RST Dr. Soepraoen, Rumah Sakit Bersejarah Bagi Warga Malang Termasuk Panglima TNI

Sebagai warga Malang yang sekarang menjadi Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan rasa bangga dan hormatnya kepada seluruh dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas di Rumah Sakit Tentara (RST) Tingkat II Dr. Soepraoen di Malang, Jawa Timur.

“Rumah sakit yang  sangat bersejarah bagi saya. Karena dulu kalau dirujuk dari RSAU (Rumah Sakit Angkatan Udara), kalau masuk sini agak ngeri-ngeri dikit, karena masih zaman old. Dokternya sangat pelit untuk tersenyum,” kenang Hadi yang membuat para dokter dan tenaga kesehatan tertawa.

“Saya yakin dokter zaman now tidak seperti itu lagi, sudah lebih banyak senyum,” celetuk Panglima TNI. Siang itu, Sabtu (24/2/2018), RST Dr. Soepraeon memang masuk ke dalam agenda kunjungan kerja Panglima TNI dan Ketum Dharma Pertiwi Nanny Hadi Tjahjanto di wilayah Malang.

Nama rumah sakit ini diambil dari Mayor Dr. Soepraoen, yang merupakan perwira kesehatan yang gugur sebagai korban pertama dari kesehatan Angkatan Darat dalam Perang Kemerdekaan di daerah Jawa Timur.

Soepraoen gugur pada 2 Januari 1946 di Balung Bendo, Sidoarjo, Jawa Timur. RST Dr. Soepraoen saat ini dipimpin oleh Kolonel Ckm Dr. Sebastian Augustinus Budijono.

Mayor Dr. Soepraeon, gugur pada 2 Januari 1946. Foto: beny adrian

Di hadapan para dokter dan tenaga kesehatan RST Dr. Soepraoen, Marsekal Hadi menyampaikan harapannya agar pelayanan RST Dr. Soepraoen selaras dengan kebijakan Panglima TNI yaitu menyejahterakan prajurit.

“Menjamin kesehatan prajurit beserta keluarganya, karena sejahtera itu tidak selalu harus dalam arti memiliki uang banyak,” jelas Hadi.

“Saya harapkan pelayanan di sini terus ditingkatkan, kalau kurang alat sampaikan karena sudah ada anggarannya. Pemerintah sudah memikirkan untuk kesejahteraan prajurit,” tegas Hadi lagi.

Itu sebabnya, Hadi menegaskan kepada segenap personel yang berdinas di RST Dr. Soepraoen untuk tidak pilih pangkat dalam melayani prajurit. Kata Hadi pula, penyakit tidak kenal pangkat sehingga kalau yang datang prajurit satu, jangan abaikan.

“Kalau memang harus dilayani, layani segera. Zaman dulu, pratu yang datang ditoleh saja tidak, kalau yang datang seorang kolonel langsung dilayani,” jelasnya yang lebih senang jika ada laporan prajurit diperhatikan dan dilayani dengan baik.

Hal itu dicek langsung oleh Panglima TNI dengan mengunjungi ruang rawat inap dan menemui langsung pasien dari keluarga besar TNI.

“Gimana, dokternya ramah nggak, kalau dipanggil segera datang nggak,” tanya Panglima TNI kepada Kopda Petrus dari Yonif Mekanis 512. Petrus yang berasal dari Biak, tengah menunggu istrinya yang dirawat.

Panglima TNI kemudian juga membezuk salah seorang anggota TNI yang dirawat karena penyakit jantung.

Panglima TNI juga menyampaikan ungkapan bangga dari Presiden Jokowi yang memuji kerja Satgaskes TNI di Asmat, Papua. Saat itu, RST Dr. Soepraoen mengirimkan dua dokter spesialis kandungan.

Hadi yang mengaku dipanggil khusus oleh Jokowi untuk menyampaikan apresiasi ini, menirukan ucapan Jokowi yang mengatakan: “Kalau TNI sudah datang, pasti semuanya bisa diatasi.” Terkait kondisi di Asmat yang sudah berhasil diatasi itu, Panglima TNI memerintahkan kepada Pusdik di lingkungan TNI untuk mengirimkan dokter-dokter muda ke Asmat.

Masih terkait dokter TNI, Marsekal Hadi mengungkap salah satu kebijakannya untuk memberikan kesempatan kepada Wanita TNI spesialisasi dokter untuk bisa mengikuti Sesko TNI. Karena, urai Hadi, jabatan struktural yang bisa diduduki tenaga ahli hanya dua yaitu dokter dan sarjana hukum.

“Tahun depan sudah harus ada dokter yang dikirim ke Sesko TNI dan berikutnya Lemhanas,” harap Hadi.

Penuh kenangan 

Kenangan Hadi memang banyak di RST Dr. Soepraoen. Bahkan dari dulu sampai sekarang, orang tuanya masih berobat ke rumah sakit seluas delapan hektar ini.

Panglima TNI meninjau Paviliun Anggrek, tempat orang tuanya dulu dirawat. Foto: beny adrian

Salah satu kenangan Hadi adalah ketika ibundanya Nursa’adah mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan mengalami gegar otak. Karena kondisinya cukup parah, Ibu Nursa’adah pun dilarikan ke RST Dr. Soepraoen.

Pada saat itu, Kapten Pnb Hadi Tjahjanto belum seminggu menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk mengikuti SIP (Sekolah Instruktur Penerbang).

“Pak mohon maaf, jangan kaget. Ibu nabrak pohon, sekarang sudah bisa ditangani dan harus masuk Soepraoen. Tangan patah, gegar otak,” jelas seorang personel yang memberikan laporan.

Di antara kaget dan rasa cemas, Hadi pun melaporkan kondisi orang tuanya kepada komandan Letkol Pnb Lambert Silooy. Ia bersyukur, karena komandannya yang baik hati itu mengizinkannya pergi ke Malang, bahkan sampai cuti sebulan.

Selama satu bulan itu, Hadi istrinya Nanny, bergantian menunggui ibundanya di Paviliun Anggrek. Dalam kunjungannya ini, Panglima TNI dan Ibu Nanny melihat kembali Paviliun Anggrek yang pernah diinapinya selama satu bulan.

Hadi kembali down saat anak bungsunya Handika Relangga Bima Yogatama, juga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah di empat bagian.

Bima yang sekarang tengah mengikuti Sekolah Penerbang TNI AU di Yogyakarta, juga di rawat di RST Dr. Soepraoen.

“Jadi saya pribadi sangat merasakan pelayanan di rumah sakit ini,” aku Hadi. “Karena itu saya akan memberikan perhatian khusus kepada RST Dr. Soepraoen guna meningkatkan fasilitas dan pelayanan di RST ini,” ungkap Panglima TNI.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: