan Kompi A Nanggala V dipimpin Lettu Luhut Pandjaitan. “Hut, saya percayakan kepada kamu, nanti Theo yang atur,” ucap Soegito saat itu.

Tepatnya 21 Desember 1975, gerakan menuju Aileu Brigade 4 KTDAD dibantu Kopassandha dimulai.

“Jadi selama di Dili sampai April 1976, kita anggap mereka (yang gugur) masih ada. Sedihnya kalau surat dari keluarganya datang tapi tidak bisa dijawab. Begitu kita akan ditarik pulang, baru mereka kita anggap gugur,” kata Soegito.

“Jadi saya tidak bisa lagi kalau disuruh cerita soal Timor Timur, sedih sekali, itu tragedi kemanusiaan. Keluarga menganggap mereka masih ada dan suratnya tidak dibalas. Yang gugur dapat santunan 14 kali gaji dan perumahan di Bekasi,” beber Soegito.

Sampai Natal 1975, total 24 orang anggota Grup 1 Parako Nanggala V gugur sejak diterjunkan di Dili. Pada 31 Maret 1976, pasukan Kopassandha ini ditarik ke basis dan tiba di Jakarta seminggu kemudian.

Sebagai perwira baret merah, Soegito selalu menunjukkan jati diri keperwiraannya dengan selalu menempatkan dirinya di depan dalam setiap penugasan yang dijalaninya.

Termasuk ketika menjadi Panglima Koopskam Timtim. “Saya datang kalau ada kontak senjata, saya turun langsung,” ujarnya.

Maka pada suatu hari, rekannya Kolonel Polla Daniel yang seangkatan di AMN 61 dan berdinas di Mabes ABRI, melaksanakan inspeksi ke Timtim selama lima hari.

Soegito mengajak temannya itu untuk meninjau situasi di lapangan menggunakan helikopter. Kebetulan sekali terjadi kontak senjata. Soegito langsung memerintahkan pilot heli untuk turun. Soegito turun bersama caraka dan temannya ke lokasi kontak tembak.

Selesai peninjauan dan kembali, temannya ini bertanya. “Git, kalau tadi saya tertembak dan mati, gimana.”

“Kamu pahlawan dan saya akan minta pesawat khusus untuk membawa jenazah kamu ke Jakarta dan kamu dimakamkan di Kalibata,” jawab Soegito tenang.

Menyoal alumni AMN 61, pun jumlahnya sudah berkurang jauh. Pada saat dilantik berjumlah 148 perwira, saat ini hanya tinggal 47 orang. Itupun, kata Soegito, yang masih bisa jalan paling 20 orang dan yang lain dalam kondisi sakit.

Jenderal Douglas MacArthur dalam pidatonya pada 19 April 1951 mengatakan, Old soldiers never die, they just fade away.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply