MYLESAT.COM – Dua pesawat TNI AU yang membawa bantuan kemanusiaan dan tim khusus tanggap darurat Indonesia telah mendarat di Bandara Adana, Turki pada Minggu (12/02/2023) pada pukul 06.50 UTC (09.50 WIB). Perkiraan waktu pendaratan sedikit molor karena padatnya lalu lintas penerbangan yang mengirim bantuan kemanusiaan ke Turki.
Baca Juga:
- Kencana Zero Four: Misi Menantang Jemput WNI di Afghanistan
- Buku Ketiga, KSAU Luncurkan Buku Kencana Zero Four Evakuasi WNI dari Afghanistan
Pemerintah Indonesia mengirim dua pesawat TNI AU untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan masyarakat Indonesia ke Turki pasca gempa berkekuatan 7,8 magnitudo.
Kedua pesawat yang diterbangkan adalah Boeing B737-400 A-7308 “Kencana 04” Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta dan C-130H Hercules A-1326 “Herky 01” Skadron Udara 32, Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

Misi kemanusiaan Indonesia membantu Turki usai dilanda gempa berkekuatan magnitudo 7,8. Foto: Skadron Udara 17
Boeing A-7308 diterbangkan Mayor Pnb Arief M. Hakim membawa personel yang tergabung dalam Medium Utility Search And Rescue (Musar) dan Emergency Medical Team (EMT). Sementara C-130 diterbangkan Letkol Pnb Yudi Bandung membawa batuan logistik.
Total logistik seberat 11 ton lebih itu diangkut C-130 dan sebagian menggunakan Boeing A-7308. Bantuan berupa jas hujan, sepatu booth, selimut, bahan makanan dan obat-obatan.
Kedua pesawat melaksanakan misi penerbangan dari Jakarta ke Turki dengan menempuh penerbangan kurang lebih 4.532 Nm.
Pesawat Boeing A-7308 menempuh rute Halim Perdanakusuma – SIM Banda Aceh – Chennai (India) – Abu Dhabi (UEA) – Adana Turki. Sementara C-130 Hercules dari Halim Perdanakusuma – SIM Banda Aceh – Yangoon (Myanmar) – Mumbai (India) – Abu Dhabi (UEA) – Adana Turki.
Kita masih ingat kepadatan lalu lintas penerbangan saat bantuan dari seluruh dunia berdatangan ke Medan dan Aceh pasca tsunami 2004. Beberapa pesawat harus holding berjam-jam atau dialihkan ke bandara terdekat seperti Medan, Batam, dan Malaysia.
Kurang lebih, suasana itupun terjadi di Bandara Adana saat kedua pesawat TNI AU mendarat di kota tesebut.
Bandara Adana Sakirpasa (IATA: ADA, ICAO: LTAF), dalam bahasa Turki disebut Adana Havalimani, adalah sebuah bandara internasional yang melayani wilayah Adana dan Çukurova serta provinsi-provinsi di sekitarnya di Turki.
Setelah mendarat dan menurunkan bantuan kemanusiaan dan petugas tanggap darurat Indonesia, B737 A-7308 bertolak ke Abu Dhadi. Namun rencana penerbangan ke Abu Dhabi juga tidak mudah. A-7308 sempat mengalami penundaan lepas landas selama tiga jam karena padatnya traffic.
Pagi ini, B737-400 A-7308 “Kencana 04” direncanakan akan bertolak dari Abu Dhabi ke Chennai di India dan selanjutnya mendarat di Aceh.
Dari informasi yang mylesat.com terima, pesawat C-130H Hercules A-1326 akan tetap berada di Ankara setidaknya hingga satu minggu ke depan untuk keperluan mobilitas tim tanggap darurat Indonesia. Yaitu menjemput dan membawa pulang tim ke homebase di Turki.
Selain padatnya air traffic di Turki, kendala teknis berikutnya juga dialami kru sebelum pendaratan di Adana. Disebutkan bahwa mandatory requirement yang diberlakukan pada pesawat di wilayah udara Eropa adalah sudah menggunakan CPDLC (Controller Pilot Data Link Communications).
CPDLC adalah sarana komunikasi antara controller (ATC) dan pilot menggunakan data link untuk komunikasi. CPDLC adalah sistem data-link dua arah yang memungkinkan pengontrol mengirimkan pesan kepada pilot tanpa menggunakan komunikasi suara.
CPDLC awalnya digunakan apabila pesawat berada di wilayah Oceanic yang tidak terdapat VHF dan HF. Sehingga controller sulit menjangkau via voice kepada pilot dan pilot juga menangkap sinyal VHF dengan suara yang memiliki banyak interference. Untuk itulah dibutuhkan CPDLC agar controller tetap dapat memandu pilot dalam jelajah terbang. CPDLC menggunakan VSAT.
“Sebenarnya requirement pesawat kita nggak boleh masuk Europe Airspace, cuma karena ini state aircraft akhirnya diizinkan dan itu pun butuh koordinasi yang tidak mudah oleh para atase pertahanan kita,” ujar Lettu Pnb Andhika Pratikno, S. T. Han, yang menjadi salah satu penerbang yang terlibat dalam misi ini.
Lettu Andika sendiri sebelumnya sudah memiliki pengalaman saat terlibat dalam misi evakuasi WNI dari Afghanistan pada 25 Agustus 2021.
Kita patut bersyukur karena atas nama kemanusiaan, semua kendala dan hambatan bisa dilewati oleh semua unsur yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Negara penerima pun memberikan kemudahan meski secara flight plan sudah tidak sesuai dengan standar yang diterapkan di Eropa.
Semoga seluruh tim kembali ke tanah air dengan selamat. Kita berharap bantuan yang diberikan pemerintah Indonesia ini bisa meringankan derita saudara-saudara kita di Turki dan Suriah.
Daftar Personel Misi Kemanusiaan Indonesia ke Turki
Mission commander: Kolonel Pnb E. Wisoko Aribowo
Pesawat B737-400 A-7308 “Kencana 04”:
Mayor Pnb Arief R. Hakim
Mayor Pnb Kresna Hendra W
Lettu Pnb Edo Wibisono
Lettu Pnb Andhika Pratikno
Lettu Pnb R.Y. Alfiosa
Serka Priyan W
Letda Agus Dwi
Serka Luqman Teguh
Sertu Katon
Lettu Andromeda
Peltu Agus Nuryanto
Pratu A. Nursalim
Pesawat C-130H Hercules A-1326 “Herky 01”:
Letkol Pnb Yudhi Bandung
Mayor Pnb Andang Rohiman
Kapten Pnb Soni B.
Lettu Pnb Bima S.
Lettu Pnb Rico S.
Kapten Nav Yefta K.
Lettu Nav Fauzi N.P
Serma Eko Hariyanto
Peltu Parjiyana
Letda Tek Bayu I.
Kapten Tek Toro Subagiyo
Kapten Tek Made S.
Serma Hosen Pribadi
Serma Bayu Sumengkar
Pelda Budi Santoso
Serma Agus Wahyudi
Sertu Slamet R.
Serma Nur Irvan A.
Pratu Amirul M
Pratu Raehan A.
Serka Rudi Syahputra
Personel PAM Satbravo 90 Kopasgat
Lettu Pas Ade Prasetiono
Sertu Rahardian
Serda Renaldy Kasah