Harimau Sudah Mengaum, Medium Tank Pindad yang Siap Gantikan 400 AMX-13 TNI AD

Presiden Joko Widodo direncanakan akan meresmikan nama Harimau untuk medium tank yang dikembangkan PT Pindad bersama FNSS (FN Savunma Sistemleri) dari Turki. Nama Harimau dipilih sangat tepat.

Baik untuk mewakili kekuatan, kelincahan, dan daya jelajah, namun juga (sepertinya) sebagai bagian dari kampanye perlindungan hewan yang populasinya semakin terjepit itu.

“Kenapa Harimau? Karena kemampuan harimau menyergap dan mobilitasnya tinggi. Kemampuan gerak dan manuvernya lincah sekali,” ungkap Agus Edi selaku GM Kendaraan Khusus Pindad.

Medium tank Harimau ditampilkan dalam pameran Indo Defence 2018 yang berlangsung dari 7-10 November 2018 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta.

Lalu mengapa Indonesia, dalam hal ini TNI AD membutuhkan medium tank? Karena TNI AD toh sudah mengoperasikan MBT Leopard 2A4+ dan 2RI.

Belum ada kepastian berapa unit Harimau yang akan dipesan TNI AD. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pertama, sudah terbukti bahwa tidak semua pertempuran bisa didatangi oleh monster perang darat MBT. Baik karena skala pertempurannya, medannya sulit dimasuki MBT, dan yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana memindahkannya.

Ukuran MBT yang besar dan otomatis berat, menjadi kendala bagi negara yang tidak memiliki infrastruktur memadai serta pesawat atau kapal angkut yang bisa membawanya.

Singkat kata, peran inilah di antaranya yang ingin diisi oleh medium tank seperti Harimau.

Tank medium memiliki daya lindung yang mampu menahan gempuran kanon tembak cepat. Sementara kanon kaliber besar yang diusungnya mampu menciutkan mental lawan, dan bila perlu melayani MBT.

Jika ditelusuri ke belakang, kerja sama Pindad dan FNSS sudah diikat dalam sebuah MoU (Memorandum of Understanding) yang diteken tahun 2010.

MoU ini memungkinkan kedua pihak untuk mengembangkan medium tank. Keputusan membangun medium tank diputuskan pada 2014 setelah melalui serangkaian diskusi.

Harimau akan menjadi pendamping MBT Leopard yang sudah dioperasikan TNI AD. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Di dalam negeri, tiga pilar menjadi pelaku pengembangan medium tank. Yaitu Balitbang Kementerian Pertahanan, Pindad, dan Pussenkav TNI AD.

Balitbang yang membuat konsep perencanaan berdasarkan desain dari Pindad. Pindad menjadi pusat desain hull, mesin, transmisi dan sistem penggerak, pemilihan senjata dan kubah serta alat komunikasi dan manajemen pertempuran.

Adapun Pussenkav mengumpulkan analisa dari pengguna di TNI AD.

Dari hasil analisa tim perumus, diputuskan medium tank TNI AD ini harus memenuhi tiga syarat utama yaitu mesin belakang, kanon 105mm, dan hull terproteksi dengan baik.

Tank medium juga harus dilengkapi APU (Auxiliary Power Unit). Catu daya listrik ini difungsikan untuk mengoperasikan kubah dan sistem kendali penembakan saat mesin utama dimatikan.

Dalam situasi seperti itu, pasukan bisa melakukan penembakan dalam kondisi aman karena tidak terdeteksi musuh.

Juga disyaratkan tank medium ini mengadopsi sistem kubah dua awak dan sistem elektrik. Karena disyaratkan kanon 105 mm, pilihan langsung jatuh kepada CMI Cockerill 3105 kaliber 105mm NATO.

Baik Pindad maupun FNSS memiliki hak
untuk memasarkan medium tank. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Kanon ini mampu menembakkan amunisi APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot) dan seluruh amunisi 105mm standar NATO.

Semua requirement itu dipenuhi, sampai kehadiran Harimau bisa kita saksikan saat ini di pameran Indo Defence 2018 yang tengah berlangsung.

Bagi Pindad, kerja sama dengan FNSS ini memberikan banyak keuntungan. Alih teknologi rancang bangun ranpur modern adalah sesuatu yang tak ternilai.

Tentu dengan modal pengalaman ini akan memberikan peluang lebih besar kepada Pindad untuk melahirkan MBT produk anak negeri.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, tank medium Harimau dipastikan sanggup menggempur ranpur lawan, bahkan MBT lawan jika posisinya tepat.

Lalu berapa banyak medium tank yang dibutuhkan TNI AD. Memang belum ada kepastian jumlah maupun pembicaraan antara TNI dan Pindad untuk pembelian.

Namun Agus Edi mengatakan bahwa ada kebutuhan sekitar 400 tank dari TNI AD, yang tentunya mengacu kepada jumlah tank ringan AMX-13 yang jumlahnya lebih 400 unit.

Pindad meyakinkan bahwa desain Harimau memberikannya siluet lebih rendah. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pindad memang optimis dengan Harimau. Berharap besar medium tank ini akan menjadi produk andalan ke depannya. Untuk itu kapasitas produksi sudah disiapkan jika pesanan mulai datang.

Menurut Kepala Divisi Legal dan Manajemen Resiko PT Pindad, Tuning Rudiyati, kapasitas produksi Pindad untuk Harimau mencapai 50 unit per tahun.

Spesifikasi Harimau

  • Mesin: Diesel Turbocharger @750hp
  • Transmisi: otomatis
  • Posisi mesin: belakang
  • Awak: 3 (driver, gunner, komandan)
  • Kecepatan jalan raya: 70 km/ jam
  • Bobot: 30 ton
  • Meriam: CMI Cockerill 3105 kaliber 105mm NATO

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: