Ini Baru Rekor, Big Jambul B747-400 Garuda Pensiun Setelah 89.000 Jam Terbang


Luar biasa pengabdian pesawat Boeing B747-400 milik maskapai Garuda Indonesia.

Tahukah Anda, bahwa setelah beroperasi lebih dari 23 tahun, B747-400 ini mengakumulasi 89.900 jam terbang dan 15.512 flight cycle. Sebuah prestasi membanggakan bagi segenap keluarga besar Garuda.

B747-400 milik Garuda Indonesia akhirnya dipensiunkan setelah menuntaskan misi terakhirnya mengantar pulang jemaah haji Indonesia.

Pesawat terakhir dari armada tiga B747-400 dengan registrasi PK-GSH ini tiba di Jakarta pada 6 Oktober 2017 setelah melakukan operasi terakhirnya untuk penerbangan haji tahun 2017/1438H dengan rute Madinah-Makassar-Jakarta.

“Pesawat Boeing 747 telah memainkan peran sangat penting dalam perjalanan Garuda Indonesia. Banyak kontribusi yang sudah diberikannya selama lebih dari 23 tahun, sehingga pesawat ini selayaknya dipensiunkan dengan cara yang khusus,” kata Pahala N. Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia pada acara “Farewell Boeing 747-400 dan Syukuran Penerbangan Haji” di Hanggar 4 GMF AeroAsia, Tangerang, Senin (9/10/2017).

Boeing 747-400 merupakan pesawat legendaris yang mulai memperkuat armada Garuda pada Januari 1994.

Perpisahan mengharukan dengan B747-400, setelah terbang selama 23 tahun tanpa kecelakaan fatal di Garuda. Foto: reni rohmawati.

Tepatnya 26 Januari, pesawat jumbojet registrasi PK-GSG hadir dan menjadi kado istimewa. Saat itu Garuda menetapkan hari jadinya ke-45.  Beberapa bulan kemudian, pesawat kedua registrasi PK-GSH tiba di Jakarta.

Pesawat ketiga registrasi PK-GSI didatangkan Garuda dan merupakan pesawat sewa, beda dengan dua pendahulunya yang dibeli Garuda.

Setelah masa sewanya berakhir, PK-GSI dikembalikan, sementara PK-GSG dipensiunkan beberapa tahun lalu dan sekarang bodinya terparkir di GMF.

Berakhirnya masa kerja B747-400, kata Pahala, merupakan bagian dari program revitalisasi armada Garuda dalam menanggapi ekspektasi dan kebutuhan pasar.

“Saat ini kami mengoperasikan pesawat berbadan lebar B777-300ER dan A330-300/200 yang lebih hemat bahan bakar, hemat biaya, lebih andal serta memberikan pengalaman penerbangan jarak jauh yang lebih nyaman,” tuturnya.

Dari seluruh armadanya, termasuk juga B777-300ER dan A330-300/200, B747-400 merupakan pesawat berbadan terbesar.

Pesawat ini berkapasitas 428 kursi penumpang; 42 kursi kelas eksekutif dan 386 kursi kelas ekonomi, serta AVOD (audio and video on demand) yang hanya tersedia di kelas eksekutif.

Pesawat yang dijuluki “Queen of the Skies” ini melayani rute-rute penerbangan internasional dan domestik. Hampir seluruh destinasi internasional Garuda pernah diterbanginya.

Antara lain Amsterdam, London, Frankfurt, Munchen, Zurich, Paris, Madrid, Vienna, Tokyo Narita, Nagoya, Osaka, Seoul, Beijing, Shanghai, Hongkong, Taipei, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur Jeddah, Riyadh, Dammam, Madinah,  Abu Dhabi, Kairo, Melbourne, Sydney, Brisbane, dan Perth.

Boeing 747-400 ini juga sangat bermanfaat untuk penerbangan haji dan umroh serta carter.

Untuk penerbangan domestik destinasi seperti Ujung Pandang, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, Balikpapan, Banda Aceh, dan Jakarta, sudah diterbangnya.

B747-400 juga digunakan sebagai pesawat “sapujagat” pada penerbangan domestik jika terjadi kegagalan sistemik, seperti terjadi volcanic ash.

Chief Boeing 747-400 Capt Rudy Agustijansjah merasa bangga pernah menerbangkan pesawat yang dijulukinya “Big Jambul” karena memiliki jambul atau punuk di badannya itu.

“Pesawat ini selama beroperasi belum pernah mengalami kecelakaan atau insiden fatal. Tampilannya anggun dan saya bangga menerbangkannya,” ungkapnya. Dia pula yang menerbangkan PK-GSH dalam penerbangan terakhirnya pada 6 Oktober lalu itu.

Menurut Capt Rudy, B747-400 pernah membawa Presiden Gus Dur dalam kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat tahun 2000. Pengalamannya yang berkesan dalam menerbangkan pesawat ini adalah ketika khusus menjemput jenazah almarhumah Ainun Habibie.

“Kami terbang selama 27 jam dan hanya istirahat dua jam di Munich, Jerman,” tuturnya. Untuk penerbangan khusus itu, pesawat terbang nonstop kurang lebih 13 jam dari Munich ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Maka layaklah B747-400 dipensiunkan secara khusus, bahkan dalam acara tersebut hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Setelah menyaksikan prosesi pensiunnya, para menteri beserta rombongan kemudian melihat kabin yang terakhir digunakan. Hadir pula mantan-mantan pilot Boeing 747-400 antara lain, Capt Dharmadi yang pernah menjadi Direktur Utama AirAsia Indonesia, juga Capt Christian Bisara, yang 12 tahun menjadi inspector pesawat tersebut.

Tak ketinggalan para pilot yang masih aktif hadir bersama istri dan keluarganya.

“Sampai saat ini, ada 16 captain pilot dan enam kopilot Boeing 747-400 di Garuda,” ucap Capt Rudy, yang bersama kru lainnya merasakan keharuan melepas “Big Jambul” yang gagah dan anggun itu.

 

Teks: reni rohmawati

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: