Hingga 2030, USAF Butuh 74 Skadron Udara Baru untuk Menuntaskan Misinya

0

Sekretaris AU AS (USAF) Heather Wilson mengatakan, AU AS saat ini melaksanakan begitu banyak misi dan karena itu butuh lebih banyak personel pada 2030.

“AU AS terlalu kecil,” ujar Wilson tegas.

Ucapan itu ia lontarkan beberapa hari lalu, seraya menyerukan kepada AU AS untuk menambah sekitar 40.000 personel dan 74 skadron baru pada 2030 guna menghadapi misi yang semakin meningkat.

Menurut Wilson, USAF harus menggelar operasi mulai dari Korea hingga Afghanistan, sambil siap-siap menghadapi segala kemungkinan konflik dengan Rusia atau China.

Tentu tidaklah mudah dan murah untuk merealisasikan ini semua. Seorang pakar memperkirakan dibutuhkan anggaran mendekati 20 miliar dollar AS. Itu pun belum termasuk pesawat baru dan perlengkapannya.

Wilson yang memberikan sambutan dalam konferensi tahunan Air Force Association, dengan jelas mengatakan bahwa AU AS memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan semua misinya.

Konferensi Air Force Association dilaksanakan di Gaylord National Resort & Convention Center di luar Washington DC pada 17-19 September 2018.

Tambahan kekuatan dimaksud Wilson meliputi:

  • 22 skadron C2ISR (Command, Control, Intelligence, Surveillance, & Reconnaissance).
  • 14 skadron tanker
  • 9 skadron SAR tempur
  • 7 skadron operasi khusus
  • 7 skadron tempur
  • 7 skadron ruang angkasa
  • 5 skadron pembom
  • 2 skadron drone
  • 1 skadron angkut

AU AS saat ini mengoperasikan 312 skadron, dikurangi dari sebelumnya 401 skandron operasional di akhir Perang Dingin. Dengan ide Wilson, AU AS akan memiliki 386 skadron.

AU AS menyadari bahwa model peperangan sudah berubah. Karena itu USAF ingin meningkatkan jumlah (kemampuan) sensor. Yaitu pesawat khusus yang didesain untuk mengumpulkan data intelijen di medan pertempuran, dengan tugas menyuplai data kepada satuan operasional yaitu fighters, bomber, dan UAV.

USAF juga berkeinginan menambah jumlah pesawat pengisian bahan bakar di udara. Pesawat tanker menjadi satu-satunya jawaban saat ini untuk menaklukkan jarak yang sangat jauh ketika armada pesawat tempur harus melintasi Samudera Pasifik, Timur Tengah, dan Eropa Barat.

Rencana operasi melawan ISIS dan operasi kontijensi menghadapi Korea Utara, tentu bisa menjadi bahan pertimbangan dalam rencana Wilson ini. Sehingga tidak ada keraguan untuk mengembangkan armada pesawat tanker terkait ancaman dari Rusia dan China.

Sebagai contoh jarak dari Kadena Air Base di Guam ke daratan China, mencapai 1.945 mil (3.130 km). Pun dari Guam ke Korea Utara mencapai 2.100 mil (3.379 km). Sementara jarak dari pangkalan di Inggris ke pangkalan laut Rusia di Arctic Circle mencapai 1.700 mil (2.735).

Jarak-jarak sejauh ini membutuhkan waktu penerbangan sekitar 4-5 jam menggunakan pesawat sekelas KC-10 tanker.

Selain itu, AU AS juga membutuhkan lima skadron pembom, yang saat ini menjalani tugas berat karena tidak adanya pembom berat baru yang diproduksi.

Pembom B-21 Raider baru akan masuk tahap produksi pada pertengahan 2020-an. Seratus Raider direncanakan akan menggantikan 20 unit pembom B-2 Spirit dan 60 B-1B Lancer.

Sehingga peningkatan lima skadron pembom bisa diartikaan akan banyak Raider harus dibuat.

Tujuh skadron tempur baru juga dibutuhkan AU AS. F-35 adalah satu-satunya pesawat tempur yang diproduksi saat ini untuk memenuhi kebutuhan AU AS. Namun menjadi peringatan karena pemotongan jumlah F-35 yang harus dibeli sesuai pengurangan anggaran.

Jadi, peningkatan jumlah F-35 tampaknya tidak mungkin dilakukan saat ini. Sehingga pihak AU tengah mempertimbangkan untuk membeli sekitar 300 pesawat observasi ringan (OA-X), yang mungkin bisa menjelaskan apa yang akan melengkapi skadron baru.

Sementara itu, AU juga membutuhkan lebih banyak skadron SAR tempur (CSAR). Skadron CSAR mempunyai misi sangat luas, mulai dari menyelamatkan warga sipil hingga mencari dan menyelamatkan pilot yang pesawatnya jatuh di wilayah musuh.

Skadron CSAR pantasnya mengoperasikan HC-130J Combat King II dan helikopter HH-60G Pave Hawk untuk melaksanakan misi penyelamatan di segala medan dan situasi.

Lalu berapa banyak dana dibutuhkan untuk semua ini?

Tidak seorangpun bisa menebak pasti. Karena tidak ada yang tahu berapa banyak pesawat dan jenisnya yang akan dibeli AU AS.

Untuk jangka panjang, menurut Todd Harrison, analis di Center for Strategic and International Studies, mematok biaya personel tahunan untuk 40.000 personel baru di angka 5,2 miliar dolar.

Jumlah itu akan membengkak hingga 13 miliar dollar jika diproyeksikan dengan biaya operasional. Untuk peningkatan anggaran tahunan sekitar 18,2 miliar dolar.

Tentu bagi kita di Indonesia, membuat proyeksi kekuatan seperti ini sangat sulit untuk dijangkau meski bukan tidak mungkin. Namun setidaknya TNI terus memenuhi kebutuhan minimum (MEF) untuk mencapai tingkat kesiapan yang tinggi.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply