Bung Hatta dan Program Rasionalisasi Tentara

Di era kolonial, sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah entitas ‘negara’, laskar-laskar muncul untuk membela dan mempertahankan tanah kelahiran mereka. Laskar-laskar itu berjuang dengan sangat gigih, berkonfrontasi dengan para penjajah yang menindas penduduk di wilayahnya. Walau dengan persenjataan yang ala kadarnya, laskar-laskar itu tidak takut dalam menghadapi lawan yang memiliki persenjataan lebih canggih dan modern pada saat itu.

Perlawanan melawan penjajah pun semakin gencar dilakukan, sehingga menginspirasi daerah lainnya yang juga ingin terbebas dari rezim penjajahan kolonial yang membuat banyak rakyat menderita. Pengorganisiran laskar-laskar pun dibutuhkan agar perjuangan meraih kemerdekaan bangsa yang bersatudan berdaulat.

Oleh karenanya, laskar-laskar itu perlu disinergikan dengan pasukan pejuang kemerdekaan negara (tentara reguler). Dengan begitu, skala perlawanannya pun semakin menjadi besar karena banyak daerah yang membentuk laskar untuk bisa segera terbebas dari belenggu penjajah yang menyengsarakan, hingga akhirnya Indonesia pun muncul sebagai entitas negara bangsa yang berdaulat.

Kolonial enggan mengakui bahwa wilayah jajahannya telah merdeka, dan mereka pun tak tinggal diam. Berbagai manuver soft power bahkan hard power pun dilakukan Belanda untuk tetap mempertahankan indonesia sebagai wilayah jajahannya. Laskar-laskar yang telah bergabung dengan Angkatan Bersenjata Indonesia pun tak tinggal diam. Perlawanan terhadap aksi-aksi yang mengancam stabilitas pertahanan dan keamanan Indonesia mereka lawan tanpa gentar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Lalu bagaimana nasib dan keberadaan laskar-laskar tersebut kini ? Apakah masuk ke dalam tubuh TNI atau mereka memiliki jalan hidupnya sendiri?

Setelah keputusan Bung Hatta ketika dirinya menjadi Perdana Menteri, ada sebuah program yang bernama ‘Rasionalisasi Tentara’. Program tersebut memiliki esensi bahwa tentara itu harus tentara profesional, artinya harus melalui jalur pendidikan tentara dan bukan jalur lainnya. Sementara pada masa itu, tentara itu muncul dari rakyat dalam bentuk laskar-laskar. Hal tersebut tercermin misalnya dalam cerita rakyat seperti Naga Bonar atau Sitor Situmorang yang merupakan laskar-laskar di Sumatera.

“Itu cerminan bahwa gairah pasca kemerdekaan itu untuk membela republik, itu muncul di tengah rakyat. Dan rakyat itu juga mendapat tantangan dengan mau kembalinya Belanda yang ikut dengan sekutu. Jadi saya mau bicara bahwa, merekalah, rakyatlah, laskarlah yang membela republik ini masih ‘orok’, masih lemah,” ungkap seorang sejarahwan muda kesohor asal Depok, JJ Rizal.

Laskar-laskar yang turut berjuang bersama tentara tiba-tiba mereka akan dirasionalisasi untuk dikembalikan menjadi rakyat biasa, dan tidak lagi menjadi tentara. Kondisi tersebut seperti yang diungkapkan oleh Rizal, ternyata menimbulkan guncangan besar.

“Tanpa memikirkan apa yang harus disiapkan ketika proyek rasionalisasi itu terjadi. Mau menyiapkan juga bagaimana? Orang republik masih kere, masih miskin, menerima sumbangan darimana-mana, dan itu menimbulkan kegoncangan besar,” ujar pria kelahiran 1975 ini.

Wajah Baru Laskar

Tak hanya di daerah, di Jakarta pun terdapat pula laskar yang turut mengambil peran untuk membantu memberikan rasa aman terhadap tanah air. Beberapa laskar yang dirasionalisasi dan tidak dapat masuk ke tubuh tentara pun bermetamorposa menjadi bentuk yang lebih terorganisir dari sebelumnya. Mereka membentuk organisasi para militer yang bersifat etnik atau bersifat keagamaan. Salah satu contohnya adalah Imam Syafei yang menjadi tokoh karena membentuk organisasi para militer untuk membantu memberikan rasa aman terhadap penduduk Ibu Kota.

“Nah, yang menarik adalah akhirnya beberapa orang menjadi pelopor dari pembentukkan ex-laskar-laskar tersebut menjadi pasukan keamanan. Misalnya yang menarik itu pasukan keamanan kota yang dibentuk oleh Imam Syafei di Senen. Itu kan mereka membentuk suatu organisasi yang mengamankan kawasan Jakarta, bahkan sampai tahun 1960 waktu Kabinet 100 Menteri , Imam Syafei diangkat jadi Menteri Keamanan Jakarta Raya, coba bayangkan,” papar Rizal.

Rizal melanjutkan, bahwa semua tenaga yang menjadi kekuatannya itu berasal dari laskar. Laskar itu muncul dari tengah masyarakat yang disebut oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai ‘preman’, maksudnya ‘free man’ atau yang disebut sebagai orang bebas.

“Jadi mereka balik lagi kemudian, tetapi sudah memiliki organisasi, tidak sendiri-sendiri lagi. Misalnya di Senen ini yang terkenal si Imam Syafei itu, ia membentuk suatu organisasi yang sangat  fenomenal dan bahkan diseritakan dalam cerpen (cerita pendek) SM Ardan dari tahun 1950an,” jelasnya.

Dalam cerpen yang dibuat oleh SM Ardan diceritakan bahwa jika seseorang tertimpah musibah berupa tindak kriminal di daerah Senen, Kota, juga di jalur antara Senen sampai Kota atau di Meester Cornelis, hanya perlu membuat pengaduan saja ke kantor Imam Syafei. Dengan begitu, dompet beserta isinya akan kembali dengan utuh dan dia menggaransi hal itu.

“Yang menarik adalah sekarang justru terbalik, semua organisasi preman yang muncul dan mengorganisir diri dan kemudian menjadi pasukan keamanan kota seperti Imam Syafei itu habis bersama peristiwa 1965. Imam Syafei ditangkap, dipenjarakan,” ungkap sang tokoh masyarakat Betawi ini.

Dahulu, pemerintah kolonial ketika merekrut orang-orang dari dunia hitam yang tidak punya keberpihakkan atau siap berpihak pada pemerintah kolonial karena butuh uang, mereka dimasukkan menjadi bagian dari mata-mata atau agen Politieke Inlichtingen Dienst (PID/Dinas Intelijen Politik) Belanda.

“Nah itu ditiru oleh Orde Baru, kita ingatkan pada masa 1965 itu mulai muncul kan kelompok-kelompok pemuda yang kemudian seperti tentara yang sampai sekarang masih hidup. Yang sekarang kan sisa-sisa preman dari masa Orde Baru, dari masa peralihan Orde Baru ke masa Reformasi kan masih ada, masih hidup. Sekarang orang malah meributkan, dia bisa merazia, dia bisa apalah gitu kan,” pungkas Rizal

 

Teks: Fery Setiawan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: