Rapim TNI AU 2019, KSAU Beberkan Pengadaan Alutsista: Su-35, T-50, Radar, Pesawat Amfibi

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna menutup Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AU 2019 di Mabes TNI AU Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (1/2/2019). Sejumlah poin strategis dan taktis dibicarakan dan diputuskan di dalam Rapim TNI AU.

“Di bidang kemampuan terus ditingkatkan. Pertama, kesiapan pesawat untuk antisipasi bencana, ini diutamakan, jadi tadi saya perintahkan bagian pemeliharaan minimal kesiapan Hercules setiap saat 12 pesawat,” tutur KSAU di hadapan awak media di Mabes TNI AU.

Baca: Antisipasi Bencana, KSAU Perintahkan Kesiapan 12 Hercules Setiap Saat

Selain meminta kesiapan 12 pesawat C-130 Hercules, Marsekal Yuyu juga meminta kesiapan lima pesawat CN295, dua CN235, dan empat Boeing B737.

Rapim TNI AU dihadiri seluruh panglima, komandan baik komandan Kotama maupun komandan satuan dari komandan lanud, komandan skadron, komandan satuan radar, komandan batalion Paskhas.

Rapim adalah momentum untuk mengevaluasi program di tahun sebelumnya dan penjabaran program di tahun 2019 yang harus dipahami.

“Fokus 2019 jelas akan menuntaskan permasalahan yang masih tertinggal dari 2018 dan melaksanakan program kerja rutin di 2019,” ungkap Yuyu.

Menurut KSAU, terkait pengadaan alutsista di dalam kerangka MEF (Minimum Essential Force), TNI terus berupa mencapai target yang ditelah dicanangkan.

“TNI AU baru tercapai 44 persen dari 100 persen di tahun 2024, yang seharusnya diakhir 2019 ini sudah tercapai 66-67 persen,” jelas KSAU lagi. Ditegaskan Yuyu, saat ini program pengadaan masih terus dikawal ketat oleh pihak Kemhan yang terus berkoordinasi dengan TNI AU.

Kekuatan 44 persen ini dihitung dari sejumlah alutsista yang sudah diterima TNI AU.

“Namun saya optimis karena komitmen saya pengadaan alutsista ini,” kata KSAU.

Kepada awak media, KSAU menjelaskan bahwa pengadaan alutsista TNI AU memang membutuhkan waktu cukup lama.

“Perlu waktu dua sampai tiga tahun, sehingga yang ditandatangani tahun ini baru bisa datang 2021-22, jadi pada akhirnya saya optimis tahun 2024 ini tercapai,” jelasnya.

“Komitmen saya dari awal untuk mempercepat hal ini, semua proses pengadaan sudah selesai di TNI AU dan sekarang prosesnya di Kemhan. Kami hanya bisa berkoordiansi untuk mempercepat proses itu,” urainya.

KSAU menyebutkan beberapa program yang sedang dan akan dijalankan TNI AU.

Meliputi pembangunan satu baru di jajaran Koopsau III. Sebagai contoh pembentukan Skadron Udara 33 Hercules di Makassar.

“Insya Allah akan kita resmikan pada triwulan kedua 2019 ini, begitu juga Skadron Udara 27 di Biak akan segera diresmikan, lanud juga segera diresmikan di Wamena, Saumlaki, kita proses sesegera mungkin,” kata Yuyu.

KSAU juga berharap pada pertengahan tahun ini, gedung Mako Koopsau III di Biak sudah selesai dibangun.

Ketika ditanya rencana kedatangan Sukhoi Su-35 Flanker, KSAU menegaskan bahwa prosesnya sudah di Kemhan.

“Proses di Kemhan, proses di TNI AU sudah selesai dan sekarang di Kemhan. Memang yang saya tahu, satu tahun setelah efektik kontrak pesawat akan datang,” ulasnya.

Sejumlah pesawat yang akan dibeli TNI AU adalah, enam pesawat amfibi. Pesawat ini akan digunakan untuk operasi pemadaman kebakaran, selain tentunya untuk kepentingan operasi militer.

Tidak menyebutkan jenisnya, namun KSAU sedikit membuka kisi-kisi dengan mengatakan kemampuan pesawat yang sanggup menyedot 6,2 ton air dalam waktu 12 detik

“Paling lambat tahun depan sudah ada secara bertahap,” ungkap Yuyu.

Selain itu adalah delapan helikopter EC725 Caracal dengan tambahan tiga lagi sehingga total 11 pesawat. Lalu sembilan pesawat Cassa NC-212 (?), enam radar dan banyak lagi yang tidak disampaikan KSAU termasuk C-130J Hercules.

Sementara untuk pesawat T-50, TNI AU berencana akan meningkatkan kemampuan pesawat dengan menambahkan radar dan persenjataan. “T-50 segera dipasang radar agar bisa counter insurgency,” kata KSAU.

Saat ini TNI AU mengoperasikan 33 unit pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, yang harus diefektifkan penggunaannya dalam menghadapi isituasi yang berkembang di Kawasan.

Khusus menghadapi pemilihan presiden April mendatang, TNI AU juga menyiapkan sejumlah pesawat untuk mengantisipasi pergeseran pasukan apabila terjadi kontijensi dan pergeseran logistik jika diperlukan.

Teks: beny adrian

Tags

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: