MYLESAT.COM – Dalam beberapa hari ini kita disuguhkan pemberitaan tentang upaya maksimal TNI dalam membantu warga yang terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera. Warga diselamatkan dan berton-ton kebutuhan pokok sudah disalurkan.
Satu hal yang luar biasa adalah, bagaimana pesawat-pesawat TNI menyalurkan dan mengirimkan bantuan kepada warga yang terisolir karena putusnya akses jalan. Titik-titik yang tidak mungkin dicapai melalui jalur darat, ditembus dengan operasi udara terkoordinir yang mengagumkan.
Setidaknya ada tiga metode pengiriman bantuan yang dilakukan TNI. Pertama, mendaratkan helikopter dan menurunkan bantuan di daerah terisolir. Teknik ini biasa disebut Helicopter Landing/ Sling Operation.
Ini adalah metode paling langsung, karena helikopter TNI (NAS-332 Super Puma, Bell 412, EC-725 Caracal, Mi-17 Hip) mendarat di lokasi aman baik itu lapangan kecil, halaman sekolah, atau helipad darurat. Dalam situasi tertentu di mana komunikasi terhambat, menyiapkan helipad menjadi persoalan sehingga awak heli harus mencari-cari sendiri titik pendaratan secara visual. Semakin terbatas bila cuaca buruk atau kabut tebal mengganggu pandangan.

Helibox siap diterjunkan dari pesawat TNI AU. Foto: Dispenau
Keuntungan metode ini selain bisa mengirimkan bantuan langsugn ke warga, heli bisa membawa korban atau warga yang membutuhkan evakuasi dan mengirimkan personel SAR atau medis secara terbatas karena faktor load.
Jika tidak ada tempat mendarat yang aman, helikopter terpaksa menggunakan sling load (menggantung muatan dari bawah helikopter).
Kedua, menerjunkan bantuan dengan teknik helibox (Helibox Drop / Low Altitude Delivery) seperti dilakukan beberapa hari yang lalu di Tapanuli Utara. Teknik ini dilakukan karena helikopter tidak bisa mendarat sehingga bantuan dikirim dengan cara menjatuhkan helibox dari ketinggian rendah.
Helibox adalah kotak logistik khusus berisi makanan, air, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan darurat. Untuk keamanan, kotak diperkuat (foam, karton tebal, kayu ringan) agar tetap utuh walau jatuh tanpa parasut. Biasanya dilepas pada ketinggian sekitar 10–30 meter ke titik jatuh yang paling aman.
Helibox juga didesain khusus sehingga menyerupai bilah baling-baling sehingga memberikan efek melayang saat jatuh. Kotak akan berputar sehingga kecepatan jatuh melambat dan risiko benturan saat mendarat dapat diminimalkan.
Teknik helibox jauh lebih mudah dan murah karena tidak membutuhkan parasut. Hanya saja karena ukurannya yang kecil, kotak-kotak ini tidak bisa dimuati bantuan dalam volume yang besar.
Ketiga, pengiriman bantuan menggunakan teknik airdrop LCLA (Low Cost Low Altitude). Metode ini jauh lebih rumit namun memberikan dampak yang luar biasa bagi warga karena bantuan yang dijatuhkan berjumlah besar (ton). Metode LCLA ini dilakukan pesawat C-130J Super Hercules TNI AU saat mengirimkan bantuan untuk warga Palestina di Jalur Gaza.
Ya, LCLA membutuhkan pesawat transpor seperti C-130 dan CN-235.
Saat menerjunkan, pesawat terbang rendah di ketinggian sekitar 150–300 meter dan menjatuhkan paket bantuan menggunakan parasut murah khusus LCLA.
Teknik airdrop seperti ini dinilai lebih akurat daripada airdrop biasa. Pesawat bisa membawa beban lebih besar dibanding helibox dan tidak perlu mendarat.

Bundel meluncur dari pesawat saat diterjunkan di Aceh Tamiang dalam airdrop operation. Foto: Dispenau
Hanya saja airdrop seperti ini membutuhkan perhitungan angin dan lintasan yang presisi agar bantuan jatuh di tempat yang aman. Seperti di perkampungan yang sudah terendam air. Saat menerjunkan bantuan untuk warga Palestina di Gaza, tantangannya adalah bahwa dropping zone berada di pinggir laut. Salah perhitungan, kontainer bisa jatuh di laut.
Airdrop dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang. Pesawat angkut C-130J A-1340 TNI AU menerjunkan 20 bundle bantuan menggunakan payung LCLA pada Selasa (2/12/2025).
Kemampuan pesawat TNI AU dalam melaksanakan helibox dan airdrop LCLA (Low Cost Low Altitude) menunjukkan keberhasilan pembinaan latihan yang dilakukan secara berkelanjutan. Proses latihan yang intensif dan terstruktur memastikan setiap awak pesawat menguasai prosedur, teknik penerjunan, serta koordinasi antarsatuan.
Karena itu, pada saat pelaksanaan misi bantuan seperti saat ini di Sumatera, seluruh rangkaian kegiatan dapat dijalankan dengan lancar, tepat sasaran, dan tanpa kendala berarti. Hal ini membuktikan bahwa kesiapan operasional TNI AU tidak hanya bergantung pada alutsista, tetapi juga pada kualitas latihan yang terus ditingkatkan.