N250 Gatot Koco, Sejarah Singkat Pesawat yang Pernah Menghebohkan Dunia Penerbangan

0

MYLESAT.COM – Puluhan tahun terabaikan di salah satu pojok di komplek PT Dirgantara Indonesia (PTDI), akhirnya pesawat N250 Gatot Koco yang pernah mengguncang dunia penerbangan, akan menempati singgasana mulia di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta.

Keberhasilan pembuatan N250 adalah bukti bahwa pada tahap pengembangan teknologi, PTDI mampu merancang bangun dan memproduksi pesawat terbang sepenuhnya (full design and manufacturing).

Berikut sejarah singkat rancang bangun pesawat N250 Gatot Koco sebagaimana rilis dari Dinas Penerangan TNI AU.

Baca Juga: 

Pesawat yang diberi nama N250 ini mempunyai makna N adalah Nusantara, 2 adalah dua mesin turboprop, dan 50 adalah jumlah nominal penumpang (50-70).

Awal rancang bangun pesawat pada 1987 yang melibatkan tidak kurang dari 4.000 sarjana teknik.
Prototipe N250 pertama yang diberi nama Gatot Koco melakukan uji terbang perdananya selama 56 menit dengan lancar pada 10 Agustus 1995, keberhasilan ini ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS).

N250 rencananya akan diproduksi di tiga tempat, yakni Bandung, Alabama (Amerika Serikat) dan Stutgart (Jerman).

Namun rencana ini tidak pernah dilaksanakan karena aliran dana dari Pemerintah dihentikan sejak Januari 1998 setelah Letter of Intent (LoI) antara Pemerintah Indonesia dengan International Monetary Fund (IMF) ditandatangani. Dampak krisis ekonomi 1998 tersebut berakibat pula pada program pesawat bermesin jet N2130, pembuatan satelit, dan pengembangan SDM.

1987, Penguasaan Tahap 3: Pengembangan Teknologi

IPTN mendapat tugas dari pemerintah untuk merancang bangun dan memproduksi sepenuhnya pesawat baru N250, maka dimulailah proses rancang bangun pesawat tersebut. Pada saat itu, IPTN semakin meningkatkan jumlah tenaga kerjanya terutama para insinyur.

Proses rancang bangun ini melibatkan kurang lebih 4.000 insinyur yang di antaranya lebih dari 35 sarjana S2 dan 100 sarjana S3.

N250 merupakan pesawat turboprop yang menggunakan teknologi mutakhir, antara lain fly by wire, full glass cockpit with engine instrument and crew alerting system (EICAS), engine control with full authority digital engine control (FADEC), electrical power system with variable speed constant frequency (VSCF) generator yang biasa dipakai dalam pesawat tempur dan saat itu baru diterapkan pada B737-500, desain struktur yang efisien dan kokpit yang lebih luas serta terbang lebih cepat dibanding saingannya ATR 72 (Perancis), De Havilland-Q 400 (Kanada) dan MA60 (China).

1988, Kerjasama Pengembangan Satelit

Dalam melanjutkan kerjasamanya dengan Hughes Aerosystem Amerika Serikat, IPTN mengirim 30 insinyur ke California untuk perancangan Satelit Palapa tipe B2R, C1 dan C2 yang dibeli PT Telkom Indonesia.

Sementara itu rancang bangun pesawat N250 terus berjalan dan semua yang terlibat memiliki harapan besar untuk mewujudkan pesawat yang akan menjadi andalan bangsa di masa akan datang setelah CN235. Kemampuan putera-puteri Indonesia sangat diuji di sini karena N250 adalah pesawat pertama yang dirancang sepenuhnya oleh bangsa Indonesia.

1989, N-250 Diperkenalkan
Pada tahun ini dunia dibuat tercengang dengan pesawat N250 yang dirancang oleh putera-puteri Indonesia ketika B.J. Habibie memperkenalkan N250 di Paris Airshow Le Bourget Paris.

Dengan publikasi tersebut maka para pesaing N250 begitu was-was, ditambah N250 menerapkan begitu banyak teknologi mutakhir serta sejumlah perusahaan penerbangan lokal telah memesan pesawat canggih tersebut.

1992, Pemotongan Material N-250

N250 memasuki tahap produksi ditandai dengan menekan spindle mesin CNC (computer numerical control machine) untuk melakukan pemotongan pertama material untuk bagian sayap di hanggar Fabrikasi (Aerostructure) oleh Direktur Utama IPTN B.J. Habibie pada Agustus 1992.

Komponen N250 yang pertama dibuat yaitu bagian sayap kiri atas berbahan baku aluminium alloy.

1994, Kelahiran N-250 Gatot Koco

Pada 10 November 1994 prototipe N250 pertama berkapasitas 50 penumpang yang diberi nama Gatot Koco keluar dari hanggar (roll-out) ditarik 50 karyawan IPTN.

Gatot Koco adalah nama yang diberikan oleh Presiden Soeharto untuk prototipe pertama. Setelah itu beliau memberi nama tiga prototipe N250 berikutnya yang akan dibangun dengan kapasitas 70 penumpang yaitu Krincingwesi, Koconegoro dan Putut Guritno. Krincingwesi sudah sempat dibangun dan diujiterbangkan.

Pesawat N2130 mulai dirancang dan diperkirakan terbang perdana pada 2003 dengan kapasitas 80–130 penumpang yang mampu bersaing dengan pesawat sejenis.

Diproyeksikan sekitar 2.757 pesawat dibutuhkan dunia pada 1995-2015. Program ini didanai konsorsium swasta yaitu PT DSTP (PT Dua Satu Tiga Puluh). Pemerintah hanya mendanai pembangunan fasilitas Uji Terowongan Angin (Wind Tunnel Test) Transonik di LAGG Puspiptek Serpong.

1995, Penerbangan Perdana N250 Gatot Koco

Terdapat dua peristiwa penting bagi IPTN pada tahun ini, pertama penerbangan perdana N250 Gatot Koco. Penerbangan perdana N-250 dihadiri Presiden beserta Ibu Tien Soeharto dan Wakil Presiden berserta Ibu Tuti Try Sutrisno dengan sejumlah Menteri.

Peristiwa ini merupakan hadiah ulang tahun Emas (50 tahun) Republik Indonesia. Penerbangan tersebut merupakan ajang pembuktian bagi yang meragukan N250.

N250 Gatot Kaca dengan registrasi PK-XNG dengan chief test pilot Erwin Danuwinata dan co-test pilot Sumarwoto serta flight test engineers Hindawan Haryo Wibowo dan Yuarez Riadi.

Presiden Soeharto, Ibu Tien, Wakil Presiden Try Sutrisno, dan Ibu Tuti menyaksikan Gatot Koco dari menara kendali. Dalam uji terbang, Presiden Soeharto juga berbincang dengan Kapten Pilot Erwin mengenai fungsi peralatan berjalan dengan baik.

N250 mendarat dengan sempurna di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara Bandung setelah 56 menit mengudara dan peristiwa penting kedua ditetapkannya 10 Agustus 1995 menjadi Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS).

Pertengahan Juni 1995, Declaration of Intent diteken Habibie dan Gubernur Alabama, Amerika Serikat yang diwakili Dick Campton tentang minat IPTN untuk melakukan pendirian pabrik perakitan pesawat N250 di kota Mobile Alabama Amerika Serikat.

Kantor pusat American Regional Aircraft Industry (AMRAI) di Mobile rencananya mampu merakit satu sampai tiga pesawat N250 per minggu. Pada saat itu Gubernur Alabama akan menyiapkan tanah seluas 15 hektar untuk tempat perakitan dengan harga sewa sebesar USD 1/meter/tahun.

Selain di Amerika Serikat perakitan N250 juga akan dilaksanakan di Jerman. Pada 13 Juni 1995 Surat Kesepakatan Bersama (SKB) ditandatangani oleh Menteri Ekonomi, Teknologi dan Perhubungan Nierdersachsen Jerman, DR. Fisher.

Dalam penunjukannya Aircraft Services Lemwerder (ASL) sebagai agen tunggal N250 untuk wilayah penjualan Eropa dan IPTN memiliki 25,11 % saham di perusahaan ini. Khusus untuk Eropa, IPTN akan memfokuskan penjualan pesawat N250 berkapasitas 70 penumpang.

Rencananya IPTN akan mendirikan pabrik perakitan di kota Lemwerder apabila ASL berhasil menjual 18 unit N250 sebagai titik impas penjualan.

1996, Penerbangan Perdana N250 Krincing Wesi

Pada 22-30 Juni 1996, Indonesia Air Show kedua yang diselenggarakan di Bandara Soekarno Hatta, pesawat N250 dan CN235 terbang dalam perhelatan besar tersebut, menunjukkan bangsa Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain.

IPTN sempat membangun dan menerbangkan dua prototipe N250, yaitu Gatot Koco (PA1) untuk 50 penumpang dan Krincing Wesi (PA2) untuk 70 penumpang. Krincing Wesi terbang perdana pada 11 Desember 1996.

1997 N250 dan CN235 Pamer Kekuatan di Paris Air Show

Perhelatan Paris Air Show 1997 di Le Bourget Paris adalah ajang pembuktian bahwa N250 buatan bangsa Indonesia layak diperhitungkan.

N250 diberangkatkan dari Bandung ke Paris sejauh 13,500 km oleh Kolonel Penerbang (Pur) Chris Sukardjono dan Letkol Penerbang Sumarwoto pada Selasa pagi 10 Juni 1997.

Dalam perjalanannya N250 terbang bersama CN235 MPA, dan dua pesawat ini singgah di beberapa negara untuk isi bahan bakar dan promosi dengan rute Bandung – Batam – Bangkok (Thailand) – Calcuta (India) – Bombay (India) – Muskat (Oman) – Riyadh (Arab Saudi) – Alexandria (Mesir) – Brindisi (Italia) – Le Bourget (Paris Perancis) yang ditempuh selama 30 jam.

Pada saat pulang, N250 diterbangkan melewati beberapa negara Eropa kemudian N250 diperagakan dan diterbangkan ke Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Pakistan, Thailand, Vietnam, Filipina dan Brunei Darussalam sebelum kembali ke Bandung. Mereka sangat bangga dan terharu dapat menerbangkan N250.

1999, Dampak Buruk dari Krisis Moneter

Prototipe N-250 PA1 dan PA2 dapat meneruskan uji terbang pengembangan dengan dana IPTN sendiri sampai akhir tahun walaupun situasi IPTN belum membaik. Semua karakteristik terbang yang diuji telah terbukti sesuai dengan design requirement and objectives (DR&O).

LoI IMF dan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1998 juga mengakibatkan terhentinya program N250 dan N2130 serta batalnya beberapa proyek terkontrak, karena harga material melonjak tinggi.

Dampak lanjutan dari krisis moneter tersebut adalah pendapatan IPTN yang merosot tajam dan sebagian karyawan IPTN kehilangan beban kerja. Sementara itu sebagian karyawan IPTN melakukan beberapa kali aksi demo.

2000 Dampak Krisis Moneter yang Berlanjut

Pada 2 Maret 2000 Pemerintah mengeluarkan keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1980 tentang Larangan Pemasukan dan Pemberian Izin Pengoperasian Pesawat Terbang.

Hal tersebut berdampak pada berakhirnya proteksi negara terhadap produk-produk IPTN.

Pada 24 Agustus 2000, Presiden KH Abdurachman Wahid meresmikan pergantian nama dan logo PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN) diubah menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) serta melakukan perombakan organisasi dengan membentuk unit-unit bisnis untuk mendongkrak pendapatan perusahaan.

Pada saat itu yang menjabat sebagai Direktur Utama adalah Jusman S.D yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Umum, terjadi empat kali aksi demo besar karyawan pada masa pelaksanaan program pensiun APS tahun ini.

Pada tahun ini N250 PA1 dan PA2 grounded sampai waktu yang tidak ditentukan, termasuk terhentinya produksi prototipe N250 ke-3 (PA3) Koco Negoro yang sudah seperempat jadi yang akan digunakan untuk uji sertifikasi ke FAA USA.

N250 PA1 dan PA2 telah menempuh 850 jam dari 1.700 jam uji terbang yang direncanakan untuk Sertifikasi Tipe (Type Certificate).

Share.

About Author

Leave A Reply