Kenali Nakamura
Teruo Nakamura lahir di sebuah kota kecil bernama Taitung di pantai timur Taiwan pada 1919. Ayahnya keturunan Jepang sementara ibunya asli Taiwan, namun Nakamura memperoleh istri asli Taiwan bernama Li Lam Yung.
Nakamura adalah salah seorang pemuda asli Taiwan yang direkrut Jepang dalam masa Perang Dunia II untuk bergabung dengan resimen infanteri Jepang di Taiwan sebagai sukarelawan pada November 1943.
Tepatnya Januari 1944, ia dipindah ke unit gerilya. Unit gerilya ini meninggalkan Taiwan pada April 1944 sampai akhirnya mendarat di Morotai pada Juli 1944. Saat Jenderal Douglas MacArthur dan pasukannya menyerang Morotai September 1944, pasukan Jepang dipimpin oleh Mayor Kawashima dengan kekuatan 2.500 personel.
Dari pertempuran itu, sekitar 1.700 tentara Jepang tewas dan 800 sisanya menyerah atau meninggal karena sakit. Sementara 10 prajurit memisahkan diri dan tidak mau menyerah.
Mereka memilih lari ke dalam hutan. Dari 10 orang itulah, salah satunya Nakamura. Entah kenapa, Nakamura akhirnya terpisah dari sembilan temannya. Tahun 1956, kesembilan prajurit Jepang ini yang terdiri dari enam orang berasal dari Taiwan dan tiga orang berkewarganegaraan Jepang, ditemukan di Morotai dan menyerahkan diri kepada pangkalan AURI Morotai.
Mereka dikembalikan ke negaranya masing-masing oleh Pemerintah RI. Adapun Nakamura, memilih tetap bersembunyi di dalam hutan Morotai. Karena terpisah, ia tidak tahu kalau teman-temannya sudah kembali ke negaranya.
Perburuan
Bergerak cepat, Soepardi memanggil kedua informan tadi untuk mengonfirmasi laporannya. Soepardi meminta keduanya membuktikan sekali lagi kebenaran laporannya, mengingat sudah satu tahun berlalu sejak mereka melihatnya.
Sebelum kembali berangkat ke hutan, Gayus dan Gonaga sempat bertemu dengan rombongan Jenderal (Pur) Kawashima, mantan komandan tentara Jepang di Morotai. Kedatangan jenderal ini dalam rangka mencari dan mengumpulkan kerangka tentara Jepang yang gugur melawan Sekutu. Anehnya ketika Gayus menceritakan penemuannya, Kawashima menganggapnya ngoceh.

Peralatan masak dan makan Nakamura yang berhasil didokumentasikan. Foto: dok. Soepardi
Kesaksian terakhir inilah yang dijadikan laporan oleh Soepardi begitu komandannya tiba dari Jakarta. Sebelum mengambil tindakan, komandan berkoordinasi dengan pejabat di Morotai, baik sipil dan militer.
Mengingat kebenaran laporan diragukan aparat lainnya, komandan hanya menerbitkan surat perintah melaksanakan operasi hanya kepada personel Lanud Morotai serta kepada Gayus dan Gonaga.
Maka terbitlah Surat Perintah Komandan Lanud Morotai NR: SPRIN/37/XII/74 tanggal 16 Desember 1974 tentang Pencarian, Penangkapan, Penyelidikan, dan membawa prajurit Jepang masa PD II yang bersembunyi di hutan ke Lanud Morotai.
Komandan mengamini susunan tim beranggotakan 11 orang yang diusulkan Soepardi, yaitu Lettu (KU) Soepardi AS, Serma A. Anthony, Serma W. Salibana, Serka Jahman, Sertu M. Najoan, Sertu A. Tamar, Serda Sulasdi, Koptu Ponto, M. Manjopo (PNS) serta Gayus dan Gonaga.
Tepatnya 17 Desember 1974 pukul 03.00 WIT, tim kecil ini berangkat ke pantai untuk menuju Kampung Pilowo. Sedikit rintangan menghambat, karena pagi itu air laut sedang surut cukup jauh dari pantai sehingga perahu motor yang digunakan kandas jauh dari laut.
“Untuk mengatasinya, dengan terpaksa kami gunakan perahu motor milik warga yang kebetulan ada di air,†kata Soepardi. Sekitar dua jam kemudian, mereka tiba di Kampung Pilowo.
Agar tidak mengusik ketenangan warga di pagi hari itu, tim berjalan sesenyap mungkin. Pukul 06.00, tim sampai di pinggir hutan dan menemukan tiga rumah penduduk yang dihuni pendatang Bugis. Di sini mereka beristirahat.
Tak lama setelah meninggakan kampung Bugis, perjalanan mulai terasa sulit. Semak belukar menghadang perjalanan, medannya naik turun dan melalui sungai yang tidak begitu lebar namun cukup dalam.
Anggota yang diserahi tugas membawa kamera mengalami gangguan, sehingga kamera yang dibawa terbenam air. Menjelang siang, setelah melewati perjalanan cukup berat, Soepardi kembali meminta tim beristirahat. Ia memilih sebuah batu sangat besar, yang oleh orang Morotai disebut Mesel-Mesel.
Sambil istirahat, kamera yang basah coba dibersihkan. “Kamipun berfoto di atas batu itu,†kenang Soepardi. Setelah beristirahat dan memberikan motivasi kepada anggotanya, Soepardi kembali memimpin perjalanan yang semakin sulit.
Medannya semakin perawan, ditambah banyaknya ditemukan ular baik di ranting pohon di atas kepala atau berseliweran di tanah.