Antisipasi Konflik di Filipina Selatan, TNI Tempatkan Kapal Selam di Miangas

“Dermaga Kapal Selam ini merupakan tempat yang sangat strategis, apalagi dengan adanya perkembangan terkini yang terjadi di Filipina Selatan,” ujar Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat meninjau pembangunan Dermaga Sionban Kapal Selam di Lanal Palu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (9/6).

Dermaga di Palu dipilih karena lokasinya sangat strategis dan memiliki kondisi kontur alam sangat cocok dijadikan pangkalan kapal selam. Jika telah beroperasi pangkalan tersebut akan memberikan dampak efektif bagi pergerakan kapal selam.

“Pangkalan kapal selam sangat diperlukan dalam situasi sekarang. Pangkalan seperti di sini hanya ada di Armatim, sehingga kalau operasional kapal ke daerah wilayah Timur harus kembali ke sana, ini sangat strategis,” ujar Panglima.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa, Pangkalan kapal selam merupakan fasilitas strategis, namun pembangunannya belum final dan masih terdapat beberapa materi pendukung seperti mekanik dan elektrik yang harus dipersiapkan serta baru difungsikan sebagai dermaga.

Sementara ini hanya untuk dermaga saja, tapi untuk elektrik cash baterai kapal selam belum lengkap semuanya, akan dilengkapi pada anggaran yang akan datang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Panglima mengatakan bahwa TNI memberikan antensi penuh terhadap segala kemungkinan yang terjadi di Marawi Filipina Selatan.

“Karena kita mengerahkan kapal selam untuk pengintai di sana, jadi TNI tidak main-main, karena kami mempelajari betul kemungkinan yang terjadi di Filipina Selatan yang dampaknya mungkin akan ke sini, sehingga TNI mengerahkan alutsista termasuk kapal selam,” ucap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Dalam kesempatan tersebut Panglima juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa dermaga kapal selam yang dibangun sebagai sarana pendukung pertahanan Indonesia. “Kita sedang membangun dermaga kapal selam di berbagai tempat bukan hanya di Palu, sementara yang terbuka di Palu, untuk yang lainnya tidak terbuka,” jelasnya.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, pembangunan sarana pertahanan Indonesia berdasarkan perkembangan situasi terkini dan diprioritaskan pada pulau terluar yang memiliki nilai strategis.

“Ini semua kita bangun berdasarkan perkembangan situasi, yang utama adalah membangun pulau-pulau terluar, ada Natuna, Morotai, Biak dan Saumlaki. Semuanya secara bertahap dibangun tidak bisa serentak sesuai kondisi ekonomi, jadi seperti kapal induk, semua bisa bersandar di situ,” tuturnya.

Terkait dengan perkembangan situasi Marawi Filipina Selatan, Panglima mengungkapkan telah meningkatkan kekuatan TNI di perbatasan. “Sudah dikerahkan, ada kapal selam di pulau Marore dan Miangas,” pungkasnya.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: