Diberhentikan
Hanya setahun Dewanto menjadi Atase Udara di Moskwa, sebelum dipulangkan ke Indonesia dan diberhentikan dengan hormat dari dinas tentara terhitung 31 Maret 1967. Bersama dia turut diberhentikan sejumlah perwira tinggi AURI lainnya. Dalam persidangan yang dijalaninya, Dewanto hanya bilang bahwa dia hanya menjalankan perintah Panglima Tertinggi.
Hari itu, 1 Oktober 1965, Dewanto membatalkan rencana meresmikan sekolah intelijen udara di Semplak, Bogor. Kondisi Ibukota tidak menentu. Esok siangnya, Dewanto memanggil perwira intelijen Kapten (Pnb) Kundimang untuk membawanya terbang dengan Cessna 180 untuk memantau Jakarta dari udara.
Di hari yang sama, Dewanto berhasil menghentikan kontak tembak di kawasan Pondok Gede antara Yonif 454 Banteng/Raiders dipimpin Kapten Koentjoro dari Jawa Tengah dengan RPKAD dipimpin Mayor Inf CI Santosa.
Hampir saja sebuah oplet berpenumpang penuh yang kebetulan melintas, jadi sasaran tembak kedua pasukan.

Dewanto, nampang dengan sepeda motor Vespa. Foto diambil kemungkinan di Inggris. Foto: dok. mylesat.com
Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo meminta Dewanto menemuinya. Dalam pertemuan itu disampaikan Dewanto bahwa Raiders bersedia move jika ada jaminan dari “rambutan”, sandi RPKAD di lingkungan AURI.
Sarwo Edhie menyanggupi dengan mengutus Mayor Gunawan sebagai jaminan. Koentjoro pun membawa pasukannya ke arah timur.
“Mungkin sejarah akan berbeda jika Dewanto tidak mendamaikan RPKAD dan Banteng Raiders,” ucap Meitie.
7 Bersaudara
Menjadi anak pertama dari tujuh bersaudara, Dewanto mengalami betul masa-masa sulit di keluarga. Suasana revolusi menyongsong masa remajanya, menggiring Toto (panggilan Dewanto) bergabung dengan Tentara Pelajar (TP).
Bapaknya yang seorang guru tak kuasa membendung keinginan anak pertamanya memanggul senapan bersama pemuda di “anak-anak Solo”. Ia bergabung dengan kesatuan Slamet Riyadi.
Sebagai anggota TP, Dewanto ikut dalam sejumlah misi. Di antaranya pencegatan konvoi Belanda dari Semarang-Solo di daerah Boyolali. Dewanto nekat menyerang konvoi panser Belanda namun kurang cermat.
Beruntung anak-anak TP sering mendapat bantuan dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI dipimpin OMO (Opsir Muda Oedara) II Wiriadinata, yang memiliki senapan mesin kaliber 12,7mm.
Dari enam adiknya, dua di antaranya menyusul berkarier di ABRI. Adik perempuannya, Bernadet Sutanti, menjadi anggota Wara (Wanita Angkatan Udara) angkatan pertama. Yang laki-laki, I Dewadi, bergabung dengan AL.
Sedianya adiknya yang laki-laki ini akan diikutkannya dalam rombongan 60 kadet AURI yang dikirim ke Transocean Airlines Oakland (TALOA) Academy of Aeronautics di Kalifornia tahun 1950. Namun karena terganjal usia, ditolak AURI.
Untuk menunjukkan dirinya istri perwira, Meitie mengikuti sejumlah kegiatan kemiliteran. Di Yogya, ia menerbangkan pesawat terbang layang hingga solo. Nyaris insiden ketika pesawatnya terbang terlalu dekat dengan tower ATC Yogya.
Begitu juga ketika Presiden Soekarno memanggil istri-istri prajurit untuk bersiap menghadapi mobilisasi umum Ganyang Malaysia 1963, Meitie berada di baris terdepan mengikuti semua rangkaian pelatihan militer yang diberikan.
“Itu bukan propaganda, kami benar-benar berlatih selama beberapa bulan di Halim, termasuk menembak,” ujar Meitie.
Meitie pernah menjadi Ketua Umum PIA Ardhya Garini menggantikan Ibu Omar Dhani, meski suaminya bukan KSAU. Kenapa dirinya, Meitie tidak tahu.
Ketika pelatih menawarkan latihan terjun payung kepada ibu-ibu perwira, hanya Meitie yang angkat tangan bersama dua istri prajurit lainnya. Penerjunan dilaksanakan di Halim dari pesawat Dakota.
Menurutnya, latihan diawali dengan uji coba di ejection seat. “Terjunnya nekat, pokoknya percaya saja. Saya mau begitu untuk menunjukkan bahwa saya istrinya Dewanto. Bapak tidak melarang, malah nyuruh sebagai istri perwira. Memang kalau tidak berani tidak usah karena ini bukan materi wajib,” katanya.
“Hanya saya istri TALOA yang terjun, karena ibu-ibu kan umumnya feminim,” aku Meitie.
Kompi ini ikut defile di depan Bung Karno pada upacara HUT ABRI 1963 di Senayan. Meitie yang menjadi komandan kompi melihat jelas senyum lebar Bung Karno sambil menepuki ibu-ibu PIA yang melintas di depannya. “Karena istri-istri AURI terkenal cantik-cantik,” ucap kelahiran Solo, 22 Februari 1936 ini tersipu.
Anehnya, diakui Meitie, suaminya justru dekat dengan mantan “musuhnya” yaitu Mayor (Pur) Petit Muharto. Penerbang C-47 Dakota ini membelot ke Permesta pada masa konflik. “Yang spesial itu Mas Petit. Ia pernah bilang, aku disuruh terbang nembak wong edan, tidak mau aku. Dia hormat sekali kepada Dewanto. Hormat dan takut,” ujar Meitie.
Dewanto memang edan, gila, yang di mata Meitie sebenarnya lebih gila dari Leo Wattimena. Mungkin karena bukan komandan skadron, penyuka kopyor ini tidak jadi omongan.
Baca Juga:
Menurut Anastasia Meitie Dewanto, kedua penerbang ini memang gila. Namun dalam ingatannya, Dewanto lebih sembrono. “Karena itu setiap kali nyekar ke Kalibata, saya selalu berhenti di makam Leo.”

Ibu Meitie menerima ucapan duka dari dua mantan KSAU yaitu Roesmin Nurjadin dan Ashadi Tjahjadi (di belakang). Foto: dok. mylesat.com
Almarhum Marsma (Pur) Andoko pernah menceritakan kegilaan temannya. “Hari itu saya mendarat di Halim. Tak lama kemudian sebuah Mustang mendarat. Kalau cuma mendarat nggak apa-apa, tapi yang bikin saya kaget, di belakang Mustang itu ada kawat listrik nyantol. Saya tanya kru, siapa itu. Pak Dewanto, jawab mereka enteng.”
Andoko tidak habis pikir. “Betapa rendahnya dia terbang.” Seseorang lalu nyeletuk, “Biasa Pak, kalau Pak Dewanto pulang latihan pasti bawa kawat listrik.”
Andoko tidak lupa, Dewanto lah yang dipercaya menjadi leader formasi belasan pesawat latih Harvard dalam peringatan Kemerdekaan RI ke-10 di Istana. Dalam fly past, Harvard yang take off dari Kalijati membentuk formasi RI-10. “Latihannya hanya seminggu,” tutur Andoko yang memimpin kelompok angka 10.
Dewanto Gugur
Setelah melepaskan status militernya, Dewanto sempat mengisi waktunya dengan jualan kelapa dari Jakarta ke Banten. Dia jalani sekitar tiga bulan. Kemudian bergabung dengan perusahaan carter SMAC (Sabang Merauke Raya AC) yang berbasis di Medan.
Born to be a pilot, Dewanto dengan cepat populer di kalangan penerbang SMAC. Ia pun didaulat menjadi suhu. Sampai hari itu tahun 1970, pagi-pagi sekali ia sudah menerbangkan Piper PA-23 Aztec dari Payalebar, Singapura ke Medan karena harus membawa pengusaha perkebunan dari Medan ke Cot Girek, Aceh.
Malang baginya, di perjalanan pesawatnya mengalami engine trouble dan jatuh. Proses pencarian yang tidak berujung itu baru menghasilkan delapan tahun kemudian. Presiden Soeharto memerintahkan untuk kapanpun ditemukan, segera ambil jenazahnya.
Dari reruntuhan bangkai pesawat dan melihat posisi kerangkanya yang beberapa meter dari pesawat, Dewanto dipastikan masih hidup saat jatuh. Jenazahnya mudah dikenali, karena jam tangan berlambang AURI masih melekat di tangannya.
Ketika Dewanto dinyatakan hilang, Meitie langsung terbang dari Jakarta ke Medan. Ia menginap di kediaman Panglima Kodau IV, Sutoyo. Hampir setiap hari ia ikut tim SAR dari udara.
Setelah SAR dihentikan, Meitie mengaku jatuh ke dalam situasi tekanan mental terburuk yang pernah dialaminya.
Dua tahun ia mengurung diri di rumah, tidak pernah ke gereja karena marah kepada tuhan, dan menitipkan anak-anaknya kepada adik-adiknya. Berbagai upaya perenungan, puasa, atau mati geni dilakukannya, berharap sang suami ditemukan.
Teman-teman Dewanto sesama alumni TALOA memberikan dorongan. Mereka bilang kepada Meitie, “Toto itu orangnya keras dan disiplin serta sayang sekali kepada keluarganya. Jadi kalaupun kaki dan tangannya hilang, dia akan kembali pulang dan bukannya menyembunyikan diri.”
Setelah berkonsultasi dengan teman-teman TALOA dan seizin anak-anaknya, tahun 1974, Meitie menikah lagi dengan pria Amerika bernama Martin Wilson. Ia waktu itu menjadi petinggi perusahaan kontruksi raksasa Bechtel dari Amerika yang mendapat proyek pembangunan sejumlah kilang minyak dan gas di Indonesia.

Ibu Meitie menyerahkan kursi pesawat B-26 Allan Pope kepada Kepala Muspusdirla, Yogyakarta, Kolonel Sus Drs. Sudarno pada 16 September 2015. Foto: dok. mylesat.com
Tahun 1993, Meitie diboyong ke Amerika dan tinggal di Arizona hingga sekarang. Wilson meninggal karena sakit tahun 2006.
Dewanto menurut Meitie mengantongi dua Bintang Sakti. Orangnya sumeh, penolong, mudah akrab, tegas, selektif terhadap pemberian, mengutamakan pengabdian dan kalau berbicara logat Jawa-nya kental namun tidak terlihat saat berbahasa Inggris.
Selektif terhadap pemberian, dibuktikannya saat menolak jatah beras dan daging dari Mabesau.
Meski sudah ditinggalkan Dewanto 50 tahun yang lalu dan hanya menikmati kebersamaan selama 12 tahun, ingatan Anastasia Meitie Dewanto tidak pernah luntur terhadap suaminya, Ignatius “Wedono” Dewanto.