Simak Kisah Operasi Linud Dai Nippon di Manado, Palembang, dan Kupang

0

Perlengkapan dan pendukung

Parasut yang digunakan AD maupun AL Kekaisaran Jepang Type 01 tahun 1941 dengan garis tengah 8,5 meter, mirip parasut RZ Jerman atau D-30 Italia.

Tampaknya harness parasut Type 01 merupakan copy harness parasut Type-A Lislie Irvin buatan Inggris yang digunakan di Sekolah Para Margahayu dan Batujajar pada 1950 sampai awal 1960-an. Pada 1942, parasut Type 01 disempurnakan menjadi Type 03 dengan beberapa perubahan terutama pada harness.

Parasut cadangan buatan Jepang bergaris tengah 7,3 meter tidak ditempatkan di dada seperti parasut cadangan Type-7A yang merupakan pasangan parasut utama T-10 maupun MC1.1B milik TNI. Penempatannya di depan perut.

Para perintis terjun payung TNI AU pada 1946 seperti Legino, Amir Hamzah dan Pungut serta paratroop AU yang diterjunkan di Kota Waringin, Kalimantan, pada 17 Oktober 1947, juga menggunakan parasut peninggalan Jepang. Dapat dipastikan bahwa parasut yang digunakan Type 01, Type 03 atau campuran keduanya.

Semula senapan standar pasukan Para Jepang adalah Arisaka Type 00 dengan catridge berisi lima peluru kaliber 7,7mm yang dirancang berdasar Arisaka Miji 38. Khusus untuk pasukan Para laras Arisaka Type 00 diperpendek. Senapan Arisaka Type 2 yang muncul tahun 1942 dengan beberapa penyempurnaan menggantikan senapan standar pasukan Para itu.

Baik Arisaka Type 2 berlaras pendek untuk pasukan Para maupun laras panjang untuk infanteri dapat dipasang sangkur panjang khas Jepang berwarna chrom dengan satu mata tajam. Dalam perjuangan kemerdekaan 1945 para penjuang menyebutnya sebagai Carbine Jepang.

Kokura, sebuah industri senjata AD, memproduksi senapan otomatk Type 100 Model 1940 dengan popor lipat untuk Pasukan Para dan senapan berpopor biasa untuk infanteri.

Kedua jenis senapan otomatik itu dapat dipasang sangkur, sedangkan senapan untuk infanteri dipasang bipods. Senapan otomatik Type 2 untuk Pasukan Para itu diproduksi sebanyak 7.500 pucuk. Tampaknya senapan otomatik itu kurang berhasil, sehingga AD Jepang membeli senapan otomatik Schmeisser MP40 dengan magasen berisi 32 peluru kaliber 9mm parabelum yang merupakan senjata standar Fallschirmjager Jerman.

Penggunaan MP40 oleh Brigade Para-2 AD Jepang dalam operasi linud di Palembang menunjukan hasil yang baik. Sebagai gambaran, pasukan Belanda masih menggunakan senapan otomatik MP28 yang dirancang pada 1895.

Senapan mesin ringan sebagai senapan mesin regu yang digunakan Taisho Type 11 kaliber 6,5mm rancangan Kolonel Yoshihito Taisho dan senapan mesin Arisaka Type-96 kaliber 7,7mm. Dalam operasi linud kedua jenis senapan mesin regu itu tidak dibawa terjun oleh penembaknya, tetapi diterjunkan dalam kontener.

Pasukan Para Jepang menggunakan senjata pelontar granat Type 89 yang disebut sebut juga mortir kaki, karena menggunakan landasan paha penembaknya. Bagi para pelaku perjuangan kemerdekaan 1945 tentu saja banyak yang mengenal mortir 50mm peninggalan Jepang yang disebut Kekidanto itu.

Jika penembak Kekidanto harus dalam posisi jongkok untuk menembakannya, penembak pelontar granat M 79 40mm yang muncul pertama kali dalam Perang Viet Nam atau GLM (Grenade Launcher Model) 40mm pada senapan serbu SS-1 standar TNI dapat menembakannya dalam posisi tiarap maupun terlentang.

Disebabkan pasukan Para dalam PD II hanya bersenjata ringan, pasukan elite itu rawan dalam menghadapi tank. Namun demikian pasukan Para masa kini sangat tangguh dalam menghadapi tank.

Hal itu dapat dicapai berkat kemajuan teknologi senjata panggul antitank yang dapat dibawa terjun oleh satu orang seperti Pazerfaust-3, RPG-7V dan M72A2 60mm.

Pesawat angkut yang digunakan pasukan Para AD Jepang adalah Mitsubishi Ki-57 Type 100 atau MC-20 yang diberi nama sandi Topsy oleh Sekutu. Ki-57 yang berukuran tiga perempat pesawat Dakota DC-3 itu hanya mampu mengangkut 11 Para. Di daerah tropis dekat khatulistiwa Ki-57 dapat mengangkut 12 orang.

Untuk memenuhi kebutuhan pesawat angkut, Jepang memodifikasikan pembom Mitsubishi Ki-21 Type-87 (Sally) buatan 1936 menjadi pesawat angkut berkapasitas sembilan Para. Setelah pecah PD II, Mitsubishi Ki-21 ditarik dari palagan, kemudian dimodifikasikan menjadi pesawat angkut HC-21.

Pesawat berdaya angkut sembilan orang pasukan ini digunakan dalam pendidikan Pasukan Para dan untuk mendaratkan pasukan yang melakukan serbuan udara dalam operasi khusus clandestine.

Pesawat angkut AD yang setara dengan pesawat Dakota, yaitu Nakajima L2D2 Rei Yosoh Type 00 (Tabby), tetapi penggunaanya tidak untuk penerjunan pasukan seperti pesawat Junkers Ju-52 Lufwaffe Jerman atau C-47 AS dalam PD II.

L2D2 hanya digunakan untuk mengangkut senjata dan perbekalan di kawasan Pasifik. AD juga memiliki pesawat angkut Mitsubishi Ki-59 TK-3 (Theresa) dan pesawat DC-2 (Tess) yang dibeli dari AS.

Pasawat yang digunakan AL untuk penerjunan pasukan Para dan angkut perbekalan adalah Mitsubishi G3M Type 96 (Nell), sedangkan Mitsubishi G4M adalah pesawat pembom torpedo yang dapat juga digunakan sebagai pesawat angkut perbekalan dengan jangkauan 2.620 mil.

Nippon Aircraft Industry memproduksi pesawat Lockheed Lodstar atau lebih dikenal sebagai pesawat pembom ringan Hudson yang dibuat di Jepang atas perizinan, kemudian dimodifikasi menjadi pesawat angkut Pasukan Para dan pesawat angkut perbekalan dengan nama Ki-56 Kai. Namun demikian dalam operasi linud di Manado maupun di Kupang, AL hanya menggunakan satu jenis pesawat angkut, G3M.

Jepang terlambat dalam menggunakan pesawat glider untuk serbuan udara. Pada awal PD II jumlah pesawat glider Jepang belum mencukupi untuk mendukung serbuan udara. Ketika jumlah itu sudah cukup, keunggulan udara telah dikuasai oleh pihak Sekutu.

Penggunaan pesawat glider hanya untuk melakukan pengiriman logistik yang kebanyakan harus mendarat di medan yang sulit. Penerbang glider Jepang jarang yang dapat bertahan hidup setelah menlakukan beberapa kali pendaratan.

Untuk kepentingan pelatihan, pada 1940 Jepang membuat beberapa pesawat glider Kokusai Ku-1 yang berukuran lebih kecil jika dibanding dengan Gotha 242 Jerman. Dua tahun kemudian Jepang membuat Ku-7 yang mampu mengangkut tank ringan seberat 8 ton atau 32 pasukan.

Sebagai pesawat penarik digunakan pesawat Mitsubishi K=97 (Peggy) atau Nakajima Ki-49 (Helen) yang bertenaga besar.

Dalam perkembangan selanjutnya Ku-7 diberi mesin. Pada 1944 AD Jepang membuat ratusan Ku-8 berdaya angkut 18 pasukan, mirip DFS 230 Jerman yang digunakan di Palagan Timur. Ku-8 merupakan satu-satunya jenis pesawat glider Jepang yang dioperasikan dalam Perang Pasifik.

Seusai PD II banyak Ku-8 diketemukan dalam keadaan rusak di pulau Luzon, Filipina. AL Jepang memesan glider MXY5 berdaya angkut satu ton, tetapi tidak ada catatan tentang penggunaaannya untuk serbuan udara. Pesawat glider itu hanya digunakan untuk resupply.

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply