“Ini Jalan Jingga Saya”, Prinsip Bushido dalam Perjalanan Karier Marsda TNI (Purn) Yudi Bustami

0

MYLESAT.COM – Komandan Kompi C Yongab Ambon, Kapten Pas Yudi Bustami geram sekali saat menerima laporan anak buahnya tertembak dalam kerusuhan di Ambon tahun 2000. Membawa dua anak buahnya, Yudi bergegas menuju TKP. Perintah kembali ke basis dari Komandan Yongab Ambon Mayor Inf Ricky Samuel pun ia abaikan, demi menjaga marwah negara.

“Danki hentikan … hentikan,” ucap Mayor Ricky berkali-kali di radio. Namun Kapten Yudi sudah nekad, apapun akan dihadapinya demi menjaga moril pasukannya dan marwah TNI. Karena tidak kunjung ada jawaban dari Danki, Danyon sampai berteriak di radio dan memanggil-manggil namanya. “Yudi … Yudi … hentikan!”

Perwira Seksi Logistik (Pasilog) Kompi C Yongab Ambon yaitu Letnan Inf Agung bersama lima anggotanya Warsito alias Romo, Suparjo, Timbul, Abdul Muis, Siswanto dan pengemudi Heri P., berangkat dari Waiheru untuk mengambil logistik di Pelabuhan Halong. Duduk di depan Letnan Agung bersama Warsito. Truk Reo milik Marinir itu melaju ke Halong.

Saat perjalanan kembali ke basis, mereka dihadang dan diserang oleh sekelompok orang bersenjata yang bersembunyi di sebuah bangunan. Penembakan ini mengenai Letnan Agung dan dua anggota lainnya. Siswanto dari Korpasgat, terkena tembakan di bagian pinggulnya. Setelah dievakuasi, Siswanto sempat menjalani operasi pemotongan usus sepanjang 15 cm.

Setelah truk kembali ke Halong melalui rute yang lain seraya melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami kepada komando atas. “Ternyata mereka sudah mempersiapkan killing ground, itu membuat saya sangat marah,” kata Yudi (halaman 148).

Narasi yang sangat heroik dari daerah pertempuran ini adalah penggalan dari buku “Marsekal Muda TNI (Purn) Yudi Bustami, S.Sos., Ini Jalan Jingga Saya”. Buku yang telah beredar sejak awal Mei 2025 ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Buku “Ini Jalan Jingga Saya” yang ditulis Beny Adrian mengisahkan perjalanan hidup Marsda (Purn) Yudi Bustami sejak masa kecilnya di Margahayu, Bandung, bagaimana kearifan sedari dini sudah membimbingnya untuk melewati berbagai rintangan, persimpangan penting hingga akhirnya mencapai titik-titik bersejarah yang menandai jejak pengabdiannya khususnya di Korpasgat.

Sebagai prajurit, Yudi Bustami melewati berbagai penugasan yang di dalamnya berikut tantangan dan peluang yang mendewasakannya. Sejak masih menjadi taruna AAU (Akademi Angkatan Udara) hingga dilantik tahun 1989, ia sudah bergumul dengan ‘konflik’ yang membentuk jati dirinya.

Ketabahan dan keuletannya tidak pernah surut meski menghadapi berbagai rintangan. Di medan latihan dan penugasan, Yudi Bustami sudah menghadapi banyak tempaan.

Menenangkan masa di Bandara Dili saat menyambut kedatangan Uskup Bello (hal. 56), menindak anggota yang nakal (hal. 62), kehilangan anggota sekaligus sahabat di Aceh (hal.65), dipercaya memimpin Denbravo saat pertama kali dikukuhkan (hal.84), kehilangan anggota di Ambon (hal.136), dan tiga kali mengalami cutaway saat latihan terjun (hal.190), bahkan memperjuangkan konsep tempur Korpasgat OP3U yang pada masa itu mendapat banyak tekanan.

Dalam konteks ini membuat kita mengamini pendapat para ahli yang mengatakan bahwa seorang prajurit tempur tidak ditempa oleh kemenangan semata, tetapi oleh rintangan dan cobaan yang menguji keteguhan hatinya. Di sanalah kedewasaan militernya lahir.

Banyak kisah perjalanan hidup Yudi Bustami yang dapat kita temukan dalam buku ini. Ia menuturkan seluruh pengalamannya dengan jujur dan terbuka, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan dinamika hidup yang pernah ia jalani sebagai wujud prinsip Bushido (kehormatan) ksatria Jepang yang dipegangnya. Baik kisah keberhasilan, kegagalan, maupun pelajaran yang membentuk dirinya hingga menjadi sosok yang kita kenal hari ini.

Darah ksatria mengalir kuat di dalam dirinya sebagai warisan dari orang tuanya Letda (Purn) Sukarmin yang mengawali karier sebagai tamtama TNI AU di Lanud Sulaiman. Bahkan ditarik lebih jauh, kakeknya, Mbah Salim, yang berasal dari Sleman, Yogyakarta, tercatat sebagai anggota KNIL Belanda. Sedangkan ibunya Ramijati yang asli Betawi, meninggalkan didikan tentang kepedulian kepada sesama.

“Jalan Jingga Saya” adalah pengingat bahwa kebanggaan seorang prajurit Korpasgat tidak diukur dari pangkat atau jabatan, tetapi dari dedikasi, kebanggaan, dan pengorbanan yang mereka berikan tanpa pamrih untuk tanah air. “Ini Jalan Jingga Saya” menjadi lebih dari sekadar motto, ia adalah warisan semangat yang ingin ditanamkan Marsda (Purn) Yudi Bustami kepada generasi muda Korpasgat.

Motto ini mencerminkan filosofi pengabdian tanpa batas, di mana setiap prajurit Kopasgat diajak untuk memberikan seluruh kemampuan terbaiknya. Tidak hanya dalam tugas-tugas harian tetapi juga dalam momen- momen kritis yang membutuhkan keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih. “Pengabdian tidak mengenal batas dan waktu,” ujar Yudi.

Dengan semangat ini, Yudi Bustami tidak hanya berbicara tentang kehebatan fisik tetapi juga keteguhan moril untuk tetap setia pada tugas dan tanggung jawab, meskipun tanpa penghargaan atau imbalan yang tampak. Seperti halnya seorang samurai, diyakini tidak hanya mewakili kekuatan militer akan tetapi juga melambangkan bushido (kode kehormatan) yang menjunjung tinggi kesetiaan, keberanian, dan kehormatan.

Nilai ini mengajarkan bahwa pengabdian sejati seorang prajurit Korpasgat terletak pada bekerja tanpa pamrih, dedikasi yang total, dan kebanggaan yang tinggi terhadap tugas yang diemban. Warisan ini diharapkan dapat terus menginspirasi generasi penerus Korpasgat untuk tetap membawa kehormatan pada baret jingga yang mereka kenakan.

“Jalan Jingga Saya” adalah cerminan jiwa seorang prajurit sejati, sekaligus bukti bahwa pengabdian kepada negara adalah panggilan luhur yang abadi.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply