KF-21/IF-X Boramae, Momentum Raih Teknologi 5th Gen Fighter yang Tak Ternilai Bagi Indonesia

0

MYLESAT.COM – Lengkap sudah. Kedua penerbang uji TNI AU yang membawa nama Indonesia dalam program pesawat tempur generasi 4,5 KF-21/IF-X Boramae di Korea Selatan, sukses menerbangkan prototipe pesawat meski baru sebatas sebagai backseater (kursi belakang) untuk melakukan observasi.

Baca Juga: 

Kolonel Pnb Muhammad “Mammoth” Sugiyanto berhasil menerbangkan KF-21/IF-X Boramae pada Selasa, 16 Mei 2023. Bertindak sebagai backseater, Kolonel Sugiyanto menerbangkan prototipe Nomor 4 yang merupakan versi kursi ganda (tandem) Boramae di Pangkalan Udara Sacheon, Korsel.

Kolonel Pnb Muhammad “Mammoth” Sugiyanto bersama penerbang uji Jim Tae Bom dari KAI usai penerbangan prototipe Nomor 4. Foto: KAI

Penerbangan selama hampir satu jam itu dipimpin oleh penerbang uji KAI (Korea Aerospace Industries) Jim Tae Bom. Persisnya penerbangan berlangsung pada pukul 10.35 hingga 11.34 waktu setempat di Area South of Sacheon AFB.

Tujuh belas hari kemudian, 2 Juni 2023, kesempatan itu kembali diperoleh penerbang uji TNI AU. Kali ini Letkol Pnb Ferrel “Venom” Rigonald sebagai penerbang uji kedua TNI AU, ikut menerbangkan prototipe Nomor 4 KF-21/IF-X Boromae.

Pada penerbangan selama satu jam (take off 14.15 dan landing 15.15), Venom bertindak selaku backseater dari penerbang uji Park Ji Won dari KAI.

Penerbangan dimulai dengan prosedur normal. Setelah lepas landas, pesawat langsung menanjak hingga ketinggian 40.000 kaki. Penerbangan hari itu sekaligus menguji keandalan sepasang mesin kembar General Electric F414-GE-400K dengan daya dorong masing-masing 13.000 lbs (Mil Power) dan 22.000 lbs (Max Power/ Afterburner).

Selanjutnya kedua penerbang menguji kemampuan dan performa pesawat pada kecepatan Mach 0.95. Pada penerbangan uji kali ini, pesawat belum diuji untuk melewati kecepatan suara.

Pada penerbangan kali ini, Park dan Letkol Ferrel melaksanakan misi pengujian S&C/CNI (Stability and Control/ Comm, Nav & Identification). Dalam penerbangan dicoba berbagai manuver untuk menguji stabilitas pesawat, termasuk manuver push over melewati minus 2,4G. Jika penerbang tidak terlatih bisa mengalami permasalahan pada gaya gravitasi minus tersebut.

Kolonel Pnb Muhammad “Mammoth” Sugiyanto dan Letkol Pnb Ferrel “Venom” Rigonald merupakan penerbang uji TNI AU yang bertanggung jawab dalam program uji coba pesawat KF-21/IF-X Boramae. Pesawat ini awalnya dikembangkan oleh Korea Selatan sebelum menggandeng Indonesia yang sepakat berinvestasi dalam program pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 ini.

“Kami menguji sesuai requirement TNI AU, bukan sekadar menerbangkannya saja. Karena kami test pilot yang tugasnya menguji pesawat,” kata Kolonel Pnb Sugiyanto.

KF-21/IF-X Boramae adalah pesawat tempur generasi 4,5 yang sudah didesain dengan konsep low observability.

Dengan demikian, keduanya menjadi duta bangsa Indonesia dalam upaya meraih teknologi kedirgantaraan khususnya pesawat tempur.

Joint Flight Testing

Hingga saat ini, kedua penerbang uji TNI AU masih bertindak sebagai backseater. Keputusan KAI bisa dipahami sebagai bentuk prerogatif Korea sebagai pemilik program KFX/IFX.

Seperti diketahui, test flight adalah sebuah fase paling kritis untuk pesawat yang sama sekali baru seperti Boramae. Kita berharap pada kesempatan selanjutnya, kedua duta bangsa ini menjadi penerbang utama (front seater) dalam pengujian.

Kolonel Sugiyanto sebagai penerbang Indonesia pertama yang membawa Boramae, mengakui bahwa pilot uji KAI yang menerbangkan pesawat bersamanya adalah penerbang hebat. “Jim Tae Bom dari KAI merupakan mantan penerbang ROKAF (AU Korea), beliau pilot uji senior KAI yang dulu juga terlibat dalam program T-50,” jelas Kolonel Pnb Sugiyanto.

Ditambahkan Sugiyanto, para pilot uji KAI sudah sangat berpengalaman dalam melakukan penerbangan prototipe. Begitu juga Sugiyanto dan Ferrel, sudah memiliki pengalaman saat menerbangkan prototipe N219 di PT Dirgantara Indonesia.

“Saya prefer dengan KAI karena mereka berpengalaman dan pernah melaksanakan pengujian T-50, dan kami juga pernah melaksanakan test flight N-219, walau bukan pesawat tempur,” ucap Sugiyanto. Dijelaskan Sugiyanto bahwa tidak ada kriteria istimewa dalam pemilihan penerbang di antara mereka berdua. Kebetulan sekali Ferrel adalah yuniornya.

“Perasaan saya excited karena kita sudah menunggu momen ini, saat terpilih dan kemudian on seat. Kami sebelumnya sudah melaksanakan berbagai macam persiapan, pun sudah satu tahun di sini sejak Mei 2022, kami pada akhirnya bisa terbang walapun masih rear seat,” beber Sugiyanto.

Pengujian KF-21/IF-X dilaksanakan secara simultan untuk dua versi yaitu single seat dan double seat. Dari total enam prototipe yang akan dibuat KAI, dibagi ke dalam dua versi tersebut. Prototipe 1, 2, 3, dan 5 adalah versi single seat. Sedangkan Prototipe 4 dan 6 adalah double seat. Prototipe 5 kelak akan diserahkan kepada Indonesia.

Sementara Letkol Ferrel mengatakan bahwa dua kali misi uji coba yang dijalani penerbang TNI AU ini adalah sebuah milestone dan pengakuan bagi Indonesia. “Ini merupakan langkah awal pengakuan bahwa Indonesia ikut mengembangkan pesawat ini, kita benar-benar menjadi bagian integral program ini terutama dalam flight test,” ungkap Ferrel.

Kedua penerbang berharap mendapatkan kesempatan untuk menerbangkan prototipe, dalam arti duduk sebagai penerbang utama. Karena sesuai amanah perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan, penerbang uji Indonesia juga akan melaksanakan tugasnya sebagai front seater.

“Karena penerbang front seat itu yang aktif dan mengendalikan pesawat,” tegas Ferrel.

Hingga saat ini, pesawat KF-21/IF-X Boramae sudah menunjukkan performa sangat baik sesuai harapan. Baik Kolonel Pnb Sugiyanto maupun Letkol Pnb Ferrel mengatakan bahwa jika pun ada kekurangan, masih dalam skala kewajaran untuk sebuah pesawat yang baru dikembangkan.

“Saya bilang performanya baik dan kalaupun ada kekurangan, wajar saja dalam tahap penyempurnaan sampai fase akhir. Kokpit ergonomis, sistem luar biasa, ini beyond F-16 dan teknologinya jauh lebih advanced,” tutur Sugiyanto.

Pun Letkol Ferrel mengatakan senada. “Melihat hasil testing selama ini, bisa dikatakan performance pesawat tidak jauh dari prediksi. Memang ada ketidaksesuaian dan itu wajar dalam pengembangan. Menurut saya ini bagus karena semua ekspektasi yang diprediksi terpenuhi dan tidak ada kekurangan signifikan, tidak ada insiden yang terjadi,” urai Ferrel.

Keikutsertaan Indonesia dalam program pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 Korea Selatan ini adalah sebuah momentum yang tidak bisa dinilai secara matematis. Tidak banyak negara memiliki kemampuan serupa. Kalaupun ada, belum tentu bisa serta-merta bersedia untuk diajak kolaborasi.

Itu sebabnya Sugiyanto dan Ferrel sepakat mengatakan bahwa keterlibatan Indonesia dalam program KF-21/IF-X Boramae adalah sebuah momentum dan kesempatan yang tidak boleh disiasiakan.

Momentum ini harus dirawat karena tidak mungkin ada pengulangan. Terlibat dalam pengembangan, pengujian hingga masuk tahap produksi massal, adalah sebuah momentum yang tidak ternilai. Karena Korea sendiri membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun sejak pengembangan T-50 menuju ke pengembangan KF-21.

KF-21/IF-X Boramae prototipe Nomor 4 usai melaksanakan uji terbang. Keikutsertaan Indonesia dalam program ini adalah momentum yang tak ternilai. Foto: KAI

Menurut Ferrel, poin tertinggi bagi Indonesia mengikuti program ini adalah memiliki kesempatan untuk melihat dan mengikuti langsung pembuatan pesawat generasi 5, yang mungkin sangat sulit mendapatkan kesempatan tersebut dari negara lain.

Kenapa generasi 5 dan bukan 4,5?

Lagi-lagi menurut Letkol Pnb Ferrel Rigonald, airframe pesawat Boramae sudah didesain dengan konsep low observability seperti halnya pesawat generasi 5. Sehingga sewaktu-waktu ada program, katakanlah internal weapon bay upgrade maka jalan ke arah itu sudah tersedia.

“Pesawat ini cukup canggih karena telah mengadopsi teknologi terkini untuk pesawat tempur. Keterlibatan PTDI dalam program ini diharapkan dapat memajukan serta mempertahankan keberlangsungan industri dirgantara kita,” kata penerbang F-5E/F Tiger II ini.

“Program ini sustainability dari pengembangan industri pesawat tempur. Ini langkah luar biasa, karena industri dirgantara kita pasti mampu melakukannya dengan dukungan semua pihak,” urai Kolonel Pnb Muhammad “Mammoth” Sugiyanto.

Kabar terakhir berhembus dari Komisi I DPR RI saat melakukan Rapat Kerja dengan Kementerian Pertahanan pada Rabu (07/06/2023).

Dalam agenda pembahasan realisasi dan evaluasi pelaksanaan APBN TA. 2022 dan pembahasan RKA TA. 2024 serta RKP Kemhan/ Mabes TNI Tahun 2024 itu, diungkap usulan Kemenhan untuk mendapatkan dukungan guna merealisasikan usulan tambahan anggaran Kemhan dan TNI TA. 2024.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan M. Herindra yang mewakili Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, masih banyak kegiatan prioritas dan mendesak yang belum terdukung anggarannya. Termasuk kebutuhan cost share proyek pesawat KF-21/IF-X Boramae yang harus segera dipenuhi.

Menjawab permintaan itu, Komisi I DPR RI akan mengagendakan rapat kerja dengan Menko Polhukam, Panglima TNI, Menkeu, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply