Kisah F/A-18E/F Super Hornet Di Masa Awal Debut Tempurnya

Lama sebelum sebuah F/A-18E Super Hornet AL AS menjagal penempur AU Suriah Su-22 Fitter di langit Raqqa, Suriah pada  18 Juni 2017 baru lalu, sesungguhnya sudah cukup lama The Rhino (julukan Super Hornet yang diberikan penerbang dan kru kapal-kapal induk AS) unjuk gigi di medan tempur.

Di antara rekan-rekan sejawat generasi 4,5 dan generasi 5, tak hanya pertama operasional, Super Hornet juga jadi yang pertama mencicipi medan tempur.

Baptism of fire terjadi dalam Operation Southern Watch (penegakan zona larangan terbang di Irak Selatan) tahun 2002.

Menjelang akhir 2002, Strike Fighter Squadron 115 (VFA-115) Eagles yang belum lama rampung transisi dari F/A-18C Hornet ke F/A-18E Super Hornet, menjajal kapabilitas The Rhino untuk pertama kalinya. Pada Juni 2002 unit ini dikirim ke kawasan Teluk Persia, tergabung dalam gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln.

Di meja perencana operasi pun Super Hornet belum apa-apa sudah menunjukkan kelebihannya ketimbang “the legacy” Hornet. Besaran “bring back capability” Super Hornet yang lebih besar (selisih sekitar 2.700 kg) ketimbang Hornet memudahkan para perencana misi menentukan pilihan kombinasi munisi-munisi apa saja yang dibawa.

Dalam patroli rutin, Super Hornet dibekali dua bom berpemandu kelas 2.000 lbs (907 kg), serta rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM masing-masing sepasang.

Tentu saja drum magasin kanon M61 Vulcan pun terisi penuh. Super Hornet juga kerap membawa pod AN/ASQ-228 ATFLIR (Advanced Targeting Forward-Looking Infra Red).

Suatu malam, air controller memberi info bahwa ada aktivitas militer Irak, dan unit terdekat adalah sepasang F/A-18E yang segera diminta siaga. Sambil menunggu perintah serang, sepasang Rhino tersebut terbang mendekati area target untuk menghemat waktu.

Kelebihan Super Hornet lagi-lagi terlihat, di mana fighter baru US Navy ini memiliki endurance 25 menit lebih lama ketimbang Hornet, sebelum harus mengisi kembali bahan bakar ke pesawat tanker yang mengorbit di luar tepi area misi.

Tak lama perintah serang pun datang, dan sejarah pun mencatat debut tempur perdana Super Hornet yang kala itu menjatuhkan empat bom BLU-109.

Bisa ditebak, medan tempur berikut yang dicicipi The Rhino adalah invasi AS ke Irak tahun 2003 yang dikenal dengan Operation Iraqi Freedom (OIF). Pada serangan-serangan gelombang pertama, Super Hornet sudah dilibatkan.

Dalam fase ini ada kelebihan Super Hornet yang jarang dibahas namun menjadi “penyelamat” kepusingan perencana misi gabungan.

Kemampuan Super Hornet sebagai pesawat tanker organik (pesawat tanker yang berada bersama/menempel dengan unit tempur), sedikit banyak mampu mengurangi beban sibuknya armada pesawat tanker strategis KC-135 Stratotanker dan KC-10 Extender.

Sebuah Super Hornet mampu memperpanjang jangkauan sebuah Super Hornet lainnya dengan faktor satu setengah hingga dua kalinya (tergantung muatan).

Bahkan kapabilitas dual role fighter-tanker pun pernah dilakoni. Kisahnya sebagai berikut. Dalam suatu misi, sebuah F/A-18C Hornet mengalami gangguan mesin. Satu mesin sudah mati, sementara satunya lagi tidak bekerja optimal.

Kembali ke kapal induk merupakan pilihan penuh resiko. Mendaratkan fighter di kapal induk pada situasi normal sekalipun bukanlah pekerjaan gampang, apalagi dalam keadaan single engine failure.

Mengalihkan pendaratan (divert) ke lanud terdekat di Qatar jadi pilihan alternatif, namun bahan bakar Hornet tersebut sudah menipis dan hampir dipastikan takkan mampu menjangkau lanud alternatif tersebut.

Sebuah F/A-18E Super Hornet yang tengah standby di udara sebagai organic tanker (dibekali 4 tangki eksternal plus satu ARS/air refueling stores) diperintahkan membantu.

Jarak pandang yang pendek akibat cuaca buruk tidaklah membantu. Padahal sang pilot Hornet dengan cemas sudah mengabarkan bahwa mesin keduanya kini juga ikutan mati.

Namun pilot Super Hornet tanker tersebut tetap tenang dan berusaha menenangkan rekannya. Diperintahkannya Hornet mati mesin tersebut menukik landai ke ketinggian lebih rendah agar pesawatnya masih bisa melayang (glide) sembari berusaha menghidupkan kembali  mesinnya.

Ia sendiri lantas menghidupkan radar APG-73-nya dan melakukan putaran penuh guna memastikan posisi rekannya tersebut.

Paradigma misi sebagai pilot tanker yang sabar menunggu di orbitnya diubah, kini mindset-nya bagaikan pilot tempur mencari mangsa. Hanya saja kali ini bukan pesawat musuh yang dicarinya, melainkan posisi rekannya yang dalam kesulitan.

Ia berhasil mengunci (lock) posisi Hornet tersebut, dan kemudian sukses melakukan rendezvous. Untungnya, salah satu mesin Hornet itu akhirnya berhasil dihidupkan kembali.

Super Hornet itu pun mentransfer bahan bakar ke Hornet tersebut yang kemudian sukses divert ke Qatar dengan hanya single engine.

Memang bukan misi yang “wah” dan hingar bingar, namun toh mampu menyelamatkan pesawat seharga puluhan juta dolar. Dan yang terpenting, membuat seorang pilot terhindar dari keharusan eject di kawasan pertempuran.

 

Teks: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: