Bak Kisah Dongeng, 30 Tahun di Hutan Morotai, Eks Tentara Jepang Ini Tetap Sehat

Kisah Nakamura bagaikan dongeng Tarzan yang tertinggal oleh kemajuan zaman. Kisah sejati ini dialami oleh Kolonel (Pur) FX Soepardi yang menembus belantara Morotai untuk memburu eks tentara Jepang era Perang Dunia II, Teruo Nakamura.

Menjadi bagian dari sebuah kisah besar dan akan selalu dikenang orang adalah sebuah keberuntungan. Tidak banyak orang mempunyai kesempatan serupa dalam perjalanan waktu. Sejarah akan menjadi dongeng yang tidak akan pernah usang.

Beruntung Kolonel (Pur) FX Soepardi AS menjadi pelakon dalam drama penangkapan eks tentara Jepang, Teruo Nakamura, di belantara Morotai, Maluku Utara, pada pertengahan Desember 1974. Nakamura telah terjebak dalam dimensi waktu selama 30 tahun tanpa ia sadari.

Penangkapan Nakamura bermula dari ditemukannya secara tidak sengaja bekas tentara Jepang ini oleh warga lokal bernama Doya pada 1963.

Saat itu Doya berburu ke hutan bersama beberapa anjingnya. Belum sempat menemukan buruannya, ia malah melihat seorang pria berdiri di dekat gubuk di sebuah kebun dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam. Ia takut, karena pria putih itu menenteng senapan laras panjang.

Sialnya, anjing-anjingnya malah mengelilingi pria itu sambil menggonggong. Tidak mau ambil risiko, Doya memanggil anjingnya dan secepatnya pergi dari tempat itu.

Doya betul-betul takut, karena sebagai penduduk asli Morotai, sejak kecil ia sudah mendengar dongeng leluhurnya tentang keberadaan makhluk halus di belantara Morotai yang disebut Orang Moro.

Gubuk yang dijadikan tempat tinggal Nakamura selama puluhan tahun di hutan. Foto: dok. Soepardi

Ia semakin percaya karena beberapa hari kemudian memberanikan diri kembali ke tempat tersebut, namun sudah tidak menemukan kebun kecil dan orang putih yang dilihatnya.

Pengalaman ini ia pendam bertahun-tahun sampai akhirnya pada suatu hari di tahun 1972, ia ceritakan kepada temannya Gayus Tulis.

Usai mendengar cerita Doya, Gayus memintanya untuk ditunjukkan tempatnya. Mereka mengajak seorang lagi bernama Gonaga. Mereka berhasil menemukan persembunyian.

Saat ketiganya mendekati pada jarak yang aman, tiba-tiba orang misterius itu bersiul menyanyikan lagu Jepang. Benar, ini orang Jepang, bukan Orang Moro, begitu mereka bersepakat.

Temuan ini dilaporkan Gayus kepada kepala kampung, namun mengabaikannya. Seminggu kemudian Doya meninggal karena sakit.

Aparat pemerintah dan polisi juga menganggapnya membual ketika membuat laporan. Sampai ketika Gayus menceritakan peristiwa itu kepada PNS (pegawai negeri sipil) Lanud Morotai bernama Demi Iwisara.

Demi melaporkannya kepada Peltu Tonny Rahmanto dari bagian komunikasi dan elektronika Lanud Morotai, selaku atasannya.

“Berita itu oleh Peltu Tonny dilaporkan kepada saya, yang kebetulan diberi tugas sebagai pejabat sementara komandan Lanud Morotai, karena komandan Lanud Mayor (Pas) Sutadji sedang melaksanakan tugas ke Jakarta,” ujar FX Soepardi AS, alumni AAU 69 membuka kisahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s