Al Fursan Kagetkan Dunia di Dubai Air Show 2025, Pilih Terbangkan Hongdu L-15

0

MYLESAT.COM – Tim aerobatik papan atas dunia dari Uni Emirat Arab, Al Fursan, tampil apik sekaligus mengagetkan dunia di Dubai Airshow 2025. Apa pasal? Al Fursan memperkenalkan armada baru jet latih Hongdu L-15 setelah 15 tahun menerbangkan Aermacchi MB-339. Dubai jadi saksi penampilan pertama tim sejak L-15 dipilih.

Mengusung konsep mewah dan aristokrat, L-15 mengusung corak black-and-gold paint scheme. Tepuk tangan riuh disela asap merah biru pekat yang selalu jadi kemewahan Al Fursan. Bendera UEA dilukiskan pada bagian bawah setiap sayap. Sebuah tangki bahan bakar diesel kecil dipasang pada pylon garis tengah untuk mendukung produksi asap.

Dari penelusuran di media inernasional, diketahui bahwa UEA menandatangani kontrak dengan CATIC (China National Aero-Technology Import & Export Corporation) untuk 12 unit L-15, dengan opsi tambahan 36 unit di masa depan. Konfirmasi penutupan kesepakatan dilakukan saat IDEX 2023 di Abu Dhabi.
Menurut laporan The National, harga L-15 (varian ekspor/twin-seater) berada di kisaran US$ 10–15 juta per pesawat. Namun dalam rilis resmi AVIC dan CATIC, nilai total kontrak tidak dipublikasikan secara terbuka.

Pesawat Hongdu L-15 milik Al Fursan dri Uni Emirat Arab.

Karena difungsikan sebagai pesawat aerobatik, spesifikasi dan kapabilitas L-15 versi pesanan UEA dikatakan memiliki kemampuan (aerial refuelling) menurut AVIC. Pesawat L-15 bersifat multirole, yaitu bisa untuk latihan (trainer) tapi juga sebagai kemampuan tempur ringan (light combat) seperti serang darat atau serangan udara terbatas.
Menurut dokumen Times Aerospace, L-15 untuk UEA (Al Fursan) memiliki sistem pelatihan taktis (embedded tactical training), sistem perencanaan misi, datalink, HUD (Head-Up Display) dengan layar lebih lebar.
Kenapa Al Fursan memilih L-15 dari China, bukan pesawat Barat? Salah satu motivasi UEA adalah untuk mendemokratisasi sumber peralatan militer dan mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional Barat.
Meski kontrak “ditutup” (closed sale) menurut laporan Aviacionline saat IDEX 2023, detail waktu pengiriman (delivery schedule) juga tidak diungkap secara rinci dalam publikasi resmi.
Dari dokumen publik, kontrak L-15 antara UEA dan China cukup signifikan, tapi tidak sepenuhnya transparan: nilai total dan jadwal pengiriman masih sebagian besar bersifat rahasia atau tidak dipublikasikan secara lengkap.
Pengumuman awal (LOI) UEA untuk membeli 12 L-15 dengan opsi 36 tambahan pada 23 Februari 2022.
Estimasi nilai kontrak berdasarkan laporan Aviation Week menyebut paket terkait (dilaporkan lewat Tawazun Council) bernilai sekitar AED 1.62 miliar (US$440 juta). Angka ini muncul dalam laporan media industri, tetapi detail komponen (pesawat saja vs paket pelatihan/suku cadang/logistik) tidak sepenuhnya dipublikasikan.
Sejak pembentukannya (awal 2010-an), tim ini menggunakan pesawat trainer Aermacchi MB-339NAT. Setelah sekitar 15 tahun terbang dengan MB-339, UEA mulai mempertimbangkan penggantinya.
Menurut laporan, UEA mengevaluasi L-15 sebagai pengganti MB-339 pada sekitar tahun 2021. Bersaing dengan Leonardo M-346 dan KAI T-50. Pada Februari 2023, China dan UEA menyepakati penjualan L-15. AVIC (pabrikan China) menyatakan bahwa kontrak telah ditandatangani. Menurut pemberitaan, ini adalah ekspor L-15 paling menonjol hingga saat ini.
Di Dubai Airshow 2025, Al Fursan menampilkan L-15 barunya. Warna cat L-15 tim aerobatik disesuaikan: skema hitam dan emas yang baru, evolusi dari skema MB-339 lama. Penggantian MB-339 dianggap diperlukan karena umur pesawat dan kebutuhan penyegaran armada.
Secara tidak langsung, UEA juga tampak ingin mendiversifikasi sumber peralatan militer, tidak hanya mengandalkan produsen Eropa atau Barat.
Dengan L-15, UEA mendapat pesawat latih canggih (cockpit digital, fly-by-wire, twin-engine) yang bisa mendukung pelatihan pilot jet tingkat lanjut.
Hongdu L-15
Pesawat Hongdu L-15 lahir dari kebutuhan China akan pesawat latih canggih yang mampu menjembatani pilot muda menuju kokpit jet tempur modern. Pada awal 2000-an, Hongdu Aviation Industry Corporation memulai proyek ini dengan menggandeng Yakovlev dari Rusia, yang berpengalaman mengembangkan pesawat latih. Kolaborasi melahirkan sebuah rancangan yang tidak hanya modern, tetapi juga mampu meniru karakteristik jet tempur generasi 4 dan 4,5 seperti J-10 dan J-11.

Perkembangan L-15 bergerak cepat. Setelah serangkaian uji desain dan evaluasi, prototipe pertamanya berhasil mengudara pada 13 Maret 2006. Mengandalkan dua mesin Ivchenko-Progress AI-222 buatan Ukraina, termasuk varian dengan afterburner, L-15 mampu mencapai performa tinggi yang diperlukan untuk melatih pilot generasi baru.

Teknologi seperti fly-by-wire, glass cockpit, dan avionik digital membuat pesawat ini terasa sangat dekat dengan jet tempur modern yang menjadi tujuan akhir para siswa penerbang.

Seiring waktu, L-15 berkembang menjadi beberapa varian, termasuk L-15A sebagai pesawat latih standar, L-15B yang dilengkapi kemampuan tempur ringan, serta versi ekspor yang dikenal dengan nama L-15 Falcon.

Varian-varian ini tidak hanya digunakan China, tetapi juga menarik perhatian negara lain seperti Zambia, Myanmar, dan Uni Emirat Arab yang menjadikannya pesawat untuk tim aerobatik Al Fursan.

Kini, L-15 menempati posisi penting dalam dunia aviasi. Penampilannya yang penuh decak kagum di Dubai Airshow 2025, jadi etalase yang bisa membuat rivalnya sekejap ciut.

Dengan kemampuannya yang fleksibel dan harganya kompetitif, Hongdu L-15 terus memperkuat reputasinya sebagai salah satu jet latih paling menonjol di kelasnya, dan layak diakuisisi.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply