Ada banyak cara dipilih orang untuk merayakan hari kelahirannya. Mulai dari yang mainstream hingga ekstrem.
Nah, kakek 100 tahun asal Hawaii ini merayakan ulang tahunnya dengan terjun bebas alias free fall. Memang bukan terjun sendiri karena faktor usia, tapi lewat tandem oleh seorang jago terjun.
Bertindak sebagai tandem master adalah Richard Doppelmayer, yang sudah terjun 26.000 kali.
Kakek bernama Polito “Paul†Olivas ini melaksanakan niatnya di lapangan terbang Dillingham di Hawaii. Kenapa memilih free fall?
Ternyata Olivas adalah mantan prajurit dari kesatuan elite Amerika Serikat 101st Airborne Division dengan pangkat terakhir Master Sgt. Bersama 101st, Olivas malang melintang dari Normandia, Korea hingga Vietnam.
Niat mantan Green Beret ini terwujud pada Rabu (29/8/2018), saat melaksanakan jumped tandem dari ketinggian 14.000 kaki di atas wilayah Oahu di Pantai Utara Hawaii dan mendarat Dillingham.
Perayaan ekstrem ini dilaksanakan seminggu setelah ia berusia 100 tahun.
“Saya akan melakukannya lagi,†ujar Olivas usai mendarat kepada stripes.com yang meliputnya.
Sebagai veteran pasukan payung (paratrooper) di 101st Airborne Division, Olivas melaksanakan tugas operasi di Normandia, Perancis saat D-Day, Juni 1944.
Olivas mengaku sudah terjun statik ratusan kali, namun tidak sekalipun merasakan free fall.
Olivas mengaku sangat menikmati birthday jump ini. Ia dibawa melayang bebas sekitar satu menit sebelum parasut dibuka dan mendarat lima menit kemudian.
Padahal saat D-Day, akunya, pesawat yang ditumpanginya hanya 300 kaki dari permukaan.
Olivas menggambarkan emosinya saat terjun di Normandia yang membuatnya seperti orang gila. Ia harus segera mendarat di antara desingan peluru yang siap mencabut nyawanya.

Olivas dibantu Richard Doppelmayer melepaskan harness. Foto: wyatt olson/ stars and stripes
“Rasa takut berubah menjadi kemarahan. Semua yang ingin kamu lakukan adalah membunuh, seperti anjing gila. Adrenalin meningkat,†akunya.
Dia melakukan terjun tempur kedua di Belanda sebagai bagian dari Operasi Market Garden. Operasi yang keberhasilannya tergantung dari bisa tidaknya menguasai sembilan jembatan di belakang garis Jerman.
Dia terus bersama 101st yang bertahan di dekat Bastogne selama Battle of the Bulge.
Sekali lagi, Olivas dikirim ke medan perang tahun 1951 di Korea. Kali ini ia bersama 187th Airborne Regimental Combat Team.
Olivas mendapat kesempatan bergabung dengan 10th Special Forces Group, Airborne saat dibentuk pada 1952.
Para anggotanya lebih suka memakai baret hijau, meskipun tutup kepala itu tidak secara resmi disetujui.
Namun seiring waktu, para prajurit ini kemudian disebut Green Berets, dan Olivas adalah salah satu anggota pertama dari kelompok elite AD AS ini.
Olivas mengaku sangat menikmati latihan di Green Berets terutama soal bertahan hidup (survival) dan amunisi berlimpah. “Ini memberi kamu lebih banyak percaya diri,” katanya.
“Yang kami pelajari adalah, jika burung memakannya kita bisa memakannya. Jika Anda benar-benar lapar, Anda bisa menangkap ular. Seekor ular adalah makanan yang enak jika Anda tahu di mana harus memotongnya,†bebernya.
Ketika ditanya mengapa bergabung dengan Green Berets, Olivas sedikit ragu mengatakan.
“Mungkin, perbedaannya, darah dan nyali. Ketika di udara, kamu sudah ada di sana. Green Barets sedikit lebih tinggi, sedikit lebih jahat, lebih jelek,†tuturnya senyum.
Dengan keberaniannya melaksanakan free fall di usia 100 tahun, Olivas adalah picture of health yang sempurna dari pribadi disiplin.
Karena tidak hanya sehat dan masih punya nyali, disebutkan bahwa Olivas juga tidak mengenakan kacamata dan alat bantu dengar. Olivas juga tidak mengonsumsi obat sekalipun diresepkan dokter untuknya.
Panjang umur Olivas.
Teks: beny adrian