Apakah 265 Orang Berani Menyerang Dili? 43 Tahun Operasi Seroja dalam Kenangan Letjen (Pur) Soegito

Hari ini, 7 Desember 2018, genap sudah 43 tahun dimulainya Operasi Seroja di Timor Timur yang sekarang menjadi negara merdeka Timor Leste.

Ratusan prajurit TNI diterjunkan untuk merebut Kota Dili dan sekitarnya. Ada yang dari udara, juga mendarat dari laut.

Maka hari ini Letjen (Pur) Soegito yang lahir pada Selasa, 15 Februari 1938 di Kemetiran lor, Yogyakarta, mengenang penuh khidmat masa pertempuran yang dialaminya 43 tahun silam.

“Hari ini, 7 Desember 2018, menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan seluruh rekan-rekan Kopassandha dari Nanggala V yang diterjunkan di Kota Dili sebanyak 263 orang,” ujar Soegito saat ditemui di kediamannya pagi ini.

Bahwa pada hari ini 43 tahun yang lalu, tambah Soegito, mereka diterjunkan di Kota Dili sebagai pembuka Operasi Seroja.

“Operasi penerjunan di kota Dili itu meninggalkan kesan yang mendalam, karena di hari pertama penerjunan itu kami langsung mendapat perlawanan sengit yang mengakibatkan gugurnya belasan anak buah saya dan 32 orang luka-luka,” kata Soegito sambil menerawang.

Menurut Soegito, Operasi Seroja adalah operasi terbesar yang pernah dilaksanakan ABRI sejak 1945. Baik dalam pengerahan pasukan, jangka waktu yang digunakan serta dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan.

Dimulai sejak 7 Desember 1975, sampai Referendum yang berakhir dengan lepasnya Timor Timur.

Di usianya yang sudah 80 tahun, kondisi fisiknya memang sudah jauh menurun. Kulitnya sudah keriput, matanya sudah tidak awas, jalannya pun sudah gontai, dan tangannya yang kekar sudah tidak sekuat dulu lagi meski tetap menyisakan kekuatan prajurit komando.

Sesuai hukum alam, usia adalah takdir yang tidak bisa dilawan manusia.

Soegito masih ingat pada Jumat pagi, 5 Desember 1975, sebagai Komandan Grup 1 Kopassandha, ia kumpulkan pasukan Nanggala V di sebuah barak. Pertemuan itu untuk membagi tugas setiap tim.

Malamnya, Soegito dipanggil Mayjen Benny Moerdani di Tebet dan baru diterima tengah malam sekitar pukul 24.00 Wib.

Sudah hadir KSAU Marsekal Saleh Basarah. Bersama Mayor Theo Syafei sebagai perwira operasi, Soegito mendengarkan penjelasan terkait rencana penerjunan di Dili.

Mereka sudah diputuskan akan diterjunkan di Dili berdasarkan Skep 23/X/1975 tanggal 25 Oktober 1975.

Ketika Benny Moerdani menanyakan apakah dengan 265 orang berani menyerang Dili lewat operasi lintas udara? Soegito menjawab dengan singkat dan tegas: “Pak, saya siap melaksanakan perintah.”

Awalnya kekuatan Grup 1 memang 265 orang. Namun kemudian dua perwiranya memperkuat Denpur 2 Grup 2 yang secara mendadak diberangkatkan mendahului untuk bergabung dengan Operasi Flamboyan. Sehingga tersisa 263 orang.

Soegito mantap menerima tugasnya. Sejatinya belum empat bulan Soegito menduduki jabatan sebagai Komandan Grup 1 Kopassandha.

Sedikit mendadak, Letkol Inf Soegito menerima telegram dari Danjen Kopassandha Brigjen TNI Yogie Suardi Memet untuk menjadi Komandan Grup 1 Para Komando Kopassandha. Ia menggantikan Letkol Inf Samsudin.

Ia diminta segera menyerahterimakan jabatannya sebagai Wakil Komandan Grup 3. Tidak sekadar promosi jabatan, jauh lebih hebat dan lebih menantang, ia diperintahkan segera menyiapkan pasukan untuk diterjunkan di Dili.

Komposisi Satgas Nanggala V terdiri dari Markas Grup 30 personel (semua Grup 1), Denpur 1 sebanyak 265 orang yang terdiri dari Komando Detasemen 10 orang, Kompi A 100 orang, Kompi B 100 orang, Peleton Hubungan Lapangan 13 orang, dan Kesehatan Detasemen 12 orang.

Sedangkan Denpur 2 berkekuatan 235 orang terdiri dari Komando Detasemen 10 orang, Kompi A 100 orang, Kompi B 100 orang, Peleton Hubungan Lapangan 13 orang, dan Kesehatan Detasemen 12 orang.

Susunan organisasi terdiri dari Kepala Seksi (Kasi) 1 Intelijen Mayor Inf Muji Raharjo, Kasi 2 Operasi Mayor Inf Atang Sutresna, Kasi 3 Personalia Mayor Inf Ilyas Yusuf, Kasi 4 Logistik Mayor Inf Luthfi Banser, Kesehatan Kapten Dr. Asep Ema P, dan Perhubungan Kapten Hendrik L.

Mayor Inf Theo Syafei ditunjuk sebagai komandan Denpur 1 dan Kapten Inf Muhidin komandan Denpur 2.

Dalam briefing singkatnya kepada para perwira, Soegito hanya bilang, “Kita lakukan persiapan secepatnya karena sewaktu-waktu dibutuhkan kita akan berangkat.”

Biografi Soegito yang di dalamnya menceritakan Operasi Seroja secara detail. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Mayor Theo Syafei ditunjuk sebagai Dandenpur dan Mayor Atang Sutresna sebagai Kasiops. Soegito kenal betul watak kedua perwira ini.

Theo adalah karakter perwira pemikir, sebaliknya Atang adalah perwira lapangan tulen dengan fisik kuat dan lincah.

Dengan pertimbangan itu, Soegito melakukan sedikit perombakan dalam struktur organisasi Nanggala V. Theo dan Atang saling bertukar posisi, yang membuat Atang sedikit menggerutu karena dijadikan Dandenpur.

Pergantian perwira ini setidaknya sesuai arahan Danjen Kopassandha: Tidak boleh menambah atau mengurangi pasukan, mengubah boleh.

Penerjunan pada 7 Desember 1975 adalah bagian dari sejarah TNI yang gemilang. Penerjunan pasukan komando menggunakan delapan pesawat C-130 Hercules “Rajawali Flight” TNI AU, menjadi bukti profesionalisme prajurit TNI.

Apapun komentar orang tentang Operasi Seroja, bagi Soegito tetaplah sebuah operasi militer terbesar dalam sejarah kemiliteran Indonesia.

“Operasi Dili itu menurut saya operasi militer terbesar yang pernah dilaksanakan TNI hingga saat ini. Pengerahanan pasukan dan peralatan sangat besar dan luar biasa,” ungkapnya seperti ditulis di biografi “Letjen (Pur) Soegito Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen”.

Masih banyak anggota Nanggala V yang bisa bercerita hari ini, sebagai saksi hidup operasi militer yang hebat. Umumnya sudah berusia di atas 70 tahun. Tidak sedikit pula yang sudah sakit. Hanya sesekali mereka berkumpul.

Sambil merenungkan masa lalunya, Soegito hanya bisa berharap masih ada perhatian terhadap bekas anak buahnya.

Bagi Soegito, operasi penerjunan di Dili itu adalah satu-satunya operasi militer yang dilakukan TNI dengan tingkat risiko paling tinggi. “Kita terjun langsung disambut tembakan dari bawah,” tuturnya.

Sampai Natal 1975, total 24 anggota Grup 1 Parako (Nanggala V) gugur sejak diterjunkan di Dili pada 7 Desember.

Pada 31 Maret 1976, Kopassandha ditarik ke basis dan tiba di Jakarta seminggu kemudian dengan menumpang kapal KM Tolando.

“Marilah sejenak kita menundukkan kepala untuk mengenang arwah rekan-rekan seperjuangan yang sudah mendahulu kita,” urainya.

Anggota Parako yang Gugur 7 Desember 1975

No Nama Pangkat NRP Jabatan Penyebab Makam
1 Atang Sutresna Mayor 20341 Dandenpur 1 Luka tembak TMP Dili No 1
2 Omo Atmari Serda 6546120227 Dan Ru 3/3 Ki B/I Luka tembak TMP Dili No 2
3 Soekarno Serma 368164 Ba Ton 1 Ki B Luka tembak TMP Dili No 3
4 I Wayan Rija Serda 624364403 Dan Ru 2/3 Ki B/I Luka tembak TMP Dili No 4
5 Karsu M Koptu 384457 Pen RL Ru 2/3 Ki A/I Luka tembak TMP Dili No 5
6 Kamin S Koptu 384837 Taruh/Mudi Denpur 1 Luka tembak TMP Dili No 6
7 Ramdoni Koptu 384981 Ang.Ru 3/3 Ki A/I Luka tembak TMP Dili No 7
8 F Rabuman Koptu 363483 Wadanru 1/ 2 Luka tembak TMP Dili No 8
9 A Dachlan Koptu 384931 Ang.Ru 1/ 2 Ki B/1 Luka tembak TMP Dili No 9
10 Kidam Koptu 368195 Wadanru 2/3 Ki B/1 Luka tembak TMP Dili No 10
11 Abidin Oman Serda 385138 Danru 3/3 Ki A/1 Luka tembak TMP Dili No 11
12 Sama’un Koptu 368362 Ta Ban/Jurlis Si 4 Tenggelam di laut TMP Dili No 28

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: