Ini Cerita Satgassus BKO Papua Korps Brimob Polri dari Belantara Tembaga Pura

Namanya prajurit, sudah menjadi sumpah setia untuk siap melaksanakan tugas kapan dan kemanapun. Waktu pun menjadi tidak penting, mau berapa lama, karena namanya tugas.

Seperti yang saat ini dijalani anggota Korps Brimob Polri yang tergabung ke dalam Satuan Tugas Khusus (Satgassus) BKO Papua.

Sebanyak 227 anggota Korps Brimob Polri dari Resimen 1 Pasukan Pelopor Cikeas dan Resimen 2 Pasukan Pelopor Kedunghalang, tengah melaksanakan tugas di Papua.

Satgassus melaksanakan tugas pengamanan di wilayah strategis yang sering terjadi kontak tembak dengan gerombolan bersenjata.

Satgassus dengan komandan AKBP John Huntal Sarjanto Sitanggang ini menempati Posko Satgas di Mile 68 (sport hall) Tembaga Pura, Papua.

Tim melaksanakan patroli membelah gunung dan hutan Papua. Foto: Satgassus BKO Papua

Untuk penugasan ini, Satgassus BKO Papua akan menempati pos selama enam bulan. Pasukan ini mulai memasuki medan tugas sejak April 2018.

Menurut keterangan personel Satgassus kepada mylesat.com, medan Papua yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya dan anggota lainnya.

Cuaca dingin pegunungan harus mereka hadapi saat patroli dengan elevasi bisa mencapai di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Kabut terus menyertai perjalanan tim, yang cukup mengganggu jarak pandang.

“Cuaca dingin sampai 11 derajat, hampir setiap hari turun hujan. Pegunungan yang tinggi dan hutan lebat, medan berbatuan jadi susah untuk mencari pijakan kaki dalam melangkah,” ujarnya.

Dalam situasi seperti itu, mereka juga harus pintar-pintar mengatur pernapasan karena oksigen mulai menipis.

Melintasi tebing dengan tali pengaman. Foto: Satgassus BKO Papua

Patroli gunung biasa dilakukan pasukan Brimob hingga satu minggu. Tentu jika bukan pasukan terlatih, tidak mungkin mampu bertahan di pegunungan yang kejam dan ekstrem selama satu minggu. “Rata-rata satu minggu,” tegasnya lagi.

Karena beratnya medan yang harus dilalui, tak heran jika beberapa anggota mengalami cedera kaki. Umumnya terpeleset atau kejatuhan batu. “Cedera berat belum ada, hanya terkilir karena kejatuhan batu,” ucapnya.

Untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan, tim patroli biasanya memilih istirahat di malam hari.

Meski secara umum situasi di lapangan terkendali, anggota ini tidak memungkiri kalau timnya sempat menemukan beberapa kali kontak tembak.

Beberapa kali terjadi penembakan terhadap karyawan Freeport yang dalam perjalanan menggunakan mobil. Namun tim Satgassus bergerak cepat ke lokasi penembakan dan kemudian meredakan situasi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

“Situasi kondusif, sempat terjadi beberapa kali penembakan tapi bisa kita reda,” urainya.

Anggota Brimob menunjukkan mobil yang kena tembak. Foto: Satgassus BKO Papua.

Sebagai manusia tentu ada rasa kangen dan rindu kepada keluarga di rumah. Namun karena penugasan ini sifatnya operasional, seluruh anggota tidak diberi kemudahan untuk meninggalkan pos. Baik untuk alasan cuti maupun refreshing.

“Tetap tugas merupakan kewajiban dan tanggung jawab karena sudah merupakan perintah dari pimpinan dan negara. Bisa diizinkan pulang jika keluarga ada yang sakit keras atau kedukaan,” kata anggota Satgas ini.

 

Teks: beny adrian

Tags

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: