Bak Kisah Dongeng, 30 Tahun di Hutan Morotai, Eks Tentara Jepang Ini Tetap Sehat

0

Beberapa anggota terpaksa menggunakan golok untuk menebas ular-ular yang sedikit mengganggu, terutama ular berkaki empat yang sebetulnya adalah kadal ular (Lygosoma quadrupes).

Tantangan berikutnya adalah mendaki bukit berbatu dan licin oleh lumut dan air. Untuk kedua kalinya anggota yang membawa kamera kembali terpeleset sehingga kamera yang dibawanya terbentur batu dan kembali kemasukan air.

Apa boleh buat, sejak itu kameranya mati total. Perjalanan melewati medan naik turun membuat stamina anggota melorot. Lebih-lebih di ketinggian itu sudah tidak terlihat sumber air, sementara persediaan yang dibawa mulai menipis.

Anggota yang kehausan mencoba mendapatkan air dari akar pohon yang mencuat ke atas atau dari rotan yang dipotong. Soepardi memaklumi beberapa anggotanya yang sudah kelelahan, karena mereka bukan berasal dari korps pasukan yang sudah dibekali latihan berat.

Mereka adalah staf yang sehari-harinya melakukan pekerjaan kantor. Namun seberat apapun perjalanan pasti ada ujungnya.

Akhirnya tim sampai di tempat tertinggi di Gunung Galoka dan langsung beristirahat. Jam di tangan menunjukkan pukul 16.00. Setelah meneruskan perjalanan, sekitar pukul 17.05 mereka sampai di sebuah lembah yang tampak tenang, aman, dan tersembunyi.

“Di tempat itulah kami berhenti untuk mengatur siasat, karena tempat itu sudah dekat dengan persembunyian Nakamura,” kata Soepardi.

Ia lalu memerintahkan empat orang mengintai sasaran. Dua jam kemudian keempat anggotanya kembali dan melaporkan bahwa target ada di sasaran.

Soepardi memerintahkan, mulai saat itu tidak seorangpun boleh menyalakan api atau merokok dan berbicara dengan nada tinggi. Soepardi menekankan sekali lagi untuk menghindari konfrontasi dan dapat membawanya dengan selamat ke Lanud.

Nakamura (kelima dari kiri) tiba di Lanud Halim. Soepardi mendampingi (keempat dari kanan pakai kacamata hitam). Foto: dok. Soepardi

Timbul di pikirannya untuk menyanyikan lagu kebangsaan Jepang dan lagu angkatan perang Jepang. Ide ini ia sampaikan kepada tim. Ia tahu di antara anggota tim ada yang bisa berbahasa Jepang yaitu Serma Anthony dan yang lainnya juga bisa meski sepotong-sepotong.

Dengan tetap menjaga kerahasiaan, merekapun mulai berlatih vokal grup dadakan lagu-lagu Jepang. Lalu ia tunjuk tiga orang membawa bendera yaitu Merah Putih, bendera Jepang, dan bendera putih yang sudah disiapkan.

Ketiga orang itu adalah Serma Anthony membawa Merah Putih, Serda Nayoan membawa bendera Jepang, dan Gayus membawa bendera putih.

Pukul 04.00, semua anggota sudah siap makan pagi. Pukul 05.00 melaksanakan apel pagi sekaligus dalam rangka pengecekan kelengkapan perorangan, khususnya senjata dan amunisi. Sebelum berangkat, mereka berdoa.

Kurang lebih dua jam perjalanan, tibalah mereka di sebuah ketinggian, sekitar 300 meter dari sasaran. Sambil menarik napas akibat pendakian, sebagai komandan tim Soepardi melihat dan mempelajari situasi di sekitar.

Pada saat itulah ia mendengar suara keras menyerupai babi hutan dan burung bersahutan. Setelah diperhatikan, suara tersebut bersumber dari seseorang tanpa busana sedang memotong bambu.

Rupanya ini taktiknya agar tidak diketahui orang lain bahwa ada orang sedang memotong benda, akan tetapi tersamar dengan suara-suara menyerupai binatang. Terlihat sekali orang misterius itu sudah sangat menyatu dengan alam, layaknya Tarzan di komik.

Setelah mengatur anggotanya menjadi tiga kelompok, tepat pukul 08.00, kelompok pertama mulai menyanyikan lagu Kimigayo.

Dengan spontan, tangan kiri Nakamura langsung memegang kemaluannya karena telanjang, sedang tangan kanannya memegang parang dengan sikap sempurna, menghadap bendera yang dibawa kelompok pertama yang sedang menyanyikan lagu.

Selesai menyanyikan Kimigayo dilanjutkan lagu Mioto Okaino yang merupakan lagu angkatan perang Jepang. Belum selesai lagu dinyanyikan, orang itu kelihatan tegang dan menunjukkan sikap marah.

Sambil berlari kecil orang itu mengayunkan parangnya, berusaha menuju gubuknya. Kurang lebih lima meter dari gubuknya, semua pasukan serentak berteriak, “angkat tangan!”

Nakamura langsung mengambil sikap menyerang ke arah tim yang mengelilinginya. Serma Anthony yang paling dekat dengannya cepat memeluk, sedang yang lain merampas parangnya. Untuk menurunkan emosinya, mereka beramai-ramai mengangkatnya tinggi-tinggi dan diturunkan kembali, hal ini dilakukan berulang ulang.

Setelah melunak, Soepardi melalui penerjemah Serma Anthony, menanyakan namanya yang dijawabnya Nakamura. Kemudian ia menanyakan, apakah tentara Sekutu masih ada?

Anggota tim meyakinkan kepadanya bahwa tentara Sekutu sudah tidak ada, yang ada Indonesia Merdeka, sambil memperlihatkan foto Presiden Soeharto dan foto Jenderal Kawashina, bekas komandan Jepang di Morotai, yang sebulan sebelumnya berkunjung ke Morotai.

Nakamura masih ingat, wajah di foto itu adalah bekas komandan kompinya semasa perang yang saat itu berpangkat mayor. Air matanya mengucur. Soepardi kembali bertanya, apakah ia mempunyai senjata, yang dijawab punya, di dalam gubuk. Senjata itu kemudian diambil. Tim dibuat kagum karena senjata itu masih terawat dan berfungsi dengan baik.

Larasnya sangat bersih, menandakan selalu dibersihkan dengan minyak babi hutan yang banyak tersimpan di dalam veldples. Ditemukan pula 18 butir peluru yang masih bagus.

Ketika anggota tim membawa senjata dan keluar dari gubuknya, wajah Nakamura mendidih. Ia marah tetapi tidak berdaya. Demi mendinginkan hatinya, Soepardi meminta anak buahnya menyanyikan lagu-lagu Jepang dan memberinya sebatang rokok.

Lambat laun ekspresi wajahnya melunak dan dengan suara lirih ikut menyanyikan lagu bersama tim, meskipun dengan bibir bergetar. “Kami kagum kepada Nakamura, karena kondisinya pada saat itu sangat sehat, rambutnya terpotong rapi, dan kulitnya kelihatan bersih,” ingat Soepardi.

Di samping lega dapat menangkapnya hidup-hidup tanpa perlawanan, dalam kondisi telanjang bulat, otomatis gerakan Nakamura tidak bebas.

Maka salah seorang anggota tim rela membuka celananya dan memberikannya. Celana dipakainya, meskipun pemberi celana hanya memakai celana dalam. Ini membuktikan Nakamura masih normal.

Meskipun Nakamura kooperatif, Soepardi meminta anak buahnya untuk tidak mengendurkan kewaspadaan. Sebelum meninggalkan lokasi, Nakamura meminta kami memberi hormat kepada kebun dan gubuknya.

Ketahanan fisiknya luar biasa, lebih-lebih saat rombongan menyusuri sungai dan mendaki bukit. Nakamura bahkan sering membantu anggota AURI yang kelelahan.

Pukul 20.30, rombongan tiba di sebuah kebun rakyat. Kebetulan pemilik kebun memiliki radio, dan kami berhasil menangkap gelombang radio Tokyo. Untuk pertama kali setelah 30 tahun, Nakamura mendengar siaran radio dari Negeri Matahari Terbit.

Menjelang tengah malam, Soepardi mengatur anggotanya untuk berjaga. Pada suatu saat, Nakamura tiba-tiba berteriak sambil menutup wajahnya terutama kedua matanya. Ternyata ia tidak tahan sinar terang dari lampu di dalam gubuk. Sebaliknya  dengan kondisi remang-remang, Soepardi justru curiga, apakah ini taktiknya untuk melarikan diri.

Lepas tengah malam, Soepardi mencoba memeriksa Nakamura. Didapatinya  bekas tentara Jepang itu tertidur pulas, mungkin lelah berjalan seharian. Menjelang pukul 06.00 semua sudah bangun dan bersiap sarapan pagi. Soepardi meminta Nakamura mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah atas makan pagi yang disiapkan.

Setelah apel pagi dilanjutkan doa, semua berpamitan kepada tuan rumah. Tepat pukul 07.00, mereka meningggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan menuju Kampung Pilowo.

Dua jam perjalanan ke Pilowo, di tempat itu rombongan mendapat sambutan hangat dari penduduk. Mereka mengerumuni rombongan yang membawa Nakamura.

Kolonel (Pur) F.X Soepardi. Foto: beny adrian

Kepala kampung Pilowo bergegas menyiapkan motor tempel lengkap dengan perahunya. Ketika motor bergerak dan bendera Merah Putih dan Hinomaru mulai berkibar, Nakamura meminjam teropong Soepardi.

Ia gunakan untuk melihat gunung tempat ia bersembunyi, tempat ia hidup menyendiri tanpa wanita selama 30 tahun. Keharuan tersendiri atau lebih tepat puisi hidup di dalam jiwa prajurit Jepang itu.

Perahu tiba di Daruba, ibu kota Kecamatan Morotai Selatan. Lebih banyak lagi warga menyaksikan kedatangan Nakamura. Karena kamera yang dibawa rusak, Soepardi meminjam kamera salah seorang warga untuk meliput peristiwa itu sebagai dokumentasi. Tiba-tiba badan Nakamura berkeringat dan menjadi tegang.

Rupanya karena melihat banyaknya manusia, sesuatu yang tidak pernah ia alami selama puluhan tahun. “Ia memegang erat tangan saya seolah minta perlindungan.” Dari Daruba tim berjalan menuju Lanud Morotai.

Setibanya di Lanud, rombongan disambut komandan beserta staf yang selanjutnya berdoa atas suksesnya operasi. Komandan mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh tim atas keberhasilan yang diperoleh, sesuai perintah yang diberikan, yakni menangkap Nakamura dalam keadaan hidup.

Nakamura dibawa ke mess perwira. Ia masih diliputi rasa ketakutan adanya hukuman atau pembunuhan atas dirinya. Ia juga terlihat masih belum nyaman dengan banyaknya orang di sekitarnya.

Untuk sementara Nakamura tinggal di Morotai bersama keluarga Soepardi. Selama itu, Nakamura tidak mau tinggal diam. Ia selalu mencari kesibukan, antara lain mencabut rumput di halaman sampai bersih dan membelah kayu bakar.

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply